• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pengusaha vs “Budak Korporat”

fusilat by fusilat
February 15, 2023
in Feature
0
Pengusaha vs “Budak Korporat”

Ilustrasi: Thinkstock

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rilliandi Arindra Putawa

Jakarta – Di awal tahun 2023 publik seolah dihebohkan dengan kasus eksploitasi orang tua berkaitan dengan konten mandi lumpur di salah satu media sosial, Tiktok. Tidak cukup sampai di sana, kegiatan ini kemudian direspons oleh salah seorang pengusaha yang juga aktif di media sosial tersebut yang konon menawarkan pekerjaan kepada pembuat konten agar berhenti membuat konten yang dapat membahayakan kesehatan orang tuanya.

Bak pahlawan, pengusaha tersebut kemudian mendapat sambutan dari berbagai kalangan dengan jiwa sosialnya yang tinggi dan usahanya dalam mengubah pola pikir masyarakat, sekalipun pada akhirnya “niat baik” itu tidak mendapatkan respons baik dari yang bersangkutan (pembuat konten).

Aksi heroik yang dilakukan pengusaha tersebut pada akhirnya tidak hanya sekadar berakhir dengan diundang ke salah satu stasiun TV. Aksi itu justru memantik beberapa permasalahan yang sejauh ini tidak berkaitan dengan kegiatan “mengemis” di media sosial. Yakni, memunculkan permasalahan-permasalahan yang konon belum terselesaikan, yang berasal dari mantan karyawan dari sang pengusaha tersebut.

Banyak yang mencoba speak up terkait hak-hak beberapa mantan karyawan dari pengusaha yang juga konten kreator tersebut yang konon hingga tulisan ini dibuat belum terselesaikan. Cuitan-cuitan di media sosial tersebut kemudian mendapat dua respons yang berbeda. Banyak yang mendukung pihak mantan karyawan yang mencoba menuangkan unek-unek selama bekerja menjadi karyawan dari pengusaha tersebut, sekaligus menuntut hak mereka. Dan, tidak sedikit pula yang membela pengusaha tersebut dengan dalih, wajar apabila seorang “bos” berhak membuat aturan masing-masing atas karyawannya.

Perdebatan

Perdebatan antara kedua sisi ini nyatanya akan selalu bermunculan di media sosial, seiring dengan makin banyaknya anak-anak muda yang mencoba speak up terkait dengan kondisi lingkungan tempat kerjanya dahulu. Banyak yang akan membela karyawan, namun tidak sedikit yang akan mati-matian membela pengusaha.

Kasus yang sama juga akan kita temukan di tautan yang berkaitan dengan UU Cipta Kerja. Banyak yang mengkritik, namun tidak sedikit yang membela. Beberapa orang berburuk sangka dengan mengatakan mereka yang membela adalah buzzer pemerintah. Tidak ada salahnya berpikir demikian, namun dari sekian banyak yang membela, terselip beberapa pengusaha yang konon setuju dengan hasil kerja keras anggota legislatif kita ini.

Dari tajuknya saja kita dapat melihat bahwa peraturan ini memang ditujukan untuk mendukung gerakan-gerakan entrepreneurship yang memang sedang menjamur pada sepuluh tahun belakangan. Gerakan yang semakin besar dengan adanya seminar-seminar dari motivator-motivator ulung dan juga kegiatan-kegiatan lomba dengan hadiah berubah hibah dana dengan nominal yang tidak sedikit nilainya.

Entrepreneurship seakan menjadi konsep visioner yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Namun, gerakan ini nyatanya tidak seindah yang digaungkan oleh pihak-pihak penguasa. Ada banyak problem yang kemudian muncul dari pihak oknum entrepreneur yang problematik ini.

Seiring berjalannya waktu, gerakan ini kemudian memiliki tandingan yang tidak kalah hebohnya, yang muncul dari pergerakan akar rumput anak-anak muda yang hidupnya konon telah teralienasi oleh hiruk pikuk ibu kota. Gerakan tersebut mengusung tajuk “Budak Korporat” sebagai konsep yang menyatukan para buruh muda yang kehidupannya tergerus oleh padatnya jadwal bekerja di perusahaan sang entrepreneur.

Beberapa dari mereka ada yang hanya sekadar membagikan slip gaji dan nota pembayaran di Starbucks, tapi tidak sedikit yang mencoba menceritakan keluh kesahnya selama bekerja di perusahaan sang entrepreneur. Apa yang terjadi di awal tahun ini hanya satu dari sekian banyak curahan hati yang coba disalurkan oleh para budak korporat.

Setiap kali ada curahan hati budak korporat yang muncul di media sosial, akan selalu ada oknum entrepreneur yang muncul menjadi antagonis di cuitan tersebut. Tidak jarang ada yang menghakimi sang budak korporat sebagai sosok yang pemalas, manja, atau bahkan memiliki mental yang lembek. Terdengar familier bagi mereka yang baru saja menyelesaikan kegiatan orientasi di kampus.

Hal ini wajar saja mengingat beberapa oknum entrepreneur tersebut konon memang memiliki usia dan pengalaman yang lebih jika dibandingkan si pembuat cuitan. Tapi, tidak sedikit pula yang hanya “anak kemarin sore” dan baru memulai usahanya sekitar beberapa minggu atau beberapa bulan yang lalu. Anak-anak muda ini tidak lupa melontarkan kalimat pamungkasnya, yakni “kalau tidak mau diatur, ya jadi pengusaha.”

Kalimat tersebut kemudian menegaskan relasi kurang sehat yang terjadi di korporat-korporat kita dewasa ini; hubungan yang hanya sebatas antara yang mengatur dan yang diatur. Kalau hubungannya hanya seperti itu, tentu entrepreneurship bukanlah hal yang visioner. Karl Marx sudah sejak hampir dua abad yang lalu mengungkapkan relasi kurang sehat ini. Entrepreneur yang kemudian dikenal dengan sebutan “borjuis” dan budak korporat yang dikenal dengan sebutan “proletarian” atau “proletar”.

Terlepas dari pemikiran bahwa akan ada gerakan revolusi yang diprediksi akan dilakukan oleh budak korporat yang melawan, nyatanya Karl Marx dalam hal ini cenderung lebih visioner ketimbang para pengusung gerakan-gerakan entrepreneurship yang berfokus pada bagaimana membangun bisnis yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat, namun lupa dengan bagaimana menyelesaikan masalah internal perusahaan.

Lebih Visioner

Jika berkaca pada sejarah, nyatanya para founding father kita justru lebih visioner jika dibandingkan Karl Marx, apalagi jika dibandingkan dengan para oknum motivator entrepreneur tersebut. Pemikiran mereka jauh ke depan dalam memperhatikan relasi antara pemerintah, pengusaha, dan para pekerja dalam menjalankan roda ekonomi. Hal ini yang kemudian mendasari mereka menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa, dan bukan gerakan 1000 start up, 1000 UMKM, dan gerakan-gerakan entrepreneurship lainnya.

Koperasi tidak mengenal istilah pengatur, karena aturan pada akhirnya merupakan kesepakatan bersama antarpara budak koperasi yang sekaligus sebagai pemilik dari koperasi. Hal ini yang kemudian menjadi rapat anggota sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi pada sistem perusahaan ini. Sayangnya hingga tulisan ini dimuat, konsep ini seakan dianggap ketinggalan zaman jika dibandingkan gerakan-gerakan yang konon terhempas gelombang Covid-19 dan PPKM beberapa waktu yang lalu.

Akhir kata, perdebatan antara budak korporat dan pengusaha nyatanya akan selalu ada seiring dengan relasi pengatur dan yang diatur semakin menguat. Perdebatan tersebut akan semakin sengit jika para pegawai lepas (freelance), pegawai negeri sipil, dan abdi negara masuk ke dalamnya. Akan ada banyak cerita yang membanggakan profesinya masing-masing dan mencoba menjelekkan salah satu profesi.

Pada akhirnya akan selalu ada yang mengatur dan yang diatur. Hanya saja perlu menjadi perhatian bahwa relasi bukan menjadi yang paling ditonjolkan atau bahkan satu-satunya pada suatu institusi, tidak hanya perusahaan, namun juga institusi besar seperti negara. Makna “keluarga” pada perusahaan nyatanya harus mulai diimplementasikan dengan baik, sehingga suatu perusahaan tidak menjadi keluarga toxic yang hanya menguras mental para anggota keluarga.

Dikutip dari detik.com, Senin 13 Februari 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Vonis Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi: Kejutan Ultra Petita yang Agung

Next Post

Pantang Menyerah, Operasi Penyelamatan Masih Berlanjut 183 Jam Keajaiban Setelah gempa Türkiye

fusilat

fusilat

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
TURKEY : Gempa berkekuatan 7,8 SR porak-porandakan Turkey dan Syiria, Update 2.300 meninggal

Pantang Menyerah, Operasi Penyelamatan Masih Berlanjut 183 Jam Keajaiban Setelah gempa Türkiye

Eksplorasi dan Eksploitasi Hulu Migas

Eksplorasi dan Eksploitasi Hulu Migas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist