Fusilatnews – Sejarah kadang berputar dengan ironi. Budi Arie Setiadi, yang dulu menyalakan bara loyalitas untuk Joko Widodo lewat Projo, kini menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang pernah ia bentuk sendiri. Di jagat media sosial, perlawanan dari kalangan yang mengaku “Pro Jokowi tulen” menggelegar. Ade Armando dan kawan-kawan muncul sebagai suara paling lantang, menuding Budi Arie telah mengkhianati Jokowi—pengkhianatan yang dalam narasi mereka setara dengan dosa politik paling berat di republik ini.
Ade Armando, yang selama ini dikenal sebagai penjaga moral politik Jokowi di dunia maya, tampak seperti sedang membela kehormatan sang patron. Ia dan kelompoknya menuding Budi Arie berubah haluan setelah mencium arah angin kekuasaan yang berembus ke kubu lain. Budi dianggap tidak lagi menjaga “roh Jokowi”, melainkan sibuk menata posisi sendiri dalam konfigurasi baru politik pasca-2024.
Serangan-serangan itu disampaikan bukan dengan bahasa analitis, tapi dengan nada emosional—seolah Budi Arie telah menodai kesetiaan yang seharusnya abadi.
Namun, dalam politik Indonesia, kesetiaan sering kali tidak lebih dari valuta yang nilainya fluktuatif. Budi Arie tentu bukan tokoh baru dalam permainan arah angin kekuasaan. Ia tahu bahwa Jokowi, yang dulu dijadikan simbol perjuangan rakyat kecil, kini justru dikepung oleh kepentingan besar yang lahir dari lingkar kekuasaannya sendiri. Maka, ketika ia mengambil jarak dari orbit Projo yang telah terlalu personal dengan Jokowi dan keluarganya, mungkin yang ia lakukan bukan pengkhianatan, melainkan pembebasan.
Ade Armando dan kawan-kawannya tampak tak siap menghadapi kenyataan itu. Bagi mereka, Jokowi bukan sekadar presiden; ia adalah figur yang disakralkan. Kritik terhadap lingkar Jokowi dianggap serupa dengan melawan “kebenaran”. Padahal, di balik euforia pembangunan dan retorika kerakyatan, banyak eks loyalis mulai menyadari bahwa arah politik Jokowi kini lebih bercorak keluarga dan dinasti ketimbang gerakan rakyat.
Budi Arie, yang dulu menjadi motor relawan untuk menumbuhkan Jokowi, kini menghadapi makhluk yang diciptakannya sendiri: relawan yang berubah menjadi pasukan fanatik. Di tangan orang-orang seperti Ade Armando, relawan bukan lagi alat demokrasi partisipatif, melainkan barisan digital yang membungkam kritik.
Perlawanan Ade cs ini sesungguhnya menggambarkan krisis besar dalam politik relawan Indonesia. Gerakan yang dulu diharapkan menjadi jembatan antara rakyat dan kekuasaan, kini terjebak dalam kultus individu. Loyalitas menggantikan logika, dan siapa pun yang berani menafsirkan ulang arah Jokowi akan segera dicap murtad.
Ironinya, Budi Arie kini harus merasakan sendiri bagaimana rasanya diserang oleh pasukan yang dulu ia kumpulkan. Ia diburu oleh bayangan masa lalunya: para penggemar Jokowi yang tak mau menerima kenyataan bahwa zaman telah bergeser.
Dalam lanskap politik yang terus bergerak, mungkin yang sedang terjadi bukan pengkhianatan, melainkan fase kedewasaan politik—di mana loyalitas kepada tokoh mulai digantikan oleh keberanian menimbang arah secara rasional.
Dan di titik inilah, retakan pertama dari dinasti Jokowi mulai terdengar. Ketika loyalis saling serang, ketika relawan melawan komandannya sendiri, yang runtuh bukan hanya wibawa politik, tapi juga mitos kesetiaan tanpa batas yang dulu dibangun atas nama “kerja nyata”.
Pertikaian Budi Arie dan Ade Armando cs adalah simbol dari akhir romantisme relawan—romantisme yang dulu mengusung harapan perubahan, tapi kini terperangkap dalam jejaring kepentingan pribadi, dinasti, dan ambisi yang saling beradu di rumah yang sama.
Mungkin, pada akhirnya, inilah bab baru dalam sejarah Jokowi: bab di mana kekuasaan mulai tergerus bukan oleh lawan politik, tapi oleh luka yang tumbuh di tubuh pendukungnya sendiri.
























