• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Perang Urat Saraf Bjorka

fusilat by fusilat
September 17, 2022
in Feature
0
Perang Urat Saraf Bjorka

Bjorka bikin negara 'kalang kabut' usai data pejabat dipreteli, warganet malah beri dukungan buat si hacker. (Foto tangkapan layar @bjorkanism)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Rosdiansyah

Beberapa hari ini berbagai media dihebohkan dengan bocoran (leaks) dari akun “Bjorka”, lalu juga ada akun ‘”Desorde”‘ dan “Strovian”. Isi bocoran menyangkut data yang kabarnya masuk kategori “rahasia” dan sensitif. Entah bagaimana kategori “rahasia” atau sensitif yang dimaksud, hingga saat ini tak ada penjelasan gamblang. Jangankan penjelasan dari otoritas resmi, penjelasan dari penyebar data itu pun tidak ada.

Publik hanya disodori kata atau kalimat menantang seolah data dari ketiga “hacker” tersebut adalah data “rahasia” dan sensitif. Hanya itu. Tidak ada ulasan ihwal tingkat kerahasiaan atau sentivitasnya. Padahal, bagi siapa saja yang rajin berselancar di Google, sebenarnya sajian data bocoran ala Bjorka itu tak istimewa. Misalnya, data penyebab kematian Munir. Itu sudah banyak diungkap berbagai media sejak 18 tahun lalu. Tinggal dirangkai saja kronologi peristiwa, aktor yang terlibat, lalu jejaring yang ada. Lengkap sudah.

Bukan Fenomena Baru

Melempar data ke publik sesungguhnya bukan fenomena baru dalam dunia intelijen. Jika spionase bertujuan mengumpulkan data dari beragam sumber, maka intelijen lebih luas. Kegiatan ini juga melakukan analisa dan evaluasi (anev) serta forecasting (prakiraan). Pada masa pra-internet, pelemparan data ke publik biasanya menggunakan selebaran gelap, menyebar kasak-kusuk atau menebar gosip. Data dalam selebaran gelap atau konten kasak-kusuk lazimnya berasal dari sumber yang dekat pada pusat kekuasaan. Namun, data itu juga bisa berasal dari hasil investigasi yang sudah di-crosscheck.

Ketika masuk era email sekitar awal dekade ’90-an, data bocoran biasa disebar melalui mail-list. Bocoran ini meningkat tajam saat 1998-1999 ketika terjadi gesekan antarkubu elite. Ada “TNI-Watch”, ada “Kabar Siwa Lima”, ada “Kabar Pijar”, “Analisa” dan masih banyak lagi. Peneliti AS John McDougall rajin mengumpulkan sekaligus menyebar aneka tulisan itu dalam forum ‘”Apakabar”. Berbagai informasi atau data “rahasia” dan sensitif tersebar dalam forum ini. Tanpa sensor. Bebas diakses siapa saja, tanpa harus log in atau jadi anggota.

Begitu masuk era media sosial, dunia intelijen pun ikut memakai medsos sebagai sarana mengawasi lalu-lintas perbincangan publik. Selain itu, teknik membocorkan data rahasia juga mulai sesekali muncul. Tujuannya, untuk melihat reaksi publik sekaligus mengukur sensitivitas publik pada topik atau sosok tertentu. Kemudahan membuat akun media sosial serta membuat email bar, tentu ikut mendorong cara menyebarkan data seolah-olah dibocorkan.

Bahkan, teknik sebar, jaring, dan tangkap pun bisa menggunakan media sosial. Caranya, pertama menyebar data lewat media sosial. Kedua, menjaring siapa saja yang tertarik. Ketiga, baru mulai ditangkap satu persatu dengan barang bukti konten media sosial.

Bocoran Pasca-Snowden

Dalam artikelnya yang terbit di Jurnal Foreign Affairs (2014), mahaguru ilmu keamanan Universitas Georgetown AS Daniel Byman menyebut kasus Edward Snowden telah memantik debat seru. Antara kubu pro-keamanan nasional lawan kubu pro-kebebasan berekspresi. Dua kubu ini tak pernah akur karena masing-masing punya argumen kokoh. Kubu pro-keamanan nasional berpandangan, Snowden telah membahayakan keamanan nasional. Sebaliknya, kubu pro-kebebasan berekspresi beranggapan ulah Snowden bagian dari kebebasan berekspresi. Hingga kini perdebatan itu belum menemukan titik temu.

Snowden kontraktor resmi National Security Agency (NSA, Lembaga Keamanan Nasional). Ia tak memakai nama samaran ketika menyerahkan berjibun dokumen rahasia NSA ke para jurnalis. Ia tak mencuri dokumen itu, tapi secara sengaja menyerahkan dokumen kategori “classified” (rahasia) ke para jurnalis. Tentu ini perkara superserius. Presiden Barrack Obama pun segera membentuk kelompok pakar independen guna menangani kasus Snowden ini. Hasilnya, lebih dari 40 saran rekomendasi mereformasi sistem pengamanan sekaligus pengawasan. Termasuk, rekomendasi mengakhiri pengawasan terhadap kepala negara lain.

Berbeda dari Snowden, yang terjadi pada Bradley Manning justru bentuk kecerobohan. Manning prajurit AS. Ia bertugas mengawasi sekaligus menjaga lalu-lintas data penting kualifikasi rahasia. Namun, ia ceroboh hingga banyak data bocor ke publik. Spontan Pentagon mengamankan Manning. Ia lalu dijatuhi hukuman lebih dari 30 tahun. Kasus Manning berbeda dari kasus Snowden walau sama-sama terjadi kebocoran data. Kasus Snowden lebih mirip pembocoran data yang dilakukan Daniel Ellsberg, bekas analis militer AS yang bertugas pada 1954-1957. Ada kesengajaan Ellsberg membocorkan data rahasia ke publik yang disebut “Pentagon Papers”.

Aksi Snowden dan Ellsberg juga beda dari aksi kelompok Anonymous. Bedanya, kelompok Anonymous tak pernah jelas menunjukkan jati dirinya. Selain itu, bocoran yang disodorkan Anonymous ke publik adalah data curian. Mirip dengan data curian Julian Assange, yang bisa jadi data itu memang sudah kadaluwarsa meski masih berkualifikasi rahasia. Sehingga tingkat aktualitas plus kredibilitas kontennya boleh jadi masih layak dipertanyakan publik.

Sensasional

Ada tiga poin yang bisa disimak dari peredaran data yang dikabarkan rahasia dan sensitif ke publik. Pertama, data itu dikabarkan hasil curian atau membobol gudang arsip daring milik lembaga resmi pemerintah. Publik seharusnya bisa mempertanyakan validitas, akurasi, serta aktualitas data terkait. Tanpa pengecekan silang (crosscheck), data terkait yang beredar ke publik masih layak dipertanyakan. Apalagi jika tak ada sumber otoritatif yang bisa membuktikan data itu benar atau salah. Ditambah lagi, sebenarnya data yang disebar tiga hacker sohor itu besar kemungkinan sudah jamak ditemui di Google. Dikumpulkan, lalu dirangkai sendiri.

Kedua, data rahasia dan sensitif itu sengaja dibocorkan oleh oknum-oknum lembaga tertentu untuk melihat reaksi publik. Agar tampak dramatis, data tak dikirim langsung ke media massa, melainkan ke sebuah forum hacker. Selanjutnya, perbincangan forum dilempar ke media sosial, lalu insan media massa menangkap perbincangan dari media sosial tersebut dan memberitakannya. Lepas dari motif di balik kebocoran, yang jelas muncul reaksi publik terkaget-kaget melihat data, konon rahasia dan sensitif, yang dijual bebas.

Ketiga, memang ada kecerobohan sistem keamanan siber dari lembaga negara. Sistem yang ada tak terlalu tangguh untuk diterobos, namun data yang tersimpan dalam sistem itu merupakan data lama yang belum diperbaharui. Hanya saja, ada sensasi memantik publik. Dianggap data itu tak biasa karen menyangkut kerahasiaan meski tak diketahui seberapa tinggi tingkat kerahasiaannya.

Dari ketiga poin di atas, patut diduga itulah perang urat saraf (PUS, psychological warfare) ala Bjorka dan sohib hacker-nya. Kesuksesan PUS tergantung pada sensasional kabar yang digulir ke publik. Ketika kabar itu jadi perbincangan publik, maka PUS boleh dikata berhasil. Sebaliknya, jika publik justru kritis pada konten data dalam kabar yang tersebar, maka PUS gagal. Yang terjadi saat ini, otoritas pemerintah masih fokus pada siapa Bjorka dan konco-konconya itu. Otoritas keamanan belum memitigasi situasi kecuali menyangkal apapun yang diujar hacker.

Rosdiansyah peneliti kontra-terorisme dan kebangsaan, staf pengajar Unair, Surabaya

Dikutip Detik.com, Jumat 16 September 2022


Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Respon PDIP DKI Anies Maju Capres 2024 : Anies Gagal Pimpin Jakarta

Next Post

Bolehkah Jokowi Menjadi Wakil Presiden?

fusilat

fusilat

Related Posts

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain
Feature

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026
Next Post
Siasat Jokowi Dibalik Reshuffle Kabinet

Bolehkah Jokowi Menjadi Wakil Presiden?

Serangan Siber Bjorka dan Kebocoran Data, Tanggung Jawab Siapa?

Dijerat Pasal UU ITE!! Inilah Motif dan Peran Pemuda yang Diduga Bjorka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Tak pernah kita menyaksikan Jusuf Kalla seemosional...

Read more
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist