Oleh Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Netizen ramai-ramai mengomentari usulan Natalius Pigai, Menteri HAM, yang meminta tambahan anggaran kementerian dari Rp 64 miliar menjadi Rp 20 triliun atau lebih, untuk rencana proyek Sekolah HAM. Tanggapan pun beragam, dari yang kritis dan ketus hingga yang penuh humor, mulai dari akun anonim hingga yang berkesan dengan nama asli.
Komentar Cerdas dan Ketus dari Netizen
Beberapa netizen mengomentari usulan Pigai dengan cerdas namun ketus:
- “Proyek? Padahal cukup selipkan dalam salah satu mata pelajaran, tak perlu biaya sebesar itu.”
- “Tak usah ada sekolahnya, cukup edukasi rakyat bahwa pelanggaran hukum dan HAM itu salah. Pemimpin dan pejabat negara beri contoh! Biasanya yang melanggar HAM itu pejabat, bukan rakyat.”
- “Kita punya Pancasila, khususnya sila ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.’ Tak perlu HAM, produk barat.”
- “Dosennya pelanggar HAM juga?”
- “Suruh usut kasus pelanggaran HAM 98 dan KM 50 yang belum jauh kejadiannya.”
- “Dana pendidikan 20% dari APBN lagi yang akan diincar Kementerian HAM? Bisa-bisa pembagian untuk desa tertinggal terpangkas, kades-kades pasti ngamuk!”
Kritik Pedas Soal Tugas Pokok dan Fungsi Kementerian
Komentar lain mempertanyakan peran Pigai, seperti, “Aneh-aneh saja Pigai, coba tunjukkan langkah nyata tuntaskan pelanggaran HAM yang sudah terjadi seperti tahun 1998, KM 50, atau penggusuran di Rempang dan PIK.”
Komentar ala Humor Netizen yang Menggelitik
Tak ketinggalan, beberapa netizen memberikan komentar jenaka yang mengundang tawa:
- “Setuju, Bang Pigai. Di NKRI Harga Mati belum ada ‘Sekolah HAM,’ padahal pelanggaran HAM masih sering terjadi. Mungkin 20 T masih kurang. Kalau bisa, tambah lagi jadi 25 T!”
- “Lah ngapain bangun sekolah… tinggal tambah pelajaran di Depdikbud saja!”
- “Teori doang butuh 20T, terus prakteknya?”
- “HAM burger maksudnya? Pigai, kerja bukan cuma omong besar.”
- “Dapat posisi malah fokus bangun kampus. Hey, Pigai, kamu Menteri HAM, bukan Menteri Pendidikan!”
- “Kayak Mulyono aja, ambisi bangun istana tapi duit cekak, ujungnya mangkrak.”
- “Ibarat anak kecil baru dapat mainan.”
Saran untuk Natalius Pigai sebagai Menteri
Sebagai eks aktivis HAM, Pigai sebaiknya memanfaatkan berbagai kritik publik ini untuk introspeksi dan meningkatkan kepekaannya terhadap isu yang sedang berkembang. Kerjakan dahulu tugas pokok yang belum terselesaikan saat ia masih di Komnas HAM, terutama yang masih hangat, seperti kasus KM 50 dan investigasi atas banyaknya korban KPPS yang meninggal pada Pilpres 2019. Bukan justru memaksa proyek Sekolah HAM dengan anggaran fantastis Rp 20 triliun yang belum jelas urgensinya dalam mendukung tugas dan fungsi Kementerian HAM yang ia emban.

























