Partai Keadilan Sejahterah dan Partai Demokrat sedang bersaing ketat mengajukan kandidat calon wakil presiden untuk dipasangkan dengan Kandidat calon Presiden Anies Rasyid Baswedan.
Jakarta – Fusilatnews – Ditengah kesepakatan tiga partai politik yang tergabung dalam kemitraan Koalisi Perubahan yaitu Partai Keadilan Sejahterah, Partai Demokrat dan Partai Nasdem untuk menyerahkan penuh kepada Anies Baswedan untuk menunjuk siapa yang akan menjadi pasangannya sebagai kandidat cawapres, rupanya dibawah permukaan terjadi persaingan sengit antara PKS dan Demokrat.
Beberapa pengamat dan analis politik berspekulasi tentang tak kunjungnya Anies menunjuk nama sebagai pendampingnya dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Ini karena alotnya lobi- lobi dan persaingan ketat antara Partai Demokrat dan PKS yang mengajukan kandidatnya masing – masing untuk dipilih oleh Anies
Analis Politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, berspekulasi dengan analisisnya, ada persaingan antara Partai Demokrat dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menyorongkan nama yang akan menjadi bakal calon wakil presiden pendamping Anies Baswedan.
Menurut Arifki, Demokrat masih ingin ketua umum mereka, Agus Harimurti Yudhoyono untuk mendampingi Anies. Sementara PKS yang gagal mengedepankan nama kader, Ahmad Heryawan, akhir-akhir ini justru berkeinginan supaya Anies diduetkan dengan Sandiaga Uno.
“Dukungan yang diberikan oleh PKS dan Demokrat untuk Anies tentu tidak gratis. PKS dan Demokrat punya kepentingan lain, salah satunya mendorong figur tertentu sebagai cawapres Anies. PKS dan Demokrat sama-sama merasa Anies ini efek elektoralnya ke NasDem, makanya kedua partai ini ingin mencari efek ini di posisi cawapres” kata Arifki, Selasa (7/3)
Spekulasi Arifki PKS lebih memilih sosok Sandiaga sebagai cawapres pendamping Anies untuk mengulang romantisme Anies-Sandi seperti di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.
Jadi, walau Koalisi Perubahan lebih awal mendeklarasikan capres karena sudah terbentuknya komitmen dukungan dari masing-masing partai, namun munculnya nama Sandiaga dari PKS untuk menjadi cawapres Anies dinilai Arifki akan memperlemah daya tawar AHY untuk menjadi cawapres.
“Pertarungan nama cawapres Anies bakal berlangsung alot jika tidak tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan,” ujar Arifki.
Demokrat sepertinya harus melakukan negosiasi dengan PKS untuk menyepakati dukungan terhadap AHY. Pertarungan demokrat dan PKS yang memperebutkan posisi cawapres Anies dengan masing-masing mengusung nama bukti bahwa Anies tidak memiliki kemerdekaan dalam menentukan cawapresnya. Koalisi perubahan berpotensi pecah jika tidak terdapatnya komitmen bersama dalam menentukan cawapres Anies.
Dalam kesempatan sebelumnya PKS, Partai Demokrat dan Partai Nasdem sepakat membentuk Koalisi Perubahan untuk mengusung Anies sebagai kandidat capres dan sepakat menyerahkan sepenuhnya kepada Anies untuk memilih pendampingnya sebagai kandidat cawapres.


























