Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah apa yang berkecamuk dalam benak Prabowo Subianto ketika mendengar pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan militer Amerika Serikat (AS)-Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026).
Mungkin Presiden RI itu langsung tercenung: tawarannya sebagai mediator konflik AS-Israel versus Iran belum diterima, eh Khamenei keburu tak ada.
Mungkin ia kecewa. Atau mungkin justru lega karena tugas berat tak jadi diembannya. Padahal, semua itu hanya terjadi dalam halusinasi Prabowo. Faktanya, nyaris dapat dipastikan Iran tak akan menerima Prabowo sebagai mediator. Apalagi AS.
Begitu Khamenei gugur, Iran langsung menyatakan tak ada negosiasi dengan AS. Iran bahkan melancarkan serangan balasan secara membabi buta ke target-target yang terafiliasi dengan AS.
AS pun bersikeras akan melanjutkan serangan ke Iran dengan target perang yang akan selesai dalam 14 hari.
Di mata Presiden AS Donald Trump, dan mungkin Khamenei sebelum gugur, Prabowo itu siapa? Mungkin ia hanya seorang yang dalam pepatah Jawa disebut, “cebol nggayuh lintang”, atau dalam pepatah bahasa Indonesia, “pungguk merindukan bulan”.
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati menjadi pendamai, apa daya yang mau didamaikan tak mau.
Di mata Trump, Prabowo mungkin bukan siapa-siapa. Hal itu terlihat saat penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Timbal-balik antara Prabowo dan Trump di Washington, DC, 19 Februari lalu. Perjanjian itu tak seimbang: merugikan Indonesia, menguntungkan AS.
Bahkan akibat perjanjian itu, kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka tergadaikan. Prabowo bak berada di ketiak Trump.
Sebelumnya, Prabowo juga membawa Indonesia masuk ke Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Trump. Apa pun kata Trump, Prabowo harus mengikutinya. Termasuk bayar iuran US$1 miliar atau nyaris Rp17 triliun. Padahal Israel sendiri enggan membayar iuran.
Dengan berada di ketiak Trump, bagaimana bisa Khamenei sebelum gugur, atau kini penggantinya mau menerima Prabowo sebagai mediator konfliknya dengan AS-Israel?
Prabowo dianggap Iran sudah tak netral lagi. Dalam mediator, modal utamanya adalah “trust” (kepercayaan), di samping kesetaraan.
Dus, inisiatif Prabowo memediasi konflik AS-Israel vs Iran ibarat “cebol nggayuh lintang”. Mission impossible.
Ketakutan
Sesungguhnya penyebab dari semua kekacauan ini, AS-Israel menyerang Iran, serta Indonesia masuk BoP dan menandatangani ART dengan AS adalah ketakutan.
Trump dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu takut program nuklir Iran berjalan. Padahal, itu hanya ketakutan yang dibuat-buat. Kamuflase. Misi sesungguhnya Trump menumbangkan Khamenei adalah menguasai minyak Iran, sebagaimana misi Trump menculik Presiden Nicolás Maduro dan istrinya untuk menguasai minyak Venezuela.
Prabowo juga ketakutan bakal dimusuhi Trump. Sebab itu, ia mau saja masuk BoP dan meneken ART yang timpang itu.
Prabowo tak berani melawan Trump. Lalu ia pun terinspirasi ungkapan, “If you can’t beat them, join them”.
Kini, ketika Trump telah melakukan agresi militer ke Iran dengan melanggar hukum internasional, masih percayakah Prabowo dengan BoP yang konon akan membangun kembali kota Gaza, Palestina, dari kehancuran akibat agresi militer Israel, dan mengusahakan perdamaian Israel-Palestina? Apalagi, Netanyahu sudah berulang kali menyatakan tak akan melepaskan Palestina untuk merdeka.
Dus, tak ada cara lain kecuali Indonesia segera keluar dari BoP. Lalu kembali ke prinsip politik luar negeri bebas aktif. Jangan mau lagi jadi kaki tangan AS, agresor terbesar di dunia. Kecuali kalau Prabowo memang benar-benar takut kepada Trump.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















