Di persimpangan sejarah, Iran adalah negeri yang penuh paradoks. Di satu sisi, langit Qom dan Teheran dihiasi oleh menara industri dan asap kilang minyak. Di sisi lain, bayang-bayang kemiskinan merayap di gang-gang pasar tradisional. Iran adalah negara dengan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia dan minyak keempat terbesar, namun rakyatnya bergulat dengan inflasi yang membuat harga satu kilogram daging domba bisa setara dengan seperempat gaji bulanan buruh.
Di sinilah letak ironi terbesar Revolusi Islam 1979: sebuah bangsa yang berhasil melahirkan para insinyur dan dokter brilian, tetapi ekonominya seperti pasien yang terus kambuh.
Lonjakan Minyak dan Kutukan Sanksi
Jika membaca grafik pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Iran, kita seperti melihat grafik detak jantung orang sakit. Naik-turunnya sangat dramatis, ditentukan oleh dua faktor: seberapa banyak minyak yang bisa dijual dan seberapa ketat AS mengepung.
Setelah kesepakatan nuklir JCPOA 2015, ekonomi Iran sempat “berdiri”. Bank Dunia mencatat, pada tahun 2016, pertumbuhan PDB Iran melesat hingga 13,4%—salah satu yang tertinggi di dunia saat itu. Minyak mengalir kembali ke pasar Eropa, dan investasi asing mulai berdatangan.
Namun, ketika mantan Presiden AS Donald Trump secara sepihak keluar dari kesepakatan itu pada 2018, “kran” ditutup kembali. Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, ekonomi Iran terkontraksi hingga -6,0% pada 2019. Sanksi “maksimum” AS membuat ekspor minyak Iran merosot dari 2,5 juta barel per hari menjadi di bawah 400.000 barel. Meski di masa pemerintahan Ebrahim Raisi upaya ekspor ditingkatkan, ketergantungan pada sumber daya alam tetap menjadi tumit Achilles. Ekonomi Iran hari ini bergerak di bawah bayang-bayang “ekonomi perlawanan”, sebuah jargon yang di lapangan lebih sering berarti ekonomi yang bertahan, bukan berkembang.
Neraca Kehidupan: Antara IPM Tinggi dan Perut Keroncongan
Lalu bagaimana nasib rakyat di tengah fluktuasi ini?
Jika kita hanya membaca Indeks Pembangunan Manusia (IPM) PBB, Iran adalah kisah sukses. Dengan skor 0,780 pada 2022, Iran masuk kategori “pembangunan manusia tinggi”. Angka melek huruf mencapai 88% (dengan angka melek huruf pemuda di atas 98%). Di bidang pendidikan, jumlah mahasiswi di perguruan tinggi bahkan melampaui mahasiswa. Infrastruktur kesehatan pedesaan, yang dikenal sebagai “Behvarz” (rumah kesehatan), berhasil menekan angka kematian bayi hingga 13 per 1.000 kelahiran hidup pada 2021—jauh lebih baik dari rata-rata regional.
Tapi statistik makro sering kali gagal bercerita tentang perjuangan di level mikro. * Bank Dunia mencatat tingkat inflasi Iran pada 2023 mencapai 46,5%.** Bahkan, untuk inflasi pangan, angkanya bisa menembus 60%. Dalam suasana seperti ini, “Rial” yang setiap hari terkikis nilainya membuat masyarakat kelas menengah terjun bebas ke jurang kemiskinan.
**Data Statistik Iran (SCI) tahun 2023 mengungkapkan garis kemiskinan absolut di perkotaan telah mencapai sekitar 15 juta rial per bulan per orang.* Sementara itu, upah minimum yang ditetapkan pemerintah sering kali tertinggal jauh di belakang kurva inflasi. Akibatnya, fenomena “ganda kerja”—bekerja siang dan malam untuk menyambung hidup—menjadi pemandangan biasa.
Pengangguran Terdidik dan “Brain Drain”
Ironi terbesar mungkin terjadi di pasar tenaga kerja. Iran mencetak ribuan sarjana teknik dan kedokteran setiap tahunnya, namun IMF memperkirakan tingkat pengangguran kaum muda (15-24 tahun) berada di kisaran 27% pada 2022.** Lebih parah lagi, data internal Iran menunjukkan hampir 40% dari pengangguran adalah lulusan universitas.
Mereka adalah para “dokter tanpa pasien” dan “insinyur tanpa proyek”. Frustrasi ini kemudian melahirkan fenomena eksodus besar-besaran. Laporan Institut Statistik Iran (ISC) mengindikasikan bahwa dalam satu dekade terakhir, lebih dari 4.000 profesor dan dokter spesialis meninggalkan Iran setiap tahunnya.* Sebuah survei oleh portal Belajar di Luar Negeri (Study Abroad) menyebutkan bahwa 66% mahasiswa Iran di luar negeri memilih untuk tidak kembali. Mereka adalah “kekayaan” yang hilang, terbang ke negara-negara Teluk, Eropa, atau Amerika Utara, mencari tanah yang tidak hanya menawarkan kebebasan, tapi juga kesempatan ekonomi.
Kontradiksi yang Mencair
Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan di Iran saat ini, kata itu adalah “rentan”. Generasi yang lahir pasca-revolusi adalah generasi yang terdidik dan terhubung dengan dunia melalui internet. Mereka tahu seperti apa kehidupan di Dubai, Istanbul, atau Los Angeles. Mereka bisa membandingkan.
Kondisi ekonomi yang sulit telah mencairkan beberapa ideologi kaku. Di Tehran Utara, toko-toko mewah tetap buka untuk kelompok elit yang dekat dengan kekuasaan, sementara di Tehran Selatan, para pekerja antre berjam-jam untuk membeli roti subsidi. Kesenjangan ini diukur oleh Indeks Gini Iran yang menurut Bank Dunia berada di angka 0,4—masih dalam kategori moderat, namun tekanan inflasi membuat jarak antara si kaya dan si miskin terasa seperti jurang.
Pada akhirnya, Iran adalah negeri yang kaya raya yang dikelola dalam keadaan terkepung. Negeri yang pendidarnya maju, tapi ekonominya terbelenggu. Negeri yang rakyatnya adalah “dokter-dokter” handal, tapi perlahan-lahan kelaparan karena sistem ekonominya tak kunjung sembuh dari sanksi dan salah urus. Masa depan kesejahteraan di sana tidak hanya bergantung pada harga minyak, tetapi pada seberapa cepat belenggu itu bisa dilepaskan—baik dari luar negeri, maupun dari dalam negeri sendiri.
Sumber data utama: Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Statistical Centre of Iran (SCI), United Nations Development Programme (UNDP), dan laporan media internasional (Reuters/AP).
























