• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Iran: Negeri Para “Dokter” yang Kelaparan

Ali Syarief by Ali Syarief
March 2, 2026
in Economy, Feature
0
Iran: Negeri Para “Dokter” yang Kelaparan
Share on FacebookShare on Twitter

Di persimpangan sejarah, Iran adalah negeri yang penuh paradoks. Di satu sisi, langit Qom dan Teheran dihiasi oleh menara industri dan asap kilang minyak. Di sisi lain, bayang-bayang kemiskinan merayap di gang-gang pasar tradisional. Iran adalah negara dengan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia dan minyak keempat terbesar, namun rakyatnya bergulat dengan inflasi yang membuat harga satu kilogram daging domba bisa setara dengan seperempat gaji bulanan buruh.

Di sinilah letak ironi terbesar Revolusi Islam 1979: sebuah bangsa yang berhasil melahirkan para insinyur dan dokter brilian, tetapi ekonominya seperti pasien yang terus kambuh.

Lonjakan Minyak dan Kutukan Sanksi

Jika membaca grafik pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Iran, kita seperti melihat grafik detak jantung orang sakit. Naik-turunnya sangat dramatis, ditentukan oleh dua faktor: seberapa banyak minyak yang bisa dijual dan seberapa ketat AS mengepung.

Setelah kesepakatan nuklir JCPOA 2015, ekonomi Iran sempat “berdiri”. Bank Dunia mencatat, pada tahun 2016, pertumbuhan PDB Iran melesat hingga 13,4%—salah satu yang tertinggi di dunia saat itu. Minyak mengalir kembali ke pasar Eropa, dan investasi asing mulai berdatangan.

Namun, ketika mantan Presiden AS Donald Trump secara sepihak keluar dari kesepakatan itu pada 2018, “kran” ditutup kembali. Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, ekonomi Iran terkontraksi hingga -6,0% pada 2019. Sanksi “maksimum” AS membuat ekspor minyak Iran merosot dari 2,5 juta barel per hari menjadi di bawah 400.000 barel. Meski di masa pemerintahan Ebrahim Raisi upaya ekspor ditingkatkan, ketergantungan pada sumber daya alam tetap menjadi tumit Achilles. Ekonomi Iran hari ini bergerak di bawah bayang-bayang “ekonomi perlawanan”, sebuah jargon yang di lapangan lebih sering berarti ekonomi yang bertahan, bukan berkembang.

Neraca Kehidupan: Antara IPM Tinggi dan Perut Keroncongan

Lalu bagaimana nasib rakyat di tengah fluktuasi ini?

Jika kita hanya membaca Indeks Pembangunan Manusia (IPM) PBB, Iran adalah kisah sukses. Dengan skor 0,780 pada 2022, Iran masuk kategori “pembangunan manusia tinggi”. Angka melek huruf mencapai 88% (dengan angka melek huruf pemuda di atas 98%). Di bidang pendidikan, jumlah mahasiswi di perguruan tinggi bahkan melampaui mahasiswa. Infrastruktur kesehatan pedesaan, yang dikenal sebagai “Behvarz” (rumah kesehatan), berhasil menekan angka kematian bayi hingga 13 per 1.000 kelahiran hidup pada 2021—jauh lebih baik dari rata-rata regional.

Tapi statistik makro sering kali gagal bercerita tentang perjuangan di level mikro. * Bank Dunia mencatat tingkat inflasi Iran pada 2023 mencapai 46,5%.** Bahkan, untuk inflasi pangan, angkanya bisa menembus 60%. Dalam suasana seperti ini, “Rial” yang setiap hari terkikis nilainya membuat masyarakat kelas menengah terjun bebas ke jurang kemiskinan.

**Data Statistik Iran (SCI) tahun 2023 mengungkapkan garis kemiskinan absolut di perkotaan telah mencapai sekitar 15 juta rial per bulan per orang.* Sementara itu, upah minimum yang ditetapkan pemerintah sering kali tertinggal jauh di belakang kurva inflasi. Akibatnya, fenomena “ganda kerja”—bekerja siang dan malam untuk menyambung hidup—menjadi pemandangan biasa.

Pengangguran Terdidik dan “Brain Drain”

Ironi terbesar mungkin terjadi di pasar tenaga kerja. Iran mencetak ribuan sarjana teknik dan kedokteran setiap tahunnya, namun IMF memperkirakan tingkat pengangguran kaum muda (15-24 tahun) berada di kisaran 27% pada 2022.** Lebih parah lagi, data internal Iran menunjukkan hampir 40% dari pengangguran adalah lulusan universitas.

Mereka adalah para “dokter tanpa pasien” dan “insinyur tanpa proyek”. Frustrasi ini kemudian melahirkan fenomena eksodus besar-besaran. Laporan Institut Statistik Iran (ISC) mengindikasikan bahwa dalam satu dekade terakhir, lebih dari 4.000 profesor dan dokter spesialis meninggalkan Iran setiap tahunnya.* Sebuah survei oleh portal Belajar di Luar Negeri (Study Abroad) menyebutkan bahwa 66% mahasiswa Iran di luar negeri memilih untuk tidak kembali. Mereka adalah “kekayaan” yang hilang, terbang ke negara-negara Teluk, Eropa, atau Amerika Utara, mencari tanah yang tidak hanya menawarkan kebebasan, tapi juga kesempatan ekonomi.

Kontradiksi yang Mencair

Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan di Iran saat ini, kata itu adalah “rentan”. Generasi yang lahir pasca-revolusi adalah generasi yang terdidik dan terhubung dengan dunia melalui internet. Mereka tahu seperti apa kehidupan di Dubai, Istanbul, atau Los Angeles. Mereka bisa membandingkan.

Kondisi ekonomi yang sulit telah mencairkan beberapa ideologi kaku. Di Tehran Utara, toko-toko mewah tetap buka untuk kelompok elit yang dekat dengan kekuasaan, sementara di Tehran Selatan, para pekerja antre berjam-jam untuk membeli roti subsidi. Kesenjangan ini diukur oleh Indeks Gini Iran yang menurut Bank Dunia berada di angka 0,4—masih dalam kategori moderat, namun tekanan inflasi membuat jarak antara si kaya dan si miskin terasa seperti jurang.

Pada akhirnya, Iran adalah negeri yang kaya raya yang dikelola dalam keadaan terkepung. Negeri yang pendidarnya maju, tapi ekonominya terbelenggu. Negeri yang rakyatnya adalah “dokter-dokter” handal, tapi perlahan-lahan kelaparan karena sistem ekonominya tak kunjung sembuh dari sanksi dan salah urus. Masa depan kesejahteraan di sana tidak hanya bergantung pada harga minyak, tetapi pada seberapa cepat belenggu itu bisa dilepaskan—baik dari luar negeri, maupun dari dalam negeri sendiri.

Sumber data utama: Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Statistical Centre of Iran (SCI), United Nations Development Programme (UNDP), dan laporan media internasional (Reuters/AP).

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo dan “Cebol Nggayuh Lintang”

Next Post

Perselingkuhan: Domino yang Menjatuhkan Amanah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?
Feature

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara
Feature

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik
Birokrasi

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Next Post

Perselingkuhan: Domino yang Menjatuhkan Amanah

Perang Berkobar, Bursa Saham Naik

Perang Berkobar, Bursa Saham Naik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

June 3, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

June 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...