FUSILATNEWS INTERVIEW
Bersama: Damai Hari Lubis (Pengamat Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Topik: Prabowo Undang Megawati & Jenderal Tri Sutrisno — Isyarat Politik ‘Kencingi Kepala Jokowi?’
Rabu, 4 Juni 2025
Fusilatnews:
Pak Damai, publik ramai membahas kehadiran dua tokoh besar bangsa—Megawati Soekarnoputri dan Jenderal (Purn) Tri Sutrisno—dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2025, di Gedung Kementerian Luar Negeri atas undangan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Apakah ini sekadar simbol penghormatan pada tokoh bangsa, atau ada sinyal politik yang lebih dalam?
DHL:
Undangan kepada Megawati dan Jenderal Tri Sutrisno itu tentu bukan sekadar basa-basi politik. Ini peristiwa dengan makna sangat dalam. Saya memandangnya sebagai langkah simbolik dan strategis dari Prabowo. Mengapa? Karena kedua tokoh itu selama ini dikenal memiliki jarak—bahkan kerap berseberangan sikap—dengan Presiden Jokowi, terutama dalam konteks keterlibatan Gibran di Pilpres lalu.
Tindakan Prabowo ini bisa dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap “suara nurani bangsa”. Artinya, Prabowo menunjukkan sinyal bahwa ia mulai mendengar suara mayoritas rakyat yang sejak awal menilai keterlibatan Gibran di kursi wapres sebagai cacat etik dan cacat hukum.
Fusilatnews:
Sebagian masyarakat bahkan melihat tindakan ini sebagai bentuk “pembelotan” politik halus terhadap Jokowi. Dalam bahasa rakyat terminal: “Sama aja lu kencingin kepala gua.” Apakah ini analogi yang tepat untuk menggambarkan relasi Jokowi-Prabowo saat ini?
DHL:
Secara majas sarkastik, bisa dibilang demikian. Istilah seperti “mengencingi kepala” atau bahkan “beraki kepala” dalam konteks relasi antar sahabat yang kecewa—memang sering digunakan masyarakat sebagai ungkapan sinisme dan pengkhianatan halus.
Dalam perspektif politik kekuasaan, tindakan Prabowo ini adalah bentuk pemisahan jarak yang kian nyata dari bayang-bayang Jokowi. Bisa dibaca bahwa Prabowo kini sedang membangun posisinya sendiri sebagai Presiden yang berdikari, bukan sekadar penerus titipan Jokowi. Bahkan, bisa jadi ini adalah cara elegan namun tegas Prabowo untuk menyatakan: “Saya tak akan jadi boneka siapa pun.”
Fusilatnews:
Apakah mungkin Jokowi sudah tahu sebelumnya soal rencana undangan ini? Atau tindakan Prabowo ini menjadi pukulan mendadak?
DHL:
Besar kemungkinan ini mengejutkan. Dalam permainan politik tingkat tinggi, informasi seperti ini sangat mungkin tidak bocor. Apalagi, jika momentum ini menjadi bagian dari narasi “pengambilalihan kendali penuh” oleh Prabowo dari sisa pengaruh Jokowi. Bisa jadi, inilah awal dari politik penyisihan halus, yang dilakukan secara terhormat namun menusuk.
Fusilatnews:
Beredar pula di media sosial gambar wajah Jokowi terlihat gatal-gatal, leher merah, mirip alergi atau kurap. Publik mengaitkan ini dengan tekanan psikis karena pelaporan ijazah palsu oleh TPUA atau karena arah politik nasional mulai tak berpihak padanya. Anda melihat ini sebagai sinyal psikologis?
DHL:
Pertama, tentu kita harus berhati-hati menilai gambar-gambar yang beredar. Bisa jadi itu hasil editan atau permainan deepfake. Tapi, jika benar Jokowi tengah mengalami gangguan fisik yang tidak biasa, bisa jadi itu respons tubuh terhadap tekanan batin dan stres politik yang tak tertanggungkan.
Pelaporan ijazah palsu ke Mahkamah Kehormatan dan tekanan dari berbagai elemen sipil juga pasti menimbulkan ketegangan psikologis. Ditambah lagi, mulai muncul narasi-narasi bahwa Prabowo tidak lagi menuruti arahan atau ‘titipan’ Jokowi, tentu ini memicu tekanan luar biasa pada dirinya.
Fusilatnews:
Apakah menurut Anda ini semua—dari undangan tokoh seteru hingga tekanan hukum—adalah buah dari keputusan Jokowi sendiri selama ini?
DHL:
Saya akan jawab tegas: ya. Ini semua adalah konsekuensi dari apa yang ditanam oleh Jokowi sendiri. Ia terlalu percaya pada skenario kekuasaan absolut. Tapi dalam dunia politik, tak ada loyalitas abadi—yang abadi adalah kepentingan. Prabowo tampaknya kini memilih berdiri bersama rakyat, bukan terus-menerus menjadi pelayan dinasti.
Fusilatnews:
Terima kasih atas waktunya Pak Damai, seperti biasa tajam dan mencerahkan.
DHL:
Sama-sama. Semoga rakyat semakin tercerahkan, dan Indonesia kembali ke arah yang benar—adil, waras, dan beradab.

FUSILATNEWS INTERVIEW
























