*FusilatNews* – Pernyataan mengejutkan datang dari Prof. Dr. Sofian Effendi, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mempertanyakan keabsahan ijazah Presiden Joko Widodo. Dalam sebuah wawancara yang kini ramai diperbincangkan, ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan ijazah tersebut benar-benar ada. “Dikatakan hilang, tapi di mana bukti kalau ijazah itu pernah ada?” tuturnya tegas, membuka kembali tabir keraguan publik terhadap latar belakang akademik sang presiden.
Bukan kali pertama isu ini berhembus, namun pernyataan langsung dari seorang tokoh akademisi sekaliber Prof. Sofian membawa isu ini naik ke permukaan. Ia bahkan menyebut adanya ketidaksesuaian wajah dalam dokumen ijazah yang dianalisis oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Lebih jauh, ia menyoroti kejanggalan pada dokumen skripsi Jokowi yang tidak mencantumkan nama dosen pembimbing serta ketiadaan catatan nilai yang lazim terdapat dalam dokumen resmi.
Pernyataan ini bukan sekadar opini pribadi, tetapi menjadi panggilan moral seorang akademisi terhadap kemunduran integritas di ruang publik. UGM sebagai institusi pendidikan tertua dan terhormat di Indonesia dipanggil untuk menjawab, bukan berlindung di balik narasi formal. Sebab jika kejujuran tak lahir dari lembaga pendidikan, kepada siapa lagi bangsa ini berharap?
Tak butuh waktu lama, suara Prof. Sofian menyulut gelombang reaksi masyarakat. Aksi mahasiswa, aktivis, dan tokoh masyarakat mulai terdengar di sejumlah kota. Mereka menuntut transparansi dan klarifikasi dari pihak UGM. Di tengah kemerosotan kepercayaan terhadap institusi negara, rakyat mendambakan kejelasan dan kejujuran. “Kami tidak menyerang pribadi. Kami hanya ingin tahu kebenarannya,” ujar seorang mahasiswa dalam aksi damai di Yogyakarta.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia semakin sadar akan hak mereka untuk mempertanyakan dan mengkritisi kekuasaan, terlebih ketika menyangkut keabsahan dokumen seorang kepala negara. Isu ini tidak hanya menyangkut masa lalu Jokowi sebagai mahasiswa, tapi menyangkut masa depan demokrasi dan akuntabilitas pejabat publik di negeri ini.
Prof. Sofian mungkin hanya satu suara, tapi ia telah menjadi gema nurani akademik yang membangunkan bangsa. Dalam sejarah panjang bangsa ini, kebenaran selalu menemukan jalannya—meski tertatih, meski dilawan.























