Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belakangan ini tampil bak panggung hiburan politik. Di bawah kendali Kaesang Pangarep, anak bungsu Presiden Joko Widodo, PSI tak ubahnya partai keluarga yang kehilangan arah ideologis, terjebak pada pencitraan, dan miskin visi kebangsaan. Pergantian logo menjadi gambar gajah bukan hanya bentuk kosmetik visual, tapi juga mencerminkan absurditas politik simbolik tanpa makna substantif.
Gajah kecil katanya tetap besar, begitu kata Kaesang di Kongres PSI di Solo. Tapi pertanyaannya, besar dalam hal apa? Gajah itu besar badannya, tapi apakah besar pula gagasannya? Apakah besar pula kepeduliannya terhadap nasib buruh, petani, guru honorer, atau masyarakat miskin kota? Atau hanya besar karena didorong oleh bayang-bayang kekuasaan ayahnya yang saat ini masih menancapkan kuku dinastinya di republik ini?
PSI: Partai yang Tak Pernah Mendefinisikan Diri
Sejak awal, PSI berdiri dengan jargon “anti-intoleransi” dan “anti-korupsi”, tetapi seiring waktu, jargon itu lebih menjadi retorika kosong yang tak berdampak. Di bawah Kaesang, PSI bahkan kehilangan klaim moralnya—menjadi partai yang lebih sibuk menjadi pelengkap kekuasaan daripada penantangnya. PSI kini tidak menawarkan ideologi yang jelas, apalagi gagasan besar yang menjawab kebutuhan bangsa. Jika ideologi PSI adalah Jokowi, maka itu berarti ideologi mereka adalah kekuasaan itu sendiri, bukan prinsip. Dan jika Kaesang adalah simbolnya, maka jelas PSI adalah proyek dinasti politik, bukan perjuangan politik.
Kaesang, Pilpres 2034, dan Jalan Sunyi Tanpa Ide
Kaesang berulang kali meminta publik untuk menantikan 2029. Pertanyaannya: menanti apa? Apakah PSI sedang mempersiapkan Kaesang sebagai calon presiden 2034? Jika iya, maka makin jelaslah bahwa partai ini hanya kendaraan pribadi, bukan alat perjuangan kolektif rakyat. Tidak ada pernyataan yang menjelaskan bagaimana PSI melihat persoalan bangsa hari ini—krisis pangan, ketimpangan ekonomi, degradasi demokrasi, korupsi di sektor hukum, atau pendidikan yang makin komersial. PSI seperti hidup dalam dunia paralel, sibuk membangun mitos politik untuk keluarga Jokowi, tapi tak pernah benar-benar hadir dalam penderitaan rakyat.
PSI dan Politik Kosmetik
Pergantian logo menjadi gajah hanyalah pengalihan isu. Itu kosmetik politik yang tidak menyentuh akar permasalahan. Apa hubungan antara gajah dan perjuangan melawan oligarki? Apa maknanya bagi demokrasi, keadilan sosial, dan pemberdayaan rakyat? Tidak ada. Ini hanya cara lain untuk menciptakan buzz media, membangun image, dan mencuri perhatian. Tapi rakyat tidak bisa diberi makan dengan simbol. Rakyat butuh partai yang menyuarakan nasib mereka, bukan partai yang memelihara ego anak penguasa.
Kesimpulan: PSI Harus Menjawab, Bukan Menghindar
Jika PSI ingin disebut sebagai partai masa depan, maka ia harus menjawab persoalan-persoalan bangsa dengan ide dan kebijakan, bukan sekadar dengan nama besar Jokowi atau karisma media sosial Kaesang. Harus ada kejelasan: apa visi mereka terhadap pendidikan, ketimpangan sosial, demokrasi yang terancam oleh kekuasaan yang terlalu kuat? Apa pandangan mereka soal krisis perubahan iklim? Atau soal pelanggaran HAM masa lalu yang tak kunjung diselesaikan? Jika semua itu tidak bisa dijawab, maka PSI hanyalah partai kecil dengan gajah besar di punggungnya—berat, lambat, dan tak tahu arah.
Dan jika semua ini hanyalah skenario mempersiapkan Kaesang untuk Pilpres 2034, maka rakyat punya hak untuk menolak. Karena Indonesia bukan warisan keluarga. Ini adalah republik. Dan republik tidak butuh partai yang hanya tahu tunduk pada dinasti.

























