Fusilatnews – Tak ada lukisan yang mampu menandingi keindahan laut Raja Ampat. Tak ada syair yang sanggup melampaui nyanyian karang dan riak bening birunya. Bagi dunia, Raja Ampat adalah surga bahari. Namun bagi masyarakat adat, bagi para penjaga tanahnya, Raja Ampat adalah ibu. Adalah rahim. Adalah kehidupan yang tak bisa dipisahkan dari identitas dan masa depan mereka.
Itulah mengapa ketika izin tambang diberikan untuk menebas tanah di sana, luka tak hanya menoreh bumi, tetapi juga hati. Seperti seseorang yang menjual tubuh ibunya sendiri demi keuntungan sesaat. Peristiwa ini bukan sekadar kebijakan keliru, tapi bentuk paling telanjang dari pengkhianatan terhadap masa depan.
“Any man who sells land sells the future of his own children,” kata bijak itu bukan sekadar peringatan. Ia adalah kutukan yang saban hari mendekat. Sebab tanah bukanlah komoditas; ia adalah warisan tak tergantikan. Sekali dikeruk, hutan-hutan tak lagi rimbun, sungai tak lagi jernih, karang tak lagi utuh. Dan generasi mendatang tak akan mewarisi apa-apa selain dongeng tentang keindahan yang pernah ada.
Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan membiarkan tanah suci yang menjadi tulang punggung ekosistem dunia justru dijual atas nama investasi? Di balik narasi kemajuan, terselip ironi paling getir: membangun dengan menghancurkan.
Pemberian izin tambang di kawasan seperti Raja Ampat bukan sekadar salah urus birokrasi. Ia adalah bentuk legalisasi pemerkosaan terhadap alam. Sebuah keputusan yang mengabaikan filsafat hidup masyarakat adat: “Our land is sacred to us. We don’t own our land. Our land owns us.” Ungkapan ini bukan metafora. Ia adalah laku hidup, pandangan dunia yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa, tapi sebagai bagian dari harmoni semesta.
Sayangnya, negara ini kerap lupa bahwa tanah dan air bukan sekadar “aset”. Ia adalah nyawa dari generasi yang belum lahir. Dalam bahasa yang lebih getir: menjual tanah hari ini adalah menandatangani surat kematian cucu kita esok hari.
Para pembuat kebijakan mungkin tak akan pernah paham, karena mereka melihat tanah hanya dari balik peta. Mereka tak pernah duduk di bawah pohon sambil mendengar desir angin yang membawa cerita leluhur. Mereka tak pernah menyelam dan bersaksi bahwa karang bukan benda mati, tetapi rumah dari miliaran makhluk hidup yang ikut menjaga keseimbangan dunia.
Dari tiap cangkang yang retak, dari tiap pohon yang tumbang, kita sedang menabung petaka. Raja Ampat bukan tempat untuk dieksploitasi. Ia adalah altar kehidupan. Dan siapapun yang menistakan altar itu, tengah menyulut murka bumi yang lambat namun pasti akan datang.
“From each weekend to eat, we shall return.” Kalimat ini bisa dibaca sebagai doa atau kutukan. Bahwa pada akhirnya manusia akan kembali pada tanah yang telah mereka nodai. Dalam bentuk penyakit, krisis iklim, atau generasi yang terputus dari akar budaya dan sejarahnya.
Raja Ampat seharusnya menjadi peringatan. Tapi dalam negeri yang kehilangan rasa malu dan terlalu lama mabuk oleh jargon pembangunan, mungkin peringatan itu akan datang terlambat.























