Usai membawakan acara pelatihan Cross Culture di Beijing, saya bertanya kepada sahabat saya Prof. Huang, pembicara Chinese Business Culture, mengapa China menerapkan system komunisme? “Mr. Ali, there will be no China without communism”, jawabnya. “How to control more than a million Chinese people!”, tambahnya.
Saya penasaran bertanya itu, karena kebetulan hari itu saya ikut sholat jum’at, dalam suasana tanpa rasa takut atau tekanan, di kota Beijing. Secara kebetulan sekali, saya melihat di masjid itu, Datuk Anwar Ibrahim Wakil PM Malaysia saat itu.
China Muslim di Beijing, dengan mudah dapat dikenal, karena mereka banyak yang mengenakan tutup kepala haji berwarna putih.
Pada kesempatan lain, saya pernah menyampaikan keluhan kepada sahabat saya yang ain, warga keturunan, Mantan Ketua Apindo Jawa Barat, bagaimana Pemerintahah Komunis China, menangani demostran perisitiwa lapangan Tian Amen, yang menewaskan lebih dari 100.000 demonstran mati oleh tentara komunis China.
“Kita tidak bisa menilai baik-buruk seperti Bung Ali, karena apa yang dilakukan Pemerintah China waktu itu, hasilnya seperti sekarang. China menjadi negara dan bangsa yang termaju di Dunia”, begitu jawabnya. Saya tertegun dengan jawaban seperti itu. “Biarkan, nanti sejarah akan memperlihatkannya”, begitu tambahnya.
Uraian ini, berkaitan dengan beberapa hari yang lalu, terjadi lagi protes dari seorang warga china, yang membentangkan spanduk, pada sebuah jembatan di ibukota China yang menuduh Xi sebagai seorang diktator.
Protes seorang yang pemberani ini, jarang terjadi, terhadap Xi Jinping di Beijing tersebut, kemudian telah mengilhami protes solidaritas di seluruh dunia saat kongres partai China berlangsung minggu ini.
Pemrotes misterius, dijuluki sebagai “Manusia Jembatan”, telah disandingkan dengan “Manusia Tank”, pria Cina tak dikenal yang berdiri menantang barisan tank selama protes Tiananmen 1989.
“Bridge Man” sempat menjadi subjek penyelidikan online oleh pemerintahan komunis Xi, untuk cepat mencari identitasnya. Detektif internet segera mendapat identitasnya. Dia seorang akademisi dari profil media sosialnya yang diketahui memiliki dua akun Twitter.
Tindakan The Bridge Man tersebut, banyak dikahwairkan oleh para Aktivis lainnya, akan keselamatannya. Tapi juga diapresiasi atas protesnya yang menyamar sebagai pekerja pinggir jalan, meneriakkan slogan-slogan ke pengeras suara dan membakar ban.
Ada keterangan Video dari tempat kejadian, menunjukkan pria itu ditangkap oleh petugas polisi dan dimasukkan ke dalam mobil Polisi. Tetapi Polisi China bungkam, tidak menanggapi pertanyaan wartawan asing tentang insiden tersebut.
Rekaman peristiwa Pembantaian Tiananmen pada 4 Juni 1989 adalah salah satu tragedi berdarah terbesar di China. Dalam pembantaian Tiananmen 4 Juni, sekitar 100.000 orang berkumpul di utara Forbiden City, Istana yang menjadi simbol besarnya Kekaisaran China sejak ribuan tahun silam. Mereka terdiri dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat biasa yang memprotes Pemerintah China karena dianggap membungkam demokrasi.
Unjuk rasa itu berlangsung selama tujuh pekan sejak 27 April 1989. Deng Xiaoping yang kala itu memimpin Partai Komunis China kemudian mengerahkan puluhan tank untuk membantu tentara “mensterilkan” Lapangan Tiananmen. Sejumlah laporan tak resmi menyebut korban tewas lebih dari 300 orang termasuk demonstran dan tentara, tetapi angka sebenarnya diprediksi mencapai 1.000 orang. Kemudian sekitar 10.000 orang ditangkap dalam pembantaian Tiananmen 1989.
Sebuah laporan internasional, Melansir laman History, pada Mei 1989 hampir satu juta orang China yang kebanyakan pelajar muda, memadati pusat kota Beijing untuk menuntut demokrasi yang lebih besar. Mereka juga meminta pengunduran diri para pemimpin Partai Komunis China yang dianggap terlalu represif.
Pemicu demo ini adalah berkaitan dengan meninggalnya Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Hu Yaobang, pada 15 April 1989.
Hu dikenal sebagai tokoh reformis yang membuka diri terhadap demokrasi. Massa pun curiga dengan kematian Hu. Untuk mengenang kematian Hu Yaobang, 100.000 mahasiswa berkumpul di Lapangan Tiananmen. Mereka menyuarakan ketidakpuasan kepada Pemerintah China yang otoriter.
Pada 22 April, digelar upacara peringatan resmi untuk mengenang Hu Yaobang yang diadakan di Balai Agung Rakyat di Lapangan Tiananmen. Perwakilan mahasiswa turut datang sambil membawa petisi ke tangga Balai Agung Rayat. Para mahasiswa ini menuntut untuk bertemu dengan Perdana Menteri Li Peng dan meminta kejelasan atas kematian Hu Yaobang yang dianggap misterius. Namun, Pemerintah China menolak pertemuan itu. Hal ini memicu aksi demonstrasi besar yang dilakukan mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh China. Mereka mulai menyuarakan reformasi.
Detik-detik tragedi Tiananmen terjadi setelah hampir tiga minggu para demonstran terus berunjuk rasa setiap hari, memadati jalanan dan berteriak. Pada 20 Mei 1989 Pemerintah China menetapkan darurat militer di Beijing, seiring jumlah massa yang semakin besar.
Pemerintah China mengerahkan tentara dan tank ke ibu kota untuk membubarkan aksi demonstran. Sebanyak 30 divisi tentara dari tujuh wilayah atau sekitar 250.000 pasukan militer dikirim ke Beijing melalui udara atau kereta api.
Akan tetapi, ketika tentara ingin masuk ke pusat kota, mereka dihadang oleh para demonstran dengan cara memblokir jalan utama. Demonstran juga mengelilingi kendaraan militer sehingga aparat kesulitan bergerak. Tak hanya itu, pengunjuk rasa bahkan membujuk tentara untuk bergabung dalam aksi demonstrasi.
Pada 23 Mei 1989 akibat tidak adanya akses jalan untuk maju, pasukan tentara berhasil dipukul mundur ke pinggiran kota Beijing oleh para demonstran. Tindakan penarikan mundur itu dirasa sebagai pertanda baik bagi aksi demonstrasi, tetapi gerakan mahasiswa tidak sadar bahwa sebenarnya pihak militer sedang memobilisasi serangan mematikan.
Di kalangan pengunjuk rasa sendiri terjadi perpecahan, karena tidak adanya kepemimpinan dan tujuan yang jelas dari aksi itu. Salah satu aktivis mahasiswa, Wang Dan, juga mulai menyadari adanya bahaya aksi militer. Ia menyarankan agar para mahasiswa mundur sementara sambil menyusun strategi yang lebih baik. Sayangnya, saran Wang Dan ditolak para aktivis radikal yang bersikukuh ingin mempertahankan Lapangan Tiananmen.
Tanggal 3 Juni 1989 para mahasiswa menemukan sejumlah tentara berpakaian sipil yang mencoba menyelundupkan senjata. Senjata itu berhasil disita dan diserahkan kepada polisi Beijing. Pada hari yang sama Pemerintah China melalui siaran televisi menyarankan kepada masayarakat untuk tetap berada di dalam rumah, tapi warga tetap berada di jalanan dan melakukan aksi pemblokiran.
Kemudian sekitar pukul 22.00 terjadi penembakan ke arah pengunjuk rasa di persimpangan Wukesong di Chang’an Avenue, sekitar 10 km dari sebelah barat Lapangan Tiananman. Korban yang tewas adalah seorang pakar teknologi luar angkasa, Song Xiaoming (32).
Tentara lalu semakin bergerak menuju Lapangan Tiananmen. Tidak hanya itu, mereka mulai menembaki pengunjuk rasa. Peristiwa ini dilaporkan oleh organisasi Tiananmen Mothers, yang menyebut setidaknya 36 orang tewas di Muxidi pada 3 Juni 1989 malam.
Tindakan penembakan ini memicu kemarahan warga yang berujung pada pembalasan penyerangan, seperti melempari bom molotov, melawan dengan tongkat dan batu.
Lalu pada 4 Juni 1989 tentara China dan polisi keamanan menyerbu Lapangan Tiananmen dan menembaki para pedemo tanpa pandang bulu. Kekacauan pun terjadi. Puluhan ribu mahasiswa berusaha melarikan diri dari amukan tentara China, sedangkan pengunjuk rasa lainnya melawan dengan melempar batu, serta membalikkan dan membakar kendaraan militer.
Pada 5 Juni 1989, para tentara tetap melakukan pembersihan Lapangan Tiananmen dan berhasil mengambil alih tempat itu. Selanjutnya pada 6 Juni 1989 juru bicara pemerintah, Yuan Mu, menyampaikan bahwa akibat tragedi Tiananmen hampir 300 orang tewas, termasuk tentara. Kemudian 5.000 orang luka-luka dan lainnya ditangkap untuk diadili dan dieksekusi. Meski begitu, jumlah korban versi pemerintah tidak dianggap kredibel. Sumber lain menyebut bahwa korban tewas akibat pembantaian Tiananmen 4 Juni 1989 setidaknya mencapai
1.000 orang.
Sumber Reuters, Kompas dll

























