• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Resesi Seks dan Pertumbuhan Ekonomi China

fusilat by fusilat
September 14, 2022
in Feature
0
Resesi Seks dan Pertumbuhan Ekonomi China

Bendera China. (CNNIndonesia/GettyImages)

Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta – Proyeksi ekonomi China di masa depan terancam dengan kecenderungan anak muda yang tidak mau menikah. Pada Oktober 2021, situs Insider mempublikasikan survei yang dilakukan oleh sayap muda Partai Komunis China yang menunjukkan sekitar 44% wanita muda di negeri itu enggan untuk memasuki jenjang pernikahan. Sementara proporsi lebih kecil ditunjukkan responden laki-laki yang hanya 25%. Survei dilakukan terhadap 2.905 anak muda yang belum menikah dan tinggal di perkotaan dengan rentang usia 18-26 tahun.

Gejala resesi seks sudah menjadi fenomena umum di kalangan kaum muda China. Kondisi ini diperparah dengan hantaman pandemi Covid-19. Resesi ekonomi pada masa pandemi memperparah resesi seks di China. Dikutip dari The Hindu, Biro Statistik China pada 17 Januari 2022 melaporkan bahwa tingkat kelahiran di China pada 2021 hanya 7,52 per 1000 orang. Angka ini terendah sejak 1949, ketika Biro Statistik China mulai mengumpulkan data jumlah penduduk. Sementara itu, pertumbuhan penduduk alami pada 2021 hanya 0,034%, terendah sejak 1960. Tekanan ekonomi selama pandemi membuat pasangan semakin enggan untuk memiliki anak.

Untuk mengatasi resesi seks, sebenarnya pemerintah China pada Mei tahun lalu sudah membolehkan setiap keluarga untuk memiliki tiga anak. Kebijakan ini untuk mendorong pertumbuhan penduduk China. Kebijakan satu anak (one child policy) pada 1979, membuat pertumbuhan penduduk China terus menurun yang berdampak pada penurunan tingkat konsumsi dan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 1950-an, sejumlah negara di Asia yang baru merdeka dihantui dengan jumlah populasi yang besar. Untuk mendorong program pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan, pengendalian jumlah penduduk menjadi keniscayaan. Pada tahun 1950-an sebenarnya China sudah memperkenalkan program keluarga berencana (family planning). Saat itu jumlah penduduk China sudah sekitar 540 juta orang.

Pada tahun 1960-an, fertility rate di China masih cukup tinggi yaitu sekitar 6,15. Fertility rate atau tingkat kesuburan adalah jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh setiap perempuan pada masa reproduksi. Dapat disimpulkan, saat itu rata-rata jumlah anak dalam satu keluarga adalah 6-7 anak.. Untuk menurunkan jumlah penduduk, pemerintah China membuat kampanye “satu terlalu sedikit, dua cukup baik, tiga terlalu banyak”.

Program pengendalian penduduk dilanjutkan pada 1971 dengan lebih tegas yaitu kebijakan “dua anak”. Program ini cukup berhasil menurunkan fertility rate, dari 5,4 pada awal program berjalan menjadi 2,94 pada 1978. Namun, jumlah ini dirasa masih cukup tinggi. Pasalnya, sejak 1974, jumlah penduduk China sudah mencapai sekitar 900 juta orang. Besarnya jumlah populasi yang tidak terkendali akan menambah beban ekonomi dan menurunkan tingkat kesejahteraan.

Akhirnya, kebijakan cukup ekstrem diambil pemerintah yaitu Kebijakan Satu Anak (one child policy). Kebijakan ini diterapkan bagi pegawai pemerintah, penduduk, dan pekerja di perkotaan. Kemudian diterapkan juga di pedesaan. Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah memberi insentif finansial berupa uang cuti hamil hingga tiga tahun awal dan kenaikan gaji 5-10%. Bagi pasangan yang hanya memiliki satu anak juga diberi kemudahan dalam akses pendidikan, kesehatan, dan perumahan.

Pasangan yang ingin menambah anak harus dengan sejumlah persyaratan dan mendapat izin dari pemerintah. Kebijakan satu anak ini diterapkan hanya untuk etnis Han, etnis terbesar di daratan China. Penerapan kebijakan ini tidak diberlakukan bagi etnis minoritas lantaran untuk menghindari konflik.

Bagi pasangan yang memiliki dua anak akan mendapat sanksi sosial dan ekonomi seperti denda, kesulitan dalam pembuatan akte kelahiran, dan hambatan karier jika bekerja di lembaga pemerintah. Selain itu, pelanggaran kebijakan ini membuat pasangan yang memiliki dua anak akan kesulitan mendapat bantuan pemerintah di bidang kesehatan, perumahan, serta pendidikan. Kebijakan ini cukup mendapat perhatian internasional lantaran disertai dengan sejumlah kontroversi seperti tingkat aborsi dan sterilisasi yang tinggi (Settles dan Sheng, 2008).

Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, penerapan kebijakan satu anak diiringi dengan liberalisasi di bidang ekonomi. Paduan kebijakan pengendalian penduduk dengan liberalisasi ekonomi sangat jitu untuk menjadikan China raksasa ekonomi dunia. Dalam 37 tahun selama periode 1979 hingga 2015, China mencetak rekor rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun sebesar 9,69%. Dalam periode tersebut, hanya 3 tahun pertumbuhan ekonomi di bawah 7% yaitu pada tahun 1981, 1989 dan 1990. Selebihnya selalu di atas 7%. Pendapatan per kapita melonjak sekitar 4.311% dari sekitar 183,98 dollar AS menjadi 8.117,26 dollar AS.

Pendapatan per kapita tidak sebatas menunjukkan kekuatan ekonom,i namun sebagai salah satu indikator kesejahteraan penduduk suatu negara. Keberhasilan menggenjot pendapatan per kapita harus dengan pengendalian jumlah penduduk sebagai faktor pembagi pendapatan nasional. China sangat berhasil menekan jumlah penduduk. Sejak 1992 fertility rate hanya 1,9 hingga mencapai angka terendah 1,5 pada 1999. Data terakhir dari Bank Dunia, fertility rate China pada 2020 hanya sebesar 1,7. Sementara, pertumbuhan penduduk China sejak 1999 selalu di bawah 1%. Pada 2020, pertumbuhan penduduk hanya 0,3%.

Namun di sisi lain, kebijakan satu anak banyak menyisakan persoalan sosial dan ekonomi. Kini satu keluarga harus menopang empat orang tua tanpa bantuan saudara kandung. Pasangan yang sudah renta di desa juga tidak ada yang merawat lantaran satu anak mereka sebagian besar merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. China juga mulai memasuki aging population. Pada 1979, jumlah penduduk berusia 65 tahun dan lebih hanya sekitar 4,5% dari total penduduk. Pada 2020, angka ini mencapai 11,9%.

Sementara usia produktif yaitu 15-64 tahun terus menurun. Pada 2010, kelompok usia produktif 73,26% dari populasi, angka ini semakin rendah menjadi 70,32% pada 2020. Di sisi lain jumlah pengangguran meningkat. Sejak 1981 hingga 2001, angka pengangguran selalu di bawah 4%. Sejak 2002, angka pengangguran sekitar 4% hingga 2020.

Pertumbuhan ekonomi juga sudah kurang moncer lagi. Pelemahan ekonomi di China sebenarnya sudah terjadi sejak 2011-2012. Saat itu pertumbuhan ekonomi merosot dari 9,5% menjadi 7,8%. Namun, dampak lebih kuat terasa pada tahun 2016 saat pertumbuhan kian merosot ke angka 6%. Setelah itu pertumbuhan ekonomi China sulit untuk pulih lagi.

Pertumbuhan ekonomi yang terus menurun ditambah tingkat pengangguran yang semakin meningkat membuat konsumsi domestik loyo. Kondisi ini mendesak China untuk merubah strategi ekonomi. Sebelumnya, China sangat ambisius untuk menggenjot ekspor untuk menguasai pasar internasional kini lebih memperkuat konsumsi domestik.

Peningkatan jumlah populasi diharapkan bisa memperkuat konsumsi domestik dan menggenjot pertumbuhan ekonomi China. Kebijakan meningkatkan jumlah anak untuk mengatasi resesi seks memang tidak instan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Selain itu, dibutuhkan dukungan kebijakan dari sektor lain untuk menata pola demografi agar kondusif bagi perkembangan ekonomi dalam jangka panjang.

Beta Perkasa dosen FEB UHAMKA Jakarta

Dikutip detik.com Selasa, 13 September 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Abis Manis IKN, Sepah “Suharso Monoarfa” Dibuang

Next Post

Pidato Pertama Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Pidato Pertama Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.

Pidato Pertama Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.

Jokowi Bisa Maju Cawapres di 2024, Ini Respons PDIP

Jokowi Bisa Maju Cawapres di 2024, Ini Respons PDIP

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist