• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Ali Syarief by Ali Syarief
March 11, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Share on FacebookShare on Twitter

Pidato politik sering kali dapat dibaca seperti peta pikiran seorang pemimpin. Kata-kata yang diulang bukan sekadar retorika; ia menunjukkan prioritas, kegelisahan, bahkan strategi legitimasi kekuasaan. Dalam berbagai pidato Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya, ada beberapa diksi yang berulang secara konsisten: Makan Bergizi Gratis (MBG), kemiskinan, pendidikan, kesehatan, stunting, dan kesejahteraan rakyat.

Jika pidato itu dibaca sebagai naskah politik, maka fokus pembangunan yang ingin ditampilkan adalah sangat jelas: negara hadir untuk mengatasi kemiskinan melalui intervensi langsung pada gizi, kesehatan, dan pendidikan anak-anak. Narasi ini sederhana, populis, dan mudah dipahami. Ia memotret negara sebagai penyedia kebutuhan dasar rakyat.

Namun, jika retorika itu kemudian dibandingkan dengan tema-tema kampanye politik dan aktivitas politik sehari-hari yang mengiringi kekuasaan, muncul pertanyaan yang lebih serius: apakah konsentrasi pembangunan yang diucapkan sejalan dengan energi politik yang benar-benar dijalankan?

Retorika Sosial: Negara sebagai Penyedia Gizi dan Harapan

Dalam berbagai pidato kebijakan, Prabowo berulang kali menempatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai simbol kebijakan utama pemerintahannya. Program ini dikaitkan dengan hampir semua isu: penanggulangan kemiskinan, pencegahan stunting, peningkatan kualitas pendidikan, bahkan penguatan ekonomi desa.

Secara retorik, struktur argumennya sederhana:

  • anak sehat → belajar lebih baik
  • pendidikan lebih baik → produktivitas meningkat
  • produktivitas meningkat → kemiskinan berkurang

Dengan kata lain, pembangunan dibingkai melalui logika kesejahteraan dasar. Negara digambarkan sebagai pelindung generasi masa depan.

Dalam retorika ini, kata-kata seperti “kemiskinan”, “pendidikan”, “kesehatan”, dan “gizi anak” menjadi mantra pembangunan. Repetisi itu bukan kebetulan; ia membentuk citra pemerintahan yang peduli pada manusia, bukan hanya pada angka pertumbuhan ekonomi.

Namun, retorika sering kali bekerja seperti panggung teater: ia menunjukkan cerita tertentu, sementara cerita lain berlangsung di belakang layar.

Realitas Politik: Energi Kekuasaan yang Berpindah

Jika perhatian dialihkan dari pidato ke aktivitas politik sehari-hari, lanskapnya terlihat berbeda. Energi politik nasional tidak sepenuhnya terserap pada perdebatan tentang kesehatan anak, pendidikan, atau pengentasan kemiskinan. Sebaliknya, ruang publik justru lebih banyak dipenuhi oleh dinamika kekuasaan: konsolidasi partai, tarik-menarik koalisi, perebutan posisi strategis, dan manuver politik menuju berbagai kontestasi politik berikutnya.

Dalam praktik politik Indonesia, hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Pemerintahan sering kali membangun narasi sosial untuk publik, sementara mesin politik bekerja pada agenda lain: stabilitas kekuasaan, penguatan koalisi, dan distribusi kekuasaan di antara elite.

Di sinilah muncul ketegangan antara retorika pembangunan dan realitas politik.

Jika retorika pembangunan berbicara tentang anak-anak yang lapar dan sekolah yang kekurangan fasilitas, maka realitas politik sering kali berkutat pada kalkulasi kekuasaan: siapa yang menguasai partai, siapa yang menguasai parlemen, dan siapa yang akan menjadi penerus kekuasaan di masa depan.

Politik Program atau Politik Simbol?

Program seperti MBG secara konseptual memiliki potensi besar. Banyak negara menggunakan program nutrisi anak sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun dalam politik, sebuah program juga dapat berfungsi sebagai simbol kekuasaan.

Simbol memiliki kekuatan mobilisasi yang luar biasa. Ia mudah diingat, mudah disederhanakan, dan mudah dipromosikan. Dalam konteks ini, MBG bukan hanya program kebijakan, tetapi juga ikon politik pemerintahan.

Masalahnya muncul ketika simbol lebih dominan daripada sistem. Pembangunan tidak hanya membutuhkan program populis; ia membutuhkan reformasi yang lebih dalam: kualitas pendidikan, efisiensi birokrasi, keadilan hukum, dan keberlanjutan ekonomi.

Tanpa itu, program sosial bisa berubah menjadi retorika kesejahteraan yang menghangatkan pidato, tetapi tidak sepenuhnya mengubah struktur kemiskinan.

Antara Janji dan Arah Sejarah

Sejarah politik menunjukkan bahwa kata-kata pemimpin sering kali menjadi arsip yang paling jujur tentang niat mereka. Diksi yang diulang dalam pidato Prabowo jelas menunjukkan keinginan untuk menempatkan pemerintahannya sebagai pemerintahan yang berfokus pada rakyat kecil.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa pembangunan tidak diukur dari kata-kata yang paling sering diucapkan, melainkan dari energi politik yang paling banyak digunakan.

Apakah energi itu benar-benar diarahkan untuk memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat?
Ataukah sebagian besar energi itu justru terserap dalam dinamika kekuasaan yang terus berputar di lingkaran elite?

Pertanyaan inilah yang pada akhirnya akan menentukan apakah repetisi kata-kata seperti MBG, kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan akan dikenang sebagai agenda pembangunan yang nyata, atau sekadar retorika politik yang indah di atas mimbar kekuasaan.

Karena dalam politik, kata-kata bisa diulang berkali-kali.
Tetapi sejarah hanya mencatat satu hal: apa yang benar-benar dilakukan oleh kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“CAPEK MISKIN”: TERIAKAN DARI DASAR LUMPUR KETIMPANGAN

Next Post

Kapan Amerika dan Israel Akan Mengakhiri Perang dengan Iran?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru
News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?
Feature

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara
Feature

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Next Post
Trump : Netanyahu Tidak Siap Menghadapi Serangan Hamas

Kapan Amerika dan Israel Akan Mengakhiri Perang dengan Iran?

Polisi Penjaga Korporasi: Menggugat Dehumanisasi Masyarakat Adat Dayak oleh Polri

Polisi Penjaga Korporasi: Menggugat Dehumanisasi Masyarakat Adat Dayak oleh Polri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

June 3, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

June 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...