• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

“CAPEK MISKIN”: TERIAKAN DARI DASAR LUMPUR KETIMPANGAN

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
March 11, 2026
in Economy, Feature
0
“CAPEK MISKIN”: TERIAKAN DARI DASAR LUMPUR KETIMPANGAN
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, tampak bersujud di hadapan pejabat pusat dalam sebuah Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal antara pemerintah pusat dan daerah. Ia tidak tersangkut masalah hukum sehingga tidak harus memohon ampunan. Sujud itu lahir dari kepedihan yang mendalam—kepedihan menyaksikan rakyat di Nias Utara yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Di hadapan para pejabat tinggi negara, ia hanya mengucapkan kalimat sederhana namun menghantam nurani.

“Pak Menteri, Pak Gubernur, dan Bapak Ibu semuanya… kami sudah capek miskin.”

Dua kata: capek miskin.

Pendek, tetapi sarat luka. Ia bukan sekadar ungkapan keluhan, melainkan jeritan batin dari daerah yang terlalu lama tertinggal. “Capek miskin” bukan hanya kelelahan secara finansial, tetapi juga kelelahan mental—kelelahan memikirkan hidup yang terus terasa makin sulit.

Dalam makna yang lebih luas, kondisi ini dapat digambarkan dengan metafora yang getir: si kaya ongkang-ongkang kaki di atas awan, sementara si miskin menggelepar di dasar lumpur.

Ungkapan ini menggambarkan kesenjangan ekonomi yang sangat kontras.

“Si kaya di atas awan” berarti kelompok yang hidup dalam kenyamanan, kemewahan, dan kemapanan—jauh dari rasa cemas tentang hari esok.

Sebaliknya, “si miskin di dasar lumpur” menggambarkan kehidupan yang terjebak dalam kesulitan yang nyaris tanpa jalan keluar: penghasilan yang pas-pasan, akses pendidikan terbatas, pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau, serta kesempatan ekonomi yang sempit.

Inilah potret ketimpangan yang nyata.


Ketimpangan ekonomi di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rasio gini Indonesia pada Maret 2025 berada di angka 0,375, menurun dari 0,381 pada September 2024. Secara statistik, ini berarti ketimpangan pengeluaran memang sedikit berkurang.

Namun angka nasional seringkali menutupi kenyataan di daerah.

Beberapa provinsi bahkan memiliki rasio gini yang jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional, di antaranya:

  • DKI Jakarta : 0,441

  • DI Yogyakarta : 0,426

  • Jawa Barat : 0,416

  • Papua Selatan : 0,412

  • Papua : 0,404

  • Gorontalo : 0,392

  • Kepulauan Riau : 0,382

Perbedaan antara wilayah perkotaan dan pedesaan juga masih terasa. Rasio gini di perkotaan pada Maret 2025 tercatat 0,395, sedangkan di perdesaan 0,299.

Meski menunjukkan perbaikan, ketimpangan tetap menjadi tantangan besar, terutama dalam hal akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.


Secara umum, ketimpangan di Indonesia bersumber dari beberapa persoalan mendasar.

Pertama, distribusi kekayaan yang tidak merata.
Sebagian kecil kelompok masyarakat menguasai sebagian besar aset ekonomi.

Kedua, kesenjangan kesempatan pendidikan.
Akses terhadap pendidikan berkualitas masih sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi.

Ketiga, kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya merata.
Sebagian daerah berkembang pesat, sementara daerah lain tertinggal jauh.

Keempat, ketidaksetaraan akses terhadap modal, teknologi, dan sumber daya ekonomi.

Akibatnya, kesenjangan antara kaya dan miskin, serta antara kota dan desa, terus melebar.


Ketimpangan ekonomi bukan sekadar persoalan angka statistik. Ia membawa dampak sosial yang nyata.

Pertama, akses terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi terbatas bagi kelompok masyarakat miskin.

Kedua, potensi meningkatnya kriminalitas, karena tekanan ekonomi yang tinggi.

Ketiga, munculnya ketegangan sosial, akibat rasa ketidakadilan yang terus menumpuk di masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, pernyataan “capek miskin” menjadi sangat masuk akal. Ia adalah ungkapan kelelahan kolektif dari masyarakat yang merasa terlalu lama berjalan tanpa mencapai kesejahteraan.


Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi ketimpangan, antara lain melalui:

  1. Penerapan pajak progresif, dengan tarif lebih tinggi bagi kelompok berpenghasilan besar.

  2. Program bantuan sosial, seperti BLT, PKH, dan Kartu Sembako.

  3. Peningkatan akses pendidikan, melalui Program Indonesia Pintar dan berbagai pelatihan kerja seperti Kartu Prakerja.

  4. Pembangunan infrastruktur, termasuk jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, dan sarana dasar lainnya.

  5. Dana Alokasi Khusus (DAK) bagi daerah tertinggal.

  6. Penguatan UMKM, melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan berbagai program pemberdayaan ekonomi.

Langkah-langkah ini tentu penting. Namun tantangan ketimpangan masih sangat besar dan membutuhkan upaya yang jauh lebih serius, konsisten, dan berkelanjutan.


Sujud seorang bupati dari daerah tertinggal seharusnya tidak hanya dipandang sebagai peristiwa emosional.

Ia adalah peringatan moral bagi negara.

Di balik berbagai statistik pertumbuhan ekonomi, masih ada rakyat yang lelah memikul beban kemiskinan.

Masih ada daerah yang merasa terlalu lama menunggu giliran untuk maju.

Dan selama ketimpangan masih menganga, selama itu pula jeritan yang sama akan terus terdengar dari berbagai sudut negeri:

“Kami sudah capek miskin.”

Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama.

(Penulis: Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Setara Institute: Pelanggaran Kebebasan Beragama di Indonesia Masih Tinggi pada 2025

Next Post

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat
Feature

Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra
Feature

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra
Feature

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

May 25, 2026
Next Post
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Trump : Netanyahu Tidak Siap Menghadapi Serangan Hamas

Kapan Amerika dan Israel Akan Mengakhiri Perang dengan Iran?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pelibatan Tentara Atasi Begal Menyimpang dari Fungsi TNI

Pelibatan Tentara Atasi Begal Menyimpang dari Fungsi TNI

May 25, 2026
Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat

Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

May 25, 2026

Menghidupkan Ruh PAI di Madrasah: Strategi Taktis Menanamkan Soft Skills Pasca-Pembatasan Gawai

May 25, 2026
Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pelibatan Tentara Atasi Begal Menyimpang dari Fungsi TNI

Pelibatan Tentara Atasi Begal Menyimpang dari Fungsi TNI

May 25, 2026
Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat

Pemadaman Sumatera: Ketika Listrik Padam, Peradaban Ikut Tersendat

May 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...