Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Profesor Frans Magnus Soeseno menyindir partai – partai politik yang sibuk dengan upaya membangun koalisi dan mencari capres ketimbang betpikir tentang gagasan Besar tentang bangsa.
Dalam Seminar Mahkamah Kehormatan Dewan DPR RI bertajuk : Menyongsong Kontestasi Demokrasi. Mencari Wakil Rakyat yang Bervisi, Bernurani dan Berparadigma Etis di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (17/3).
Guru besar Ilmu filsafat Sekolah Tinggi Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Soeseno, mengkritik partai politik yang lebih sibuk urus koalisi dan pencalonan presiden tanpa mengemukakan gagasan berarti jelang Pemilu 2024.
“Terus terang saja sampai sekarang yang kita lihat terutama dalam pembicaraan berbagai kombinasi capres dan cawapres, dapat membuat kita ragu-ragu,” kata Romo Magnis dalam papaparannya
“Yang terus dibicarakan hanya siapa (capres), dengan (cawapres) siapa, dukungan dari partai mana, dan sebagainya,” lanjut dia.
Padahal, esensi dalam kompetisi seperti pemilu adalah persaingan gagasan. Magnis mengkritik, partai politik sebagai peserta pemilu mestinya peka terhadap berbagai isu yang menjadi masalah kebangsaan
Ia mengambil contoh, misalnya, angka kemiskinan di Indonesia masih jadi masalah yang hingga kini belum teratasi namun luput dalam diskursus partai politik jelang Pemilu 2024.
Isu-isu lain, seperti kedaulatan pangan, pendidikan, hingga masalah korupsi yang tak kunjung beres seharusnya jadi fokus pembicaraan sebagai gagasan politik jelang kontestasi.
“Yang harus kita tanyakan, partai Anda menjanjikan apa kalau didukung dalam pemilihan yang akan datang? Kalau Anda dipilih menjadi presiden atau wakil presiden, begitu pula kalau Anda dipilih untuk mewakili kami, tindakan apa yang Anda akan ambil?” ungkap Magnis.
“Dalam perekonomian, langkah perekonomian apa yang Anda akan ambil mengingat masih 10 persen bangsa hidup di garis kemiskinan?” ucap dia.
Karena absennya gagasan dalam diskursus politik hari-hari belakangan, Magnis berharap agar pemilih betul-betul aktif mencari tahu rekam jejak tokoh-tokoh politik yang mencalonkan diri.
“Kalau kita mau memilih wakil kita yang bermutu, kita harus mencek apakah mereka punya visi, berhati nurani, dan berpandangan etis,” tutur dia.





















