• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Saat Merasa Paling Beriman, Saat Itulah Iblis Mendekat

fusilat by fusilat
May 10, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Banyak manusia takut kehilangan harta, jabatan, dan nama baik. Namun, hanya sedikit yang benar-benar takut kehilangan iman. Padahal, yang paling mahal dalam hidup bukanlah kekayaan ataupun kedudukan, melainkan kemampuan menjaga hati tetap lurus di tengah godaan yang perlahan merusak manusia dari dalam.

Ironisnya, justru ketika seseorang merasa imannya sudah kuat, di situlah bahaya sering mulai mendekat.

Ada satu kesalahan yang tumbuh diam-diam dalam diri manusia beragama: merasa dirinya cukup kuat menghadapi godaan. Awalnya tampak seperti keyakinan, tetapi perlahan berubah menjadi kesombongan yang halus. Dan kesombongan paling berbahaya bukanlah yang tampak di wajah, melainkan yang tersembunyi di balik rasa percaya diri terhadap iman sendiri.

Padahal, sejarah para nabi justru mengajarkan hal yang sebaliknya.

Nabi Ibrahim tidak pernah meminta diuji. Ia tidak pernah menantang Allah dengan mengatakan dirinya siap menghadapi cobaan apa pun. Ujian itu datang dari Allah, di luar bayangan dan logika manusia. Perintah untuk mengorbankan putranya sendiri bukan sekadar ujian kehilangan, melainkan benturan antara cinta seorang ayah dan ketaatan seorang hamba.

Yang luar biasa, Nabi Ibrahim tidak sibuk mempertanyakan ketetapan Allah. Ia merespons ujian itu dengan kepatuhan, keikhlasan, dan kesabaran.

Al-Qur’an menggambarkan momen tersebut dengan sangat menyentuh dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada putranya, beliau berkata:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Jawaban Nabi Ismail bukan penolakan dan bukan pula kepanikan:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Di situlah letak kemuliaan iman: bukan menantang ujian, melainkan merespons ujian dengan kepatuhan.

Manusia modern sering keliru memahami kesalehan. Ada yang merasa sudah lama belajar agama lalu menganggap dirinya aman dari penyimpangan. Ada yang merasa aktif berdakwah sehingga yakin tidak mungkin tergelincir. Ada pula yang merasa mampu mengendalikan hawa nafsu sehingga berani bermain terlalu dekat dengan godaan.

Padahal, setan tidak selalu datang dengan wajah menakutkan. Kadang ia hadir melalui rasa aman terhadap diri sendiri.

Iblis tidak perlu buru-buru menjatuhkan manusia. Ia cukup membuat manusia merasa tidak mungkin jatuh. Dari situlah jebakan dimulai.

Ironisnya, kesombongan spiritual sering dibungkus simbol kesalehan. Seseorang yang dikenal saleh, dihormati masyarakat, fasih berbicara agama, bahkan hafal banyak ayat, tetaplah manusia biasa yang memiliki kelemahan dan hawa nafsu.

Ketika muncul keyakinan berlebihan bahwa dirinya pasti mampu mengendalikan seluruh godaan, saat itulah pertahanan mulai retak.

Narasi berikutnya sering kali menyedihkan. Awalnya hanya merasa aman berada dekat dengan godaan. Lalu merasa mampu mengontrol keadaan. Kemudian batas-batas mulai bergeser sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya jatuh pada kemaksiatan yang dahulu diyakininya mustahil menaklukkannya.

Kita hidup di zaman yang penuh contoh tentang hal itu. Ada tokoh publik yang bertahun-tahun dikenal religius, tetapi runtuh oleh skandal moral. Ada pejabat yang dulu tampil sederhana dan bersih, tetapi akhirnya terjerat korupsi. Ada aktivis yang lantang berbicara tentang keadilan, tetapi perlahan tergoda kekuasaan yang dahulu dikritiknya sendiri.

Hampir semuanya memiliki pola yang mirip: terlalu yakin dirinya tidak mungkin jatuh.

Padahal manusia jatuh bukan selalu karena tidak tahu mana yang salah, melainkan karena terlalu percaya diri bahwa dirinya akan selalu benar. Bukan karena ilmunya hilang, bukan pula karena hafalannya lenyap, tetapi karena muncul rasa takabur yang sangat halus: merasa dirinya kuat.

Bahkan para nabi pun tidak pernah merasa aman terhadap ujian iman.

Ada doa Nabi Ibrahim yang sangat terkenal dalam Surah Ibrahim ayat 35:

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.”

Perhatikan makna doa itu. Nabi Ibrahim—penghancur berhala, bapak tauhid, manusia pilihan Allah—masih memohon agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari kesesatan.

Mengapa?

Karena beliau memahami satu hal yang sering dilupakan manusia: hati manusia berada dalam genggaman Allah.

Hari ini seseorang terlihat saleh, besok bisa tergelincir. Hari ini seseorang menangis dalam doa, besok bisa lalai karena pujian manusia. Hari ini seseorang kuat menahan hawa nafsu, besok bisa runtuh oleh satu celah kecil yang dianggap sepele.

Keimanan bukan sertifikat permanen. Ia adalah perjuangan yang harus terus dijaga dengan rasa takut, harap, dan kerendahan hati.

Karena itu, orang beriman sejati biasanya tidak sibuk memamerkan kekuatan imannya. Mereka justru lebih sering khawatir terhadap dirinya sendiri. Mereka tidak menantang ujian, tetapi memohon perlindungan agar tidak gagal ketika ujian datang.

Sebab yang paling berbahaya bukan dosa yang disadari, melainkan kesombongan yang dianggap sebagai keteguhan iman. Dan sejarah pertama kesombongan itu dimulai ketika iblis menolak perintah Allah karena merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam.

Itulah sebabnya Islam mengajarkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut: berharap penuh kepada rahmat Allah, tetapi tetap takut jika hati perlahan berubah tanpa disadari.

Karena iman bukan hanya soal seberapa tinggi seseorang pernah berdiri, tetapi juga seberapa rendah hati ia menjaga dirinya agar tidak jatuh.

Kesimpulan

Keimanan bukan arena untuk menunjukkan keberanian menantang godaan, melainkan kemampuan untuk tetap rendah hati di hadapan Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada merasa kuat menghadapi ujian, tetapi pada kepatuhan dan kesabaran saat ujian itu benar-benar datang.

Takabur spiritual adalah pintu menuju kejatuhan yang sering tidak disadari. Semakin seseorang merasa aman terhadap imannya sendiri, semakin besar kemungkinan ia lengah terhadap tipu daya setan.

Saran

Di zaman ketika simbol kesalehan mudah dipertontonkan, manusia perlu lebih banyak menjaga hati daripada menjaga citra. Jangan merasa terlalu kuat menghadapi maksiat, jangan merasa terlalu aman dari godaan, dan jangan pernah menganggap diri kebal dari bisikan setan.

Perbanyak doa, kurangi rasa bangga terhadap diri sendiri, dan tetaplah rendah hati di hadapan Allah. Karena iman yang selamat sering kali bukan milik mereka yang paling percaya diri, melainkan milik mereka yang terus merasa membutuhkan pertolongan Allah.

Referensi

  • Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102–107
  • Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 35
  • Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 11–18 tentang kesombongan iblis
  • Tafsir Ibnu Katsir pada Surah Ash-Shaffat dan Surah Ibrahim
  • Hadits riwayat Sahih Muslim:

    “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Pengasih, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.”

  • Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali tentang penyakit hati, ujub, dan bahaya takabur.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rahasia Umur Panjang – Jepang dan Generasi Hikikomori: Ketika Orang Tua 90 Tahun Masih Mengurus Anak Usia 60 Tahun

Next Post

Reuni Alumni SMP Pertiwi 1973-1976: Semangat Silaturahmi di Usia Senja, dari Halal Bihalal hingga Tawaran Bisnis Sehat

fusilat

fusilat

Related Posts

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan
Feature

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

June 24, 2026
Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan
Birokrasi

Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

June 24, 2026
Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif
Feature

Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

June 24, 2026
Next Post
Reuni Alumni SMP Pertiwi 1973-1976: Semangat Silaturahmi di Usia Senja, dari Halal Bihalal hingga Tawaran Bisnis Sehat

Reuni Alumni SMP Pertiwi 1973-1976: Semangat Silaturahmi di Usia Senja, dari Halal Bihalal hingga Tawaran Bisnis Sehat

Dissecting the Philosophical Roots of Islamic Education: Eliminating Dichotomy, Building Integration

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok
Law

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

by Karyudi Sutajah Putra
June 22, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Penangkapan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya, Jumat (19/6/2026), terkesan seperti menangkap teroris....

Read more
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
MBG dan Adu Domba Rakyat

MBG dan Adu Domba Rakyat

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

June 24, 2026
Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

June 24, 2026
Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

June 24, 2026
Menanti Saatnya Perang Diametral: Prabowo vs Jokowi

Menanti Saatnya Perang Diametral: Prabowo vs Jokowi

June 24, 2026
Gibran Hebat: Membuat Kampus Bergolak

Gibran Hebat: Membuat Kampus Bergolak

June 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Makin Terpojok Jokowi, Makin Lapang Jalan Politik Prabowo

June 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

June 24, 2026
Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

June 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...