“Jika kursi partai bisa diwariskan, maka jangan heran jika kelak kita bukan memilih pemimpin, tapi menonton drama keluarga setiap lima tahun sekali. Indonesia: dari Republik jadi Republik Turunan.”
Fusilatnews – Bila seorang anak mencalonkan diri sebagai ketua umum partai, itu biasa. Tapi kalau yang diduga akan menjadi pesaing terkuatnya justru bapaknya sendiri—itu baru luar biasa. Kaesang Pangarep mendaftar sebagai calon ketua umum PSI, dan satu-satunya orang yang bikin dia keringatan bukan Ganjar, bukan Anies, bukan Puan apalagi Giring, tapi… Jokowi. Bapaknya sendiri.
Apa-apaan ini?
Bangsa kita memang punya bakat istimewa untuk menciptakan drama politik yang lebih indah dari sinetron dan lebih absurd dari teater absurd. Jokowi, yang baru saja menanggalkan sepatu presiden, malah dirumorkan akan nyemplung ke kolam yang sama: PSI. Sebuah partai yang sudah lama disebut-sebut sebagai kendaraan cadangan keluarga, kini makin terang jadi rumah utama mereka.
Kaesang datang ke kantor DPP PSI dengan senyum santai, baju putih bersih, dan syal merah yang dikalungkan kader seolah dia sedang naik haji politik. Ibu-ibu bawa kipas wajahnya, abang-abang bawa bendera bergambar dirinya. Ada yang bertanya, ini pendaftaran caketum atau acara fan meeting? Poster bertuliskan “Kaesang K-nya apa? Ketum dong” bertebaran, seperti menegaskan bahwa yang datang ini bukan siapa-siapa, tapi penerus tahta.
Tapi tunggu dulu. Di luar sana, masih terdengar nama Jokowi bergema di lorong-lorong PSI. Katanya, sang mantan presiden pun dilirik jadi ketua umum. Apakah ini sinyal perebutan tahta atau sekadar pengalihan isu supaya publik tidak sadar bahwa partai ini sebenarnya bukan lagi alat politik, tapi keluarga berencana?
Bayangkan bila yang maju beneran Jokowi. Maka panggung politik berubah menjadi panggung Bapak vs Anak. Duel rumah tangga yang dipublikasikan lewat e-voting. Pemenangnya? Entah. Yang jelas, kalah menang tetap keluarga.
Kaesang mungkin anak muda penuh semangat dan modal, tapi kalau Jokowi ikut bertarung, maka ia bukan sekadar pesaing: ia adalah bayangan besar yang membungkus PSI sejak awal. Dengan bahasa Jokowi yang pelan, senyum tipis, dan gaya khas ‘mendukung dari belakang tapi kelihatan dari depan’, ia bisa jadi calon yang tak perlu daftar pun sudah pasti menang.
Di sinilah pangkal masalahnya. Bukan pada siapa yang layak jadi ketum, tapi mengapa partai ini seperti tidak ada orang lain selain mereka. Di mana kader yang sejak awal berdarah-darah membangun PSI dari nol? Kini harus antre di belakang keluarga Jokowi hanya demi selembar restu?
Ini bukan demokrasi, Bung. Ini franchise.
Dan di dalam franchise, yang berkuasa bukan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling dekat dengan pemilik merek. Kaesang boleh punya masa depan, tapi Jokowi punya masa lalu yang lebih panjang. Dan dalam politik Indonesia, masa lalu seringkali lebih seksi daripada rencana-rencana masa depan.
Jadi siapa pesaing Kaesang? Bukan Giring, bukan mantan-mantan aktivis medsos PSI yang sekarang lesu. Satu-satunya pesaing nyata Kaesang adalah ayahnya sendiri. Jika Jokowi memutuskan turun gunung, maka bukan hanya PSI yang bergetar. Demokrasi kita pun makin terlihat seperti usaha keluarga.
Bodoh amat ada calon lain yang sanggup bisa menang! Karena dalam republik yang sudah digadaikan kepada dinasti, calon terbaik adalah yang punya DNA yang tepat.


























