Fusilatnews – Kalau Edward Carr masih hidup, mungkin beliau bakal kaget mendengar bahwa tafsir sejarah di negeri +62 kini dipegang oleh seorang pujangga Twitter bernama Fadli Zon. Bukan karena kapasitas akademiknya, tentu saja, melainkan karena keberaniannya menyebut pemerkosaan massal dalam Tragedi Mei 1998 sebagai “isu yang belum lolos uji akademik”. Mungkin maksudnya belum diuji dengan Google Scholar, atau mungkin juga pakai tes DNA dari zaman Majapahit.
Tapi sudahlah, mari kita mulai dengan mengingat kembali bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan tanggal, angka, dan nama pahlawan berambut klimis yang patuh pada negara. Sejarah adalah arena perebutan narasi, dan di tangan pemerintah Prabowo-Fadli, sejarah tak ubahnya seperti mie instan rasa “netral tapi pedes”—paling enak disantap saat rakyat sedang lupa arah reformasi.
Kini, sejarah Indonesia hendak ditulis ulang, tentu bukan dengan pena yang netral, tapi dengan spidol tebal berwarna merah-putih yang sudah dikontrol editor senior: Kepentingan Kekuasaan. Misi utama: “Lupakan tragedi, mari bertepuk tangan.”
Bayangkan, pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998, yang sudah dicatat oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Komnas HAM, bahkan oleh air mata para korban sendiri, kini dituduh sebagai hoaks yang tak akademis. Kalau air mata bisa dikonversi jadi disertasi, para korban mungkin sudah jadi profesor kehormatan dalam bidang “Ilmu Dilupakan Negara”.
Sungguh, ini bukan sekadar pengingkaran, tapi penghalusan sejarah dengan gilingan halus level ultrafine. Kita hampir bisa mendengar Fadli bilang, “Jangan sedih, ini semua hanya mimpi buruk kolektif. Bangun, mari kita nyanyi Indonesia Raya versi remaster!”
Tentu saja Prabowo punya konflik kepentingan. Kalau Anda adalah mantan Danjen Kopassus saat kerusuhan 1998 dan sekarang jadi presiden, lalu sahabat Anda yang juga jenderal jadi Menhan, ya minimal Anda sewa penulis independen untuk menulis sejarah, bukan kasih pena ke loyalis yang lebih fasih berpantun daripada meneliti arsip. Tapi ya, siapa kita ini? Rakyat kecil, hanya bisa menonton.
Lucunya, jika Prabowo benar ingin membersihkan namanya, mestinya sejarah justru dibuka lebar-lebar, dibedah seperti kucing di meja bedah biologi. Tapi Prabowo seperti sedang memainkan drama klasik: “Kalau tak dibuka, tak terbukti.” Mirip logika anak sekolah yang bilang, “Kalau nggak liat nilainya, berarti belum remedial.”
Kalau dulu Soeharto menulis sejarah dengan tinta militeristik, maka kini Prabowo mencoba menulis ulang sejarah dengan tinta penghapus. Yang dulu disebut pengkhianat kini bisa jadi patriot. Yang korban bisa jadi pelupa. Yang trauma malah dibilang berhalusinasi.
Dulu kita punya sejarah versi Orde Baru: PKI salah, Soeharto suci. Sekarang kita punya sejarah versi Orde Baru Remaster: Prabowo pahlawan, Fadli dosennya. Akal sehat? Libur semester.
Jadi, sebaiknya bagaimana? Mudah. Kalau Fadli Zon memang begitu terinspirasi oleh Prabowo, lebih baik dia menulis otobiografi fiktif Prabowo Subianto saja. Judulnya bisa: “Aku Bukan Dalang, Hanya Tertuduh yang Naik Tahta.” Atau, “Dari Mei ke Istana: Kisah Tentara, Twitter, dan Tafsir.” Dijamin laku keras, minimal di toko buku milik BUMN.
Akhir kata, jika sejarah adalah milik pemenang, maka marilah kita berdoa semoga pemenangnya bukan penipu ingatan. Sebab ketika kebenaran disulap jadi kabar burung, maka kita tak sedang menulis sejarah. Kita sedang bikin drama kolosal tanpa sutradara, tanpa skrip, dan penuh aktor yang lupa cara malu. ●


























