Fusilatnews – Garuda itu bukan maskapai biasa. Ia lambang negara, burung sakti yang menempel di dada Pancasila. Tapi dalam kenyataan, Garuda lebih sering tampil sebagai maskapai tersesat: pesawatnya raksasa, rutenya gemuk, harga tiketnya bikin kantong keriput, tapi rekeningnya selalu kempes.
Kini pemerintah kembali memainkan satu lakon lama: menyelamatkan Garuda. Kali ini bukan lewat Penyertaan Modal Negara (PMN) seperti zaman dulu, tapi lewat tangan baru bernama Danantara — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Sebuah nama yang panjangnya seperti kereta api, tapi isinya masih belum jelas apakah ini lokomotif atau gerbong kosong.
Danantara akan menyuntik Garuda sebesar Rp 20 triliun. Iya, dua puluh triliun. Nol-nya ada dua belas. Duit sebanyak itu bisa bangun ratusan sekolah, memperbaiki ribuan Puskesmas, atau memberi beasiswa hingga anak cucu. Tapi yang dipilih adalah menyuntik satu maskapai yang sudah bolak-balik gagal menyembuhkan dirinya sendiri.
Ini bukan investasi. Ini perjudian. Pemerintah sedang main dadu di meja kas negara, berharap Garuda, yang sejatinya sudah bangkrut sejak zaman batu, bisa bangkit dari kubur. Bukan karena logika bisnis, tapi demi satu kata yang sayangnya mahal sekali: gengsi.
Ya, Garuda adalah soal gengsi. Tak enak rasanya kalau maskapai nasional kita bangkrut, sementara negara tetangga sudah punya pesawat yang bisa menyajikan rendang di ketinggian 35.000 kaki. Tapi kalau tiap tahun harus disuntik, bukankah Garuda sebaiknya jadi rumah sakit saja, bukan maskapai?
Presiden Prabowo pun tak mau ketinggalan. Beliau menugasi Danantara menyelamatkan Garuda. Sebuah tugas yang lebih mirip misi penyelamatan Titanic dengan sekop kecil: semangatnya besar, tapi alatnya tak cukup.
Masalahnya, ini bukan suntikan pertama. Sudah berkali-kali Garuda diberi dana segar, modal tambahan, restrukturisasi hutang, bahkan “penyembuhan spiritual” lewat penggantian direksi. Tapi hasilnya nihil. Sama seperti memberi vitamin pada bangunan tua yang retak: tampak sehat, tapi bisa roboh kapan saja.
Garuda bukan hanya soal manajemen yang buruk. Ia sudah menjadi simbol kebiasaan buruk negeri ini: menyelamatkan yang gagal, menutup mata pada akuntabilitas, dan merayakan ilusi ketimbang evaluasi.
Sementara di luar sana, maskapai swasta berjuang tanpa disuapi negara. Mereka harus mencari untung sendiri, menekan biaya, bersaing dengan harga. Tapi Garuda tetap istimewa — bak anak sulung yang selalu diberi uang saku lebih, meskipun nilai ujiannya merah terus.
Jadi pertanyaannya sederhana: sampai kapan negara harus terus bermain judi dengan uang rakyat? Sampai kapan kita menebus gengsi dengan triliunan rupiah?
Kalau memang Garuda bisa diselamatkan, silakan buktikan. Tapi kalau lagi-lagi ia hanya jadi sumur uang yang tak pernah penuh, lebih baik pemerintah belajar satu hal yang sulit tapi penting: merelakan. Karena menyelamatkan Garuda demi gengsi bukanlah nasionalisme, melainkan kebodohan yang dibungkus simbol negara.
Dan burung Garuda, kalau terus diberi makan tanpa belajar terbang sendiri, lama-lama akan jadi ayam negeri. Gemuk, mahal, tapi tak pernah sampai ke mana-mana.


























