• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Science & Cultural

Satu Siang di Lorong Rumah Sakit

Pipiet Senja by Pipiet Senja
June 19, 2022
in Science & Cultural
0
Satu Siang di Lorong Rumah Sakit

(Foto: Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Pipiet Senja

Anno 1992

Sejak bayi anak-anakku sudah terbiasa kubawa ke mana pun pergi. Terutama jika aku ke rumah sakit, dan bekerja yang tak lain adalah jualan naskah ke kantor-kantor redaksi.

Di masa Balita Haekal, sulungku, kami sempat hidup terpisah dari sosok yang pantas disebut ayah. Bersama Haekal, kami berdua pernah mengalami masa-masa yang sangat nestapa. Tidak demikian halnya dengan putriku. Ia hampir tiap saat bisa jumpa dan bergaul dengan ayahnya.

            Tiap dua-tiga bulan sekali aku harus meluangkan waktu untuk pergi ke rumah sakit, kontrol darah yang akan berujung dengan transfusi. Tiga bulan pertama, kudatangkan neneknya dari Cimahi, menjagai bayiku selama aku berurusan dengan rumah sakit. Demikian pula dua-tiga kali transfusi berikutnya, kalau bukan adikku tentu ibuku yang kudatangkan dari Cimahi. Sampai ayahku dipanggil Sang Pencipta beberapa bulan yang lalu.

            “Sekarang sudah besar dia, bawa sajalah ke rumah sakit!” berkata bapaknya saat Butet berumur dua tahun. “Kita jangan selalu merepotkan orang tua.”

            “Yah, memang hanya itu yang bisa kulakukan,” sahutku seraya menatap Butet yang belum lepas menetek.

Lagipula, sejak ayahku meninggal, ibuku masih belum mau bepergian. Rencananya adikku En di Holland, bulan depan akan mengirimkan tiket, demi mendatangkan ibu kami ke Negeri Kincir Angin.

Kepergian Bapak yang mendadak, karena stroke itu, memang sangat berpengaruh pada ibuku. Dia terbiasa bergantung kepada suami, terutama dalam hal keuangan. Kini meskipun mendapatkan tunjangan pensiun, bagi ibuku tidaklah cukup. Karena masih harus membiayai kuliah si bungsu Mie.

“Biar Ekal tidak masuk sekolah saja, ya Ma,” cetus Haekal saat melihat Butet dipersiapkan untuk menemaniku ke rumah sakit.

Dia pasti tahu persis bagaimana kondisi rumah sakit, tradisi antri-mengantri yang mengular panjang.

“Jangan!” sergah ayahnya keras. “Sebentar lagi kamu ujian, mau tidak lulus apa?”

“Insya Allah lulus, ya Nak. Ekal kan rajin ngapalin dan berdoa, ya kan Nak?” hiburku sambil mengusap kepalanya, kulihat wajahnya mengelam mendengar hardikan ayahnya.

Memang aneh sekali, ayahnya tak pernah merasa bangga dengan prestasi-prestasi yang berhasil diperjuangkan si sulung. Setiap tahun ia juara umum, kecuali waktu kelas empat, itupun karena dicurangi gurunya. Sejak adiknya lahir, tekanan dan penyiksaan itu pun semakin sering dialami putraku.

Betapa aku sering dihantui perasaan bersalah, sebab tak mampu sepenuhnya melindunginya dari penyiksaan ayahnya. Biasanya Butet dengan naluri kanak-kanaknya akan menangis menjerit-jerit, sehingga geger. dan lepaslah penyiksaan itu, setidaknya untuk sementara.

“Butet jangan jauh-jauh dari Mama, ya?” Demikian entah untuk ke berapa kalinya kubisikkan ke kuping putriku sepanjang perjalanan menuju RSCM. Dari Depok kami melaluinya dengan tiga kali angkot dan sekali bemo.

“Tet gak auh, iyah, hmm, gak, auh-auh Mama, yah? Mama atit iyuuut, atiiit! Cian Mama, ciaaan,” sahut Butet masih balelol ngomongnya alias sulit dipahami, kecuali oleh ibunya.

Dia mengenakan baju kembang-kembang merah, sepatu merah dan sepasang kuciran rambut yang juga dipita warna merah. Dia sungguh menggemaskan, apalagi kalau sudah mengoceh sambil mengiming-iming buku dongeng favoritnya; Angsa si Buruk Rupa.

Dia bisa mengecoh orang-orang di sekitarnya dengan berlagak pandai membaca, kemudian ditambah dengan gerak-gerik badannya yang heboh bukan main.

“Sudah bisa baca, ya Bu?” tanya seorang ibu saat kami di bemo, terheran-heran memandangi kelakuan Butet.

“Eh, ini, belum sih, Bu, cuma seneng bolak-balik gambarnya.”

“Ceritanya dia mendongeng ‘kali, ya? Lucuuu!” ibu itu menjawil pipi Butet dengan gemas, sebelum turun dan kami berpisah di halte Salemba.

Sepagi itu suasana rumah sakit nasional sudah ramai. Orang-orang dari pelosok kota, bahkan banyak juga yang dari luar kota sudah berdatangan. Untuk ke sekian kalinya kubisikkan di telinga Butet; “Jangan jauh-jauh dari Mama, ya Nak. Nanti ada yang nyulik!”

Entah dipahami atau tidak, pokoknya naluri keibuanku mengisyaratkan harus demikian.

Aku berdiri di antara antrian di loket Askes lantai dua. Awalnya aku bersikukuh untuk menggendongnya. Namun, lama-kelamaan terasa berat dan menyakitkan, bagian limpaku yang bengkak tak bisa dibebani terlalu lama. Kuturunkan Butet bersamaan dengan giliranku maju ke depan loket. Tanganku masih menggenggam erat pergelangannya saat petugas menanyai berbagai hal; mana kartu Askes yang asli, rujukan Puskesmas, dan bla, bla!

Tanpa kusadari cekalanku terlepas, tapi masih kudengar celotehnya, jadi aku masih tenang dan berkeyakinan anakku tidak jauh-jauh. Mungkin sekitar sepuluh menit, usai sudah urusan disetujui dan distempel Askes. Maka kutengok ke kiri, ke kanan, depan dan belakang, ya ampun; Butet menghilang!

Dengan panik aku berlari ke sana ke mari sambil berseru-seru memanggil namanya. Kutanyai orang-orang di sekitarku, mereka malah menyalahkanku, mengapa membiarkan anak kecil lepas dari pengawasanku.

“Salahnya sendiri, yeeeh, masa anak kecil dibiarin lepas dari pengawasan kita?”

“Bisa-bisa sudah diangkut orang tuh!”

“Iya, diculik, dijadikan gembel!”

Semakin panik saja kucari-cari sosok kesayanganku itu. Kususuri sepanjang lorong di lantai dua, segala bayangan menakutkan seketika berseliweran di otakku.

Bagaimana kalau dia sampai hilang, diculik orang, dijual, ditukar beras? Bagaimana amuk bapaknya, dan terutama bagaimana tanggung jawabku sebagai seorang ibu?

Aduh, aku lebih baik mati daripada harus kehilangan putriku!

Kuturuni tangga dan menuju bagian informasi. Tak sabar mendengar berbagai pertayaan, bukan eksyennya. Akhirnya sambil bercucuran air mata kubalikkan badanku, kembali ke lantai dua.

Niscaya kelakuanku sudah bagaikan orang gila, kuteriakkan namanya tanpa malu-malu, kutanya semua orang yang melintas di hadapanku, semuanya saja tanpa terkecuali!

“Oh, anak perempuan kecil yang pake kunciran dua itu, ya?” kata seorang ibu yang kutemui dekat loket Askes.

“Iya, pake kunciran dua, benar itu! Di mana, Bu, di mana Ibu lihat dia?” tanyaku sambil tak bisa kutahan lagi, bercucuran airmata.

“Di sana dekat tangga, lagi main sendirian…”

Degggh!

Aku berlari terbanting-banting menuju tangga. Beggh, bahuku membentur tiang bersamaan suara teriakan: “Maaa… Maaa… Ciaaan, Mama atiiit!”

Itu dia suara putriku!

Kucermati sosok mungil itu digendong seorang pegawai rumah sakit. Senyumnya mengembang begitu melihatku, matanya tampak berkaca-kaca. Tentu Butet ketakutan saat menyadari tak melihatku lagi di sekitarnya.

Ya Allahu, Robb, terima kasih!

“Ini anakku, putriku, belahan jiwaku. Ya Allah, subhanallah walhamdulillahi Allahu Akbar! Bapak, maaf, berikan sama saya, ya Pak,” pintaku meracau, perpaduan cemas, takut dan rasa bersalah.

Pegawai itu malah tertawa dan menyerahkan Butet ke pangkuanku. “Iya, Bu, tadi lagi turun-naik tangga saja, sendirian, gelosoran begitu. Ditanya anak siapa, tidak ngerti jawabannya. Saya ambil saja, takut nyasar ke mana-mana. Ini juga rencananya mau diberitakan di informasi,” tuturnya ramah.

Sampai lupa mengucapkan terima kasih, aku segera sibuk menciumi wajah putriku, mendekapnya erat-erat dalam dadaku.

“Tidak ada yang mengantar, Bu?” tanyanya sebelum berpisah.

“Eh, ya, dia ini yang mengantar saya berobat, Pak.”

“Ibu ini ada-ada saja. Hati-hati, Bu, jangan sampai diculik orang. Banyak kejadian anak hilang loh,” pesannya sebelum berlalu.

Beberapa saat lamanya kutenteramkan diri kami berdua. Butet menempel kuat-kuat di dadaku, menetek yang sesungguhnya tak ada air susunya lagi sejak lama. Dia hanya mengempeng.

Detik itu pun aku bersumpah dalam hati: “Dengar, Anakku, Cintaku, Butetku. Mama bersumpah atas asma Allah Sang Pengasih; Mama tidak akan pernah membiarkanmu jauh-jauh lagi, sampai kamu mandiri!”

Di poliklinik Hematologi sepertinya semua orang sudah mengenalku, demikian pula anak-anakku. Keduanya harus melakoni menjadi pengantar ibu mereka, menunggui diriku sepanjang ditransfusi.

“Wah, ini baru seru! Lucu sekali, ya! Kalau di poliklinik Thalassemia sana ibu-ibu mengantar anaknya. Di sini anak yang mengantar ibunya ditransfusi,” seloroh seorang dokter muda, seraya menjawil pipi Butet.

“Iya, Dokter,kami memang ibu dan anak yang aneh. Hehe,” sahutku tersipu.

“Semoga anak Ibu menjadi seorang dokter….”

“Amin ya Robbal alamin,” sambutku mengaminkannya dengan khusuk.

Sambil ditransfusi biasanya aku akan membacakan buku favoritnya. Entah mengapa Butet begitu senang dengan dongeng terbitan Gramedia itu. Anak angsa yang merasa buruk rupa, karena dibesarkan oleh seekor bebek, bentuknya berbeda dengan bebek-bebek lainnya. Dia sampai hafal di luar kepala setiap kata demi katanya.

Butet akan tertawa terkikih-kikih, setiap kali aku menirukan bunyi; kweeek, kweeek, kweeek; jueleeek. Adakalanya kalau sudah bosan, Butet akan berjalan-jalan keliling ruangan transfusi. Mulutnya akan mengoceh riuh sambil mengiming-iming buku, berlagak menjadi tukang dongeng bagi para pasien di ruang transfusi.

Suster Bimbingan, sahabatku, acapkali kubiarkan membawanya keluar untuk membelikannya cemilan, roti dan permen. Begitu kembali ke ruang transfusi, tampaklah segala cemilan berada di tangan putriku. Ia akan membagikannya denganku, seraya riuh berceloteh, menceritakan pengalamannya bersama Suster Bimbingan.

“Cian iyut Mama, yah. Mama atit, ciaaan, yah,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala, jika aku hendak memangkunya. Kemudian ia berlagak menuntun dan membimbingku berjalan.

Setelah keluyuran di rumah sakit, biasanya dua atau tiga hari berturut-turut, kami berdua akan tiba jua di rumah jika hari telah petang. Dalam keadaan sangat lelah, lusuh dan lapar.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Babak Baru Head to Head Perang PAN dan PKB

Next Post

Reshuffle: Persekongkolan Politik, Bukan Kepentingan Publik

Pipiet Senja

Pipiet Senja

Related Posts

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!
News

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026
Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)
Feature

Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)

April 11, 2026
Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi
Feature

Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi

March 19, 2026
Next Post
Rabu Sakral, Riwayat Reshuffle Kabinet Jokowi di Hari Rabu

Reshuffle: Persekongkolan Politik, Bukan Kepentingan Publik

Kongsi Baru, Gerindra – PKB Bentuk Koalisi Pilpres 2024

Kongsi Baru, Gerindra - PKB Bentuk Koalisi Pilpres 2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...