Fusilatnews – Setelah absen satu dekade, akhirnya Presiden Indonesia kembali hadir langsung di Sidang Umum PBB. Prabowo Subianto dijadwalkan berpidato pada 23 September 2025. Berbeda dari Jokowi yang selama sepuluh tahun lebih sering “diwakilkan” bahkan sekadar tampil virtual, kini publik menanti: apa yang akan dibawa Prabowo ke podium dunia?
Kementerian Luar Negeri menyebut ada sejumlah isu yang akan diangkat: dinamika keamanan global, isu Palestina, reformasi sistem multilateral, hingga peran negara-negara Selatan. Di luar itu, delegasi Indonesia juga dijadwalkan ikut dalam forum tematik soal kemanusiaan, kesehatan mental, penghapusan senjata nuklir, dan pemberdayaan perempuan.
Namun, seberapa urgen isu-isu ini bagi Indonesia maupun dunia?
1. Dinamika keamanan global
Prabowo disebut akan menyinggung serangan Israel terhadap kedaulatan negara di Qatar. Isu ini penting sebagai penegasan sikap Indonesia terhadap pelanggaran hukum internasional. Tetapi urgensinya akan bergantung pada cara Prabowo mengaitkannya dengan posisi Indonesia: apakah sekadar retorika, atau ada tawaran solusi konkret?
2. Palestina
Tidak bisa dipungkiri, ini isu yang paling urgen bagi Indonesia. Selain menyentuh hati publik dalam negeri, keberpihakan pada Palestina merupakan konsistensi politik luar negeri bebas-aktif. Tapi di level global, urgensinya akan diuji: beranikah Prabowo menyuarakan kritik tajam terhadap Amerika Serikat, atau justru hanya menyampaikan dukungan normatif yang terdengar rutin?
3. Reformasi sistem multilateral
Isu ini relevan, tetapi bukan baru. Hampir setiap tahun negara berkembang menyuarakannya. Urgensinya bagi Indonesia terletak pada apakah Prabowo bisa menghadirkan gagasan segar—misalnya mendorong representasi lebih besar bagi Global South—atau hanya mengulang jargon yang sudah usang.
4. Peran negara-negara Selatan
Menggaungkan kembali semangat Bandung terdengar romantik, tetapi urgensinya dipertanyakan. Dunia saat ini menghadapi krisis iklim, teknologi, dan ketidaksetaraan ekonomi digital. Apakah nostalgia Konferensi Asia-Afrika masih cukup menjawab realitas multipolar hari ini?
5. Isu tambahan: HAM, lingkungan, ekonomi
Forum PBB juga menyoroti hak asasi manusia dan isu lingkungan. Bagi Indonesia, keduanya justru rumit. Catatan kelam masa lalu Prabowo terkait HAM bisa memunculkan ironi jika ia bicara soal kemanusiaan. Begitu pula komitmen lingkungan, yang akan segera dipertanyakan lewat data deforestasi dan kerusakan akibat tambang. Urgensinya jelas besar, tapi apakah Prabowo siap menghadapi kritik?
Singkatnya, pidato Prabowo akan menjadi panggung ujian. Isu yang diangkat memang penting, tetapi urgensi sejatinya bergantung pada kedalaman tawaran solusi. Dunia tidak butuh pidato seremonial, melainkan suara yang mampu menjawab krisis global.
Indonesia sudah lama kehilangan gema lantang seperti Soekarno pada 1960. Kini giliran Prabowo: apakah ia akan mengembalikan suara Indonesia di PBB, atau sekadar lewat sebagai formalitas yang cepat dilupakan?





















