Fusilatnews – Ada satu pemandangan kecil yang bisa membuat pagi kehilangan kesegarannya: secuil tinja yang ngambang di dasar kakus duduk. Ia tak mau pergi, betapa pun tombol siram ditekan berulang kali. Ia diam di sana, menatap balik ke arah kita, menertawakan semua upaya pembersihan yang sia-sia. Tak berbahaya, memang. Tapi menjijikkan — dan menyebalkan.
Kita boleh tertawa, tapi sesungguhnya, di situlah cermin kehidupan sosial-politik kita hari ini. Tinja itu bukan sekadar benda buangan; ia adalah lambang dari para pejabat yang kehilangan rasa malu namun enggan pergi. Mereka sudah habis masa pakainya, tapi tetap mengapung dengan santainya, seperti residu kekuasaan yang menolak sirna.
Negeri ini terlalu sering mengalami pemandangan serupa, hanya saja bentuknya lebih rapi, lebih berjas, dan kadang disertai senyum manis dalam baliho. Orang-orang yang mestinya tahu diri, malah betah bertengger di posisi yang seharusnya telah lama ditinggalkan. Disanjung pun tidak, dibutuhkan pun tidak — tapi tetap saja bertahan, seolah negara ini akan roboh tanpa keberadaannya.
Kita hidup di zaman di mana jabatan dianggap sebagai hak milik pribadi, bukan amanah. Ketika kekuasaan bukan lagi sarana untuk mengabdi, tapi tempat untuk berdiam, seperti tinja yang tak kunjung hanyut. Mereka membusuk perlahan di kursi kekuasaan, tapi terus mempertahankan diri atas nama stabilitas, pengalaman, atau loyalitas. Padahal yang mereka pertahankan hanyalah bau.
Rakyat boleh mengeluh, pengamat boleh bersuara, media boleh menyorot — tapi mereka tetap di sana. Seolah-olah air sistem demokrasi kita tak cukup deras untuk menyeret mereka pergi. Sementara itu, kita cuma bisa menekan tombol “flush” berkali-kali: ganti menteri, reshuffle kabinet, audit proyek, revisi undang-undang — tapi hasilnya sama. Masih ada secuil yang ngambang, tersenyum getir di dasar kakus kekuasaan.
Fenomena ini bukan soal politik semata, tapi juga soal moralitas yang tenggelam. Kita tak lagi bicara tentang kemampuan, melainkan tentang ketebalan muka. Tentang mereka yang gagal tapi tetap merasa berjasa; yang dihujat tapi tetap merasa dicintai; yang tak berguna tapi tetap berkuasa.
Dan karena sistem kita terbiasa memelihara aroma busuk selama tidak mengganggu selera penguasa, maka tinja-tinja politik itu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah kakus — dari satu jabatan ke jabatan lain, dari satu periode ke periode berikutnya.
Maka ketika pagi datang dan kita menemukan secuil tinja di dasar kakus, jangan buru-buru jijik. Pandanglah ia dengan arif, karena di situlah potret negeri ini sedang menatap balik pada kita. Ia mengingatkan bahwa di negara yang sibuk mengagungkan pembangunan, kemajuan, dan proyek mercusuar, sering kali yang tersisa hanyalah residu kekuasaan yang menolak hanyut.
Dan mungkin, sebelum kita berharap air bisa membersihkan semuanya, kita perlu mengganti tangki airnya dulu — atau barangkali seluruh sistem pembuangannya.
























