Tertarik dengan komentar مسلم Muslim_AntiPKI9 @Muslim_AnSEJAK 10 TAHUN TERAKHIR: Di NKRI, Janji Adalah Dusta tiPKI9, pada postingan “Ali Ngabalin”, menceritakan kelakuan Jokowi, dengan menuliskan “SEJAK 10 TAHUN TERAKHIR: Di NKRI, Janji Adalah Dusta”. Lalu fusilat mencoba memahaminya sbb :
Dalam dekade terakhir, janji-janji politik di Indonesia tampaknya telah berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kenyataan. Era kepemimpinan Joko Widodo, sejak ia memulai masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014, ditandai dengan serangkaian janji-janji besar yang sering kali berakhir menjadi ilusi belaka. Janji-janji politik, yang seharusnya menjadi komitmen untuk memperbaiki nasib rakyat, sering kali berakhir sebagai janji yang tidak ditepati—sebuah bentuk dusta yang menggerogoti kepercayaan publik.
Pada awal masa pemerintahannya, Jokowi mempromosikan berbagai program ambisius seperti pembangunan infrastruktur yang masif, pengentasan kemiskinan, dan perbaikan sistem pendidikan. Program-program ini bertujuan untuk membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, seiring berjalannya waktu, tampaknya banyak dari janji tersebut tidak sepenuhnya terwujud, meninggalkan rasa frustrasi di kalangan rakyat yang merasa telah ditipu oleh retorika politik yang cemerlang namun kosong.
Salah satu contoh nyata adalah janji Jokowi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Memang, proyek-proyek besar seperti pembangunan jalan tol dan bandara baru telah dilaksanakan. Namun, banyak proyek tersebut menghadapi keterlambatan dan masalah anggaran yang berlarut-larut. Selain itu, beberapa proyek infrastruktur justru membawa dampak lingkungan yang merugikan dan belum mampu mengatasi kemacetan serta masalah transportasi yang mendasar di berbagai daerah.
Dalam hal pengentasan kemiskinan, meskipun ada berbagai program sosial seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH), angka kemiskinan tetap menjadi masalah yang tidak kunjung selesai. Kesulitan ekonomi akibat pandemi COVID-19 semakin memperparah situasi, membuat banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan semakin sulit untuk bangkit.
Sistem pendidikan, yang menjadi salah satu pilar penting dalam janji-janji Jokowi, juga menghadapi tantangan yang sama. Meskipun ada peningkatan dalam hal akses pendidikan dan bantuan bagi siswa, kualitas pendidikan di berbagai daerah masih jauh dari memadai. Masalah seperti kekurangan fasilitas, kurikulum yang ketinggalan zaman, dan rendahnya kualitas pengajaran masih sering ditemukan.
Janji-janji politik yang tidak ditepati ini menciptakan fenomena yang merusak kepercayaan publik terhadap politisi dan partai politik secara umum. Di tengah suasana politik yang penuh retorika kosong, banyak rakyat merasa terasing dan kecewa. Kepercayaan terhadap pemerintahan semakin menurun, dan ada perasaan bahwa politik di Indonesia hanya menjadi ajang permainan kata-kata tanpa dampak nyata pada kehidupan sehari-hari.
Namun, penting untuk melihat bahwa bukan hanya pemerintah Jokowi yang terjebak dalam dinamika ini. Fenomena janji politik yang tidak ditepati adalah masalah sistemik yang melibatkan seluruh spektrum politik di Indonesia. Partai politik dan calon-calon pemimpin sering kali membuat janji yang mewah untuk mendapatkan dukungan pemilih, tetapi sering kali gagal untuk merealisasikannya begitu mereka berada di kekuasaan.
Agar janji-janji politik tidak lagi menjadi dusta, perlu ada perubahan mendasar dalam budaya politik di Indonesia. Ini termasuk peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan komitmen nyata dari para pemimpin untuk memenuhi janji-janji mereka. Rakyat juga perlu lebih kritis dan aktif dalam menilai serta mengawasi kinerja para pemimpin mereka, sehingga janji-janji politik tidak sekadar menjadi alat manipulasi untuk meraih kekuasaan.
Sebagai bangsa, Indonesia harus belajar dari pengalaman-pengalaman ini dan berusaha untuk membangun sistem politik yang lebih jujur dan bertanggung jawab. Hanya dengan cara ini, janji-janji politik dapat menjadi nyata dan benar-benar membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.





















