Oleh: Prof Dr Hendrawan Supratikno, mantan Anggota DPR RI dari PDIP.
Jakarta – Kwik Kian Gie, atau biasa dipanggil Pak Kwik, ekonom dan politisi yang pernah menjadi Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) di Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (1999-2001) dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004) meninggal dunia pada Senin, 28 Juli 2025 di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, dalam usia 90 tahun (13 Januari 1935- 28 Juli 2025).
Pak Kwik lulus dari Erasmus University Rotterdam, Belanda, setelah sebelumnya sempat berkuliah di Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI).
Universitas Erasmus adalah salah satu universitas terkemuka di Eropa yang melahirkan tokoh-tokoh ekonomi Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Sumitro Djojohadikusumo, Radius Prawiro dan Arifin Siregar.
Pemenang Nobel Ekonomi pertama, tahun 1969 adalah Prof Jan Tinbergen, ahli ekonometrika dan perencanaan ekonomi dari Universitas Erasmus.
Pada era Orde Baru, Pak Kwik dikenal sebagai politisi yang tulisan-tulisannya tajam dan penuh kritik terhadap praktik-praktik bisnis dan pengelolaan kekuasaan yang tidak sesuai dengan cita-cita konstitusi dan bertabrakan dengan akal sehat.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan terlihat dari rekam jejaknya saat merintis pendirian Prasetiya Mulya Bussiness School, aktif di Yayasan Pendidikan Trisakti, dan mendirikan Institut Bisnis Indonesia, yang sekarang menjadi Institut Bisnis Kwik Kian Gie.
Sikap kritis dan konsisten Pak Kwik terus ditunjukkan sampai akhir hayatnya, termasuk kepada organisasi yang dicintainya dan selalu menjadi bahan pembicaraan dengan para sahabatnya: PDI Perjuangan dan Institut Bisnis Indonesia.
Pak Kwik beristrikan Edith Johanna de Wit (meninggal 15 Mei 2020), memiliki tiga anak (Kwik Inghie, Kwik Mulan, Kwik Inglan) dan tujuh cucu.
Semoga kenangan bersama Pak Kwik menjadi memori kolektif kita bersama, dan energi juangnya untuk Indonesia yang lebih baik menginspirasi kita semua.
Selamat jalan menuju kosmos keabadian, Pak Kwik. Vita brevis dignitas longa!






















