Jakarta, Fusilatnews.– Upacara serah terima jabatan Panglima TNI dilakukan hari ini. Jenderal Andika Perkasa resmi melepas jabatannya sebagai Panglima TNI dan digantikan oleh Laksamana TNI Yudo Margono. Lalu, apa tantangan terbesar yang dihadapi Yudo?
Dilansir dari detikom, upacara serah terima jabatan dilakukan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (20/12/2022) hari ini. Acara dimulai dengan pembacaan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 91/TNI/2022 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Panglima Tentara Nasional Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan naskah serah terima jabatan.
“Memberhentikan dengan hormat Jenderal TNI Andika Perkasa dari jabatannya sebagai Panglima TNI disertai ucapan terima kasih atas pengabdian dan jasa-jasanya yang telah disumbangkan kepada bangsa dan negara Republik Indonesia selama memangku jabatan tersebut,” bunyi Keppres yang dibacakan.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menko Polhukam Mahfud Md. Selain itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman hingga Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo juga terlihat.
Dalam upacara serah terima jabatan hari ini, bertugas sebagai komandan upacara Kolonel Pnb Agni Prayogo yang menjabat sebagai Komandan Wing Udara 4 Lanud Atang Sandjaja Bogor, dan perwira upacara Kolonel Marinir Mauriadi yang menjabat sebagai Paban IV Watpers Spers TNI.
Upacara tersebut juga terdiri dari enam pasukan setingkat Kompi. Mulai dari pasukan Polisi Militer TNI, Koopsus TNI, pasukan TNI AD, pasukan TNI AL, Pasukan TNI AU, hingga pasukan PNS.
Dalam upacara hari ini juga turut dipamerkan berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Di antaranya dua unit Anoa PMPP, dua unit Panser V 150 NI AD, dua unit Mistral TNI AD dan empat unit Atav Kopassus. Selain itu ada dua unit Howizert TNI AL, satu unit ISLV TNI AL, dua unit APC Turangga TNI AU, satu unit ISLV TNI AU dan dua unit ISLV Denma Mabes TNI.
Laksamana Yudo Resmi Jabat Panglima TNI
Laksamana Yudo Margono resmi menjadi Panglima TNI. Laksamana Yudo Margono dilantik sebagai Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Senin (19/12/2022).
Pelantikan digelar di Istana Negara, Jakarta Pusat. Pelantikan Laksamana Yudo Margono diawali pembacaan keputusan presiden tentang pemberhentian dan pengangkatan Panglima TNI. Presiden Jokowi kemudian memimpin pembacaan sumpah jabatan.
“Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darma bakti saya kepada bangsa dan negara,” demikian petikan sumpah yang dibacakan Laksamana Yudo Margono.
Hadir dalam pelantikan ini, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri hingga Ketua DPR RI Puan Maharani. Hadir juga mantan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, KSAD Jenderal Dudung Abdurachman, dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo.
Tantangan Terbesar
Sementara itu, hal yang dinilai menjadi tantangan terbesar bagi Yudo adalah menjalankan 4 program prioritas yang pernah dipaparkan dalam “fit and proper test” (uji kelayakan dan kepatutan) di DPR RI. Mengingat, masa Yudo sebagai Panglima TNI singkat, di mana dia akan pensiun akhir tahun depan. “Sama seperti Pak Andika, tantangan terbesar Pak Yudo adalah waktu yang terbatas. Hal ini pasti sudah disadari sejak awal,” kata pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi kepada wartawan, dikutip dari detik.com, Senin (19/12/2022).
Khairul menilai 4 hal prioritas yang dipaparkan Yudo akan efektif jika benar-benar berjalan. Meski, lanjut Khairul, tidak ada tuntutan untuk menuntaskan program tersebut. “Jadi menurut saya, empat prioritas yang disampaikan oleh Pak Yudo beberapa waktu lalu itu layak dan akan efektif dijalankan,” ujarnya.
Menurut Khairul, yang terpenting adalah Yudo memberikan pondasi yang kuat untuk penggantinya kelak. “Tidak ada aturan bahwa agenda-agenda itu harus tuntas seratus persen dalam masa jabatannya. Memberikan pondasi yang kuat atau melakukan agenda rintisan untuk dilanjutkan oleh penggantinya nanti,” lanjut Khairul.
Dia mengatakan agenda seorang Panglima TNI akan selalu berkelanjutan. Sebab hal itu, merupakan implementasi untuk pertahanan negara. “Apalagi sebenarnya agenda Panglima TNI itu mestinya memang bukan agenda sekali jadi, melainkan agenda yang berkelanjutan dan merupakan implementasi kebijakan pertahanan negara. Jadi koridornya sudah jelas,” ujarnya.
Selain menjalankan agenda yang diusungnya, Khairul mengatakan Yudo harus meneruskan program yang telah dirintis di masa sebelumnya. Dia berharap Yudo dapat menyesuaikan kebijakan sesuai dinamika lingkungan.
“Selain menjalankan agenda yang diusungnya, Pak Yudo juga masih harus meneruskan hal-hal baik yang sudah dirintis dan dijalankan oleh pendahulunya, terutama berkaitan dengan upaya membangun TNI yang berdisiplin, tangguh dan profesional. Tentunya tetap dengan mempertimbangkan aspek-aspek strategis terkait potensi ancaman dan dinamika lingkungan strategis,” ujarnya. (F-2)





















