• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Idul Adha, Menyembelih Nafsu Kebinatangan

fusilat by fusilat
July 11, 2022
in Feature
0
Idul Adha, Menyembelih Nafsu Kebinatangan

Umat muslim mengikuti shalat Idul Adha 1443 Hijriah di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, Minggu (10/7/2022) pagi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melakukan shalat Idul Adha 1443 Hijriah di lokasi tersebut.(KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Toto TIS Suparto | Editor Buku Lepas | Ghostwritter

Sabtu (9/7/2022) pagi, Lapangan Minggiran di Mantrijeron, Yogyakarta, kedatangan ratusan warga yang akan mendirikan shalat Idul Adha 1443 Hijriyah. Sementara tak jauh dari lapangan itu, sejumlah santri di Pondok Pesantren Krapyak melakukan aktivitas seperti biasa. Tak ada tanda-tanda Shalat Id di pondok tersebut.

Begitulah bila Idul Adha jatuh pada hari berbeda. Minggiran mewakili Muhammadiyah yang ber-Lebaran pada Sabtu, dan Pondok Pesantren Krapyak yang bernuansa Nahdlatul Ulama mengikuti keputusan pemerintah untuk merayakan Idul Adha pada Minggu. Untuk menenangkan umat, para ulama bilang ber-Lebaran pada Sabtu atau Minggu sama saja.

Namun bicara soal keyakinan, tetaplah beda. Mungkin yang dimaksud para ulama itu adalah semangatnya. Hikmah yang bisa diambil dari Idul Adha. Pendidikan dari sebuah ritual kurban. Kapan pun dirayakan, makna Idul Adha tetaplah sama. Inilah tugas pengkhotbah untuk mengingatkan makna Idul Adha tersebut.

Biasanya yang paling banyak disinggung adalah makna berkurban. Idul Adha mengajari kita untuk ikhlas berkorban. Apa pun, mau berkorban tenaga, berkorban pikiran hingga korban materi, hendaknya semua dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.

Banyak di antara kita berat mengorbankan materi saking cinta harta di dunia. Nah, semangat berkurban akan mengikis kecintaan terhadap harta. Hal itu pula disinggung oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas, yang menjadi pengkhotbah di Lapangan Minggiran.

Membakar sifat kebinatangan

Selain menyinggung keikhlasan berkorban, Busyro juga menyampaikan simbol di balik penyembelihan hewan kurban itu. Di antaranya ketika Nabi Ibrahim menjadikan domba sebagai hewan kurban, hal itu memiliki makna simbolik contoh kepada umat manusia untuk membakar sifat-sifat kebinatangan.

Pada diri kita, jika bicara sejujurnya, menempel sifat kebinatangan tersebut. Memang ada pula gambaran bagus. Kita hendaknya mau bergotong-royong sebagaimana koloni semut. Celakanya, acap digambarkan sifat yang jelek. Apa pun keburukan binatang, ditempelkan kepada manusia.

Kadang kita jadi kejam, saat lain berubah rakus, dan acap pula menjadi mahluk tak berakal seperti binatang. Sejak zaman dulu para pemikir acap menggambarkan sifat manusia dengan karakter binatang.

Filsuf Niccolo Machiavelli (1469-1527) menulis buku Il Principe (yang kemudian diterbitkan 1532) jelas-jelas menggambarkan sifat kebinatangan (yang buruk) jika mau menjadi pemimpin yang langgeng. Teksnya kira-kira begini: “Seorang pangeran harus bisa bermain baik sebagai manusia dan sebagai binatang buas… Sang pangeran harus bisa menggunakan kedua kodrat itu… Sang pangeran harus bisa mencontoh rubah dan singa. Jadi dia harus menjadi rubah agar mengenali jerat (jebakan), dan menjadi singa untuk menakut-nakuti serigala”.

Bicara serigala tentu ingat diktum “homo homini lupus” yang dipopulerkan Thomas Hobbes. Intinya “manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya”. Kata Hobbes, serigala merupakan gambaran pihak yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan terhadap rakyat yang lemah.

Tetapi jangan salah, si lemah pun bisa berbalik galak terhadap yang kuat itu. Maka sifat serigala digunakan untuk kembali melawan si kuat. Salah satu teks Hobbes menegaskan, “Karena dalam hal kekuatan fisik, orang yang paling lemah fisiknya pun memiliki cukup kekuatan untuk membunuh orang-orang yang paling kuat, entah dengan cara rahasia atau dengan persekongkolan dengan orang-orang lain yang berada dalam keadaan bahaya yang sama dengan dirinya…”

Selain serigala, ada juga analogi pakai binatang lain. Pemikir kuno menganalogikan sikap manusia identik dengan unggas. Empat unggas mewakili sikap manusia. Ayam merepresentasikan hawa nafsu, bebek menggambarkan sifat rakus, merak menunjukkan sikap angkuh, dan gagak menunjukkan keinginan. Ternyata bebek lebih dominan.

Artinya keserakahan menguasai hidup manusia. Maka, pemikir itu mengingatkan tujuan hidup manusia bukanlah untuk berlomba mengumpulkan harta hingga melimpah ruah. Jangan ikuti kerakusan seekor bebek.

Memfungsikan akal

Masih banyak analogi lain, tetapi pada dasarnya keburukan kita acap disamakan dengan binatang. Ini artinya kita menjadi binatang, karena kita mengabaikan akal. Binatang merupakan mahluk tak berakal. Manakala kita dirongrong sifat kebinatangan, saat itulah tidak memfungsikan akal sebagaimana mestinya.

Maka dari itu, kembali ke khotbah Busyro tadi, senyampang Idul Adha belum jauh meninggalkan kita, ada baiknya kita renungkan kembali simbol-simbolnya. Menyembelih hewan bukan berarti sekadar mengikuti ajaran agama, tetapi juga punya tekad membakar sifat kebinatangan. Memang bukan soal mudah. Kita hidup di sekumpulan serigala, dan ada kalanya juga berlaku sebagai serigala. Namun tanpa memulainya, kita tidak akan bisa berubah. “Itulah hikmah dari sebuah ibadah Idul Adha,” kata Busyro mengakhiri khotbahnya dan seperti biasa dia memimpin doa.

Tak ada salahnya kita pun menambah doa, semoga Idul Adha menjadi momen untuk membuang sifat kebinatangan kita. Semoga setelah Idul Adha, kita tidak selalu dirongrong sifat kebinatangan. Semoga.

Dikutip dari Kompas.com, Senin 11 Juli 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kiamat Mengerikan Dampak Rupiah Tembus Rp 15.000 per Dollar AS

Next Post

Jokowi Teken Pemberhentian Komisioner KPK Lili Pintauli

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Marah Jokowi di Acara Bali: Ucap Bodoh hingga Larang Tepuk Tangan

Jokowi Teken Pemberhentian Komisioner KPK Lili Pintauli

PBB Sebut Negara Berkembang di Asia Tenggara Terancam Susul Sri Lanka, Bagaimana dengan Indonesia?

PBB Sebut Negara Berkembang di Asia Tenggara Terancam Susul Sri Lanka, Bagaimana dengan Indonesia?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist