FusilatNews– Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot masih mengalami tekanan hingga sesi perdagangan. Bahkan, nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp 15.000 per dollar AS. Tren pelemahan nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu. Pasalnya, di tengah kondisi perekonomian yang tidak pasti, investor cenderung menarik dananya untuk ditempatkan ke instrumen safe haven. Lantas, apa sebenarnya dampak dari nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 15.000 per dollar AS?
Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengungkapkan penguatan dolar AS akan berdampak ke semua harga barang impor, baik barang jadi, barang setengah jadi, maupun bahan baku karena produsen harus merogoh kocek lebih dalam.
“Barang-barang impor pasti akan lebih mahal seperti bahan pokok dan pangan impor yaitu gula, gandum, bawang putih, kedelai, dan lainnya,” kata Anthony dikutip detik.com , Minggu (10/7/2022).
Anthony mengatakan barang elektronik seperti handphone (HP), laptop, hingga kulkas berpotensi naik. Pasalnya berbagai produk tersebut ada komponen impornya.
“Pasti, semua barang impor akan naik, elektronik (seperti HP, laptop, kulkas),” kata Anthony.
Terpisah, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan dolar AS yang terus menguat terhadap rupiah berdampak pada biaya bahan baku impor untuk makanan hingga energi. Hal ini tentu cepat atau lambat akan berimbas ke konsumen juga.
“Sejauh ini imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga ditingkat konsumen. Ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs, maka imbasnya ke konsumen juga. Mulai dari produk turunan gandum seperti mie instan, bawang putih, kedelai, jagung biaya impornya naik tajam,” ujarnya.
Selain itu, beban utang luar negeri (ULN) sektor swasta akan meningkat karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah, sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas. Hal ini tentu mempengaruhi kinerja perusahaan yang bisa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Situasi currency missmatch akan mendorong swasta lakukan berbagai cara salah satunya efisiensi operasional alias PHK atau memangkas gaji karyawan. Bayangkan inflasi naik, biaya hidup makin berat tapi kesempatan kerja terbatas,” ujarnya.
Pelemahan kurs rupiah juga mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan yang bisa berimbas kepada pelaku usaha korporasi, UMKM, maupun konsumen. Hal ini membuat cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) rumah hingga kendaraan bisa lebih mahal.
“Banyak milenial yang menunda pembelian rumah kalau suku bunga naiknya terlalu tinggi. Sudah bahan material bangunan seperti keramik, besi baja, kaca naik karena pelemahan rupiah ditambah suku bunga floating rate makin tak terjangkau,” bebernya.





















