Oleh: Sadarudin El Bakrie
Para pengamat dan komentator politik masih menyimpan pertanyaan yang sulit mendapat jawaban tentang siapa yang ditunjuk PDIP sebagai calon presiden, karena jawaban itu ada di benak Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri,
Berdasarkan aturan tentang ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold, PDIP dengan perolehan suara yang mencapai 20 persen lebih pada Pemilu 2019 lalu, menjadi satu-satunya partai politik peserta pemilu yang memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sehingga PDIP tidak butuh membangun koalisi dengan partai lain untuk mengajukan kandidat presiden pada pemilu presiden pada tahun depan.
Jika ditinjau dari pidato Megawati pada HUT PDIP ke 50 Selasa (10/1) kemarin dimana Megawati berniat menominasikan kandidat presiden dari kadernya sendiri yaitu kader PDIP
Jika Megawati benar-benar mengambil kandidat presiden dari internal PDIP sendiri maka berbagai rumor dan spekulasi tentang siapa yang akan diajukan oleh Mega sebagai kandidat presiden sepertinya tertuju pada dua figur utama yang selama ini muncul di permukaan yaitu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Ketua DPR RI Puan Maharani.
Meski PDIP tak membutuhkan partai lain untuk membangun koalisi dalam menunjuk pasangan kandidat presiden/wakil presiden tetapi elektabilitas keduanya jauh dari cukup untuk memenangkan kursi presiden pada pemilihan presiden tahun depan disamping itu PDIP rupanya harus mempersempit pasangan kandidat presiden/ wakil presiden yang akan maju dari koalisi partai politik yang menjadi lawan PDIP. dengan tujuan memperbesar peluang memenangkan kembali pemilihan presiden tahun depan.
Jika kita mengukur pada elektabilitas kedua tokoh PDIP itu maka Ganjar jauh lebih unggul dari Puan Maharani, pertanyaannya siapa yang akan diajukan sebagai kandidat presiden oleh Megawati, Ganjar Pranowo? ataukah Puan Maharani? ataukah keduanya akan dipasangkan menjadi pasangan kandidat presiden/wakil presiden. Jika dipangkan maka siapa yang menjadi kandidat presiden dan siapa yang menjadi kandidat wakil presiden?
Ada dua analisis untuk menjawab pertanyaan ini, analisis, ilmiah rasional dan objektif berbasis data elektabilitas dan konsekuensi perhitungan perolehan suara PDIP baik pemilihan presiden maupun pemilihan legislatif. Kedua analisis irrasional, subyektif mengabaikan nilai-nilai ilmiah, yaitu berdasarkan suka-suka bu Megawati sesuai dengan keyakinan subyektifnya sendiri seperti gaya berpidato Megawati yang menganggap dirinya paling hebat diantara seluruh kader PDIP
Jika menggunakan analisis ilmiah maka Megawati akan memilih Ganjar Pranowo sebagai kandidat presiden. karena Ganjar punya modal elektabilitas yang lebih besar ketimbang Puan meski jauh dari cukup untuk memenangkan pilpres 2024 mendatang. untuk itu harus diatasi dengan membangun koalisi dengan menawarkan kandidat wakil presiden kepada partai politik lawan PDIP yang bersedia menjadi kawan. seperjuangan dalam mendongkrak perolehan suara sampai 50 persen + 1 . .
Tetapi perkiraan saya sebagai pengamat politik meramalkan Puan Maharani yang akan dijagokan oleh Megawati sebagai kandidat Presiden untuk pilpres 2024. analisis saya sederhana, berbasis pada kualitas substansi pidato Megawati pada HUT PDIP ke 50 yang menurut saya nyeleneh tidak visioner, cenderung memuji-muji diri sendiri dan merasa paling hebat diantara ribuan kader PDIP yang banyak dihuni orang hebat.
Pidato Megawati pada HUT ke 50 PDIP mencerminkan degradasi serius kualitas intelektual Megawati sebagai penyandang banyak gelar Doktor dan Profesor meski itu Honoris Causa. Dan ini yang menjadi pertimbangan saya untuk meramalkan bahwa Megawati akan menunjuk Puan Maharani sebagai Kandidat Presiden Republik Indonesia pada Pemilu Presiden tahun 2024 mendatang
Bagaimana peluang kandidat presiden Puan Maharani memenangkan pemilu presiden tahun depan? Untuk memenangkan Puan Maharani dalam pemilu presiden, PDIP butuh koalisi dengan partai besar bersama partai yang lebih kecil yang berpotensi mendongkrak perolehan suara untuk Puan Maharani tapi saya pikir masih jauh dari cukup untuk memperoleh suara sedikitnya 50 persen +1.karena kecilnya elektabilitas Puan Maharani saat ini.
Sadarudin El Bakrie, Pengamat Ekonomi Politik alumni Universitas Negeri Jember























