Jakarta-Fusilatnews.Ketika berita mengejutkan tentang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang akan memberikan pembekalan kepada para calon menteri di Hambalang mencuat, banyak yang bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang ada di benak Gibran?” Langkah ini mengundang tawa sekaligus keheranan. Gibran, seorang pemimpin muda yang baru menjabat, seolah ingin mengajarkan hal-hal yang mungkin sudah diketahui oleh para calon menteri yang jauh lebih berpengalaman.
Seperti pepatah Inggris yang menyebutkan “The blind leading the blind,” Gibran tampaknya memasuki arena di mana ketidaktahuannya mungkin justru menjadi bahan tertawaan. Sebagai seorang wapres, Gibran seharusnya memahami bahwa pembekalan kepada para calon menteri seharusnya datang dari mereka yang berpengalaman dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang tugas dan tanggung jawab kementerian masing-masing. Namun, dalam kasus ini, kita bisa membayangkan situasi di mana para calon menteri yang lebih senior mungkin hanya bisa tertawa geli melihat Gibran mencoba mengajarkan mereka hal-hal yang seharusnya sudah mereka kuasai.
Kehadiran Gibran di tengah para calon menteri mengundang spekulasi mengenai kompetensinya. Apakah dia benar-benar percaya bahwa dirinya layak memberikan arahan? Atau apakah ini sekadar upaya untuk menunjukkan bahwa dia aktif dalam perannya sebagai wapres, meskipun semua orang tahu bahwa dia masih dalam proses belajar? Tentu saja, situasi ini menciptakan keraguan—sebuah ketidakpastian yang mencolok.
Dalam dunia politik, kita sering mendengar istilah “impostor syndrome,” di mana seseorang meragukan kemampuannya sendiri meskipun berada dalam posisi yang tinggi. Gibran mungkin tidak menyadari bahwa sikapnya bisa jadi terlihat seperti seorang impostor yang berusaha terlihat kompeten di hadapan orang-orang yang lebih berpengalaman. Sebuah ketidakpahaman yang bisa jadi membawa dampak negatif, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh kabinet yang dipimpinnya.
Tidak dapat dipungkiri, kehadiran Gibran dalam konteks ini menciptakan ironi yang konyol. Di satu sisi, dia berusaha menunjukkan bahwa dia mampu memimpin dan memberi arahan, tetapi di sisi lain, dia berada dalam posisi di mana banyak yang meragukan kemampuannya untuk melakukannya. Rasa humor mungkin bisa menyelamatkan keadaan, tetapi kenyataan tetaplah kenyataan—Gibran perlu lebih banyak belajar sebelum memberi arahan kepada orang lain.
Dengan situasi ini, kita bisa hanya menunggu dan melihat apakah Gibran mampu membuktikan bahwa ia tidak hanya sekadar wajah muda di samping presiden, tetapi juga seorang pemimpin yang mampu memahami tugasnya. Semoga saja, para calon menteri tidak hanya menertawakan ketidakpahaman Gibran, tetapi juga mampu membimbingnya menuju pemahaman yang lebih baik mengenai peran yang diemban.

























