Fusilatnews – Dalam hidup yang hiruk-pikuk oleh ambisi, manusia kerap bertanya—siapa yang paling dekat dengan Tuhan? Siapa yang didahulukan-Nya? Apakah mereka yang paling lantang menyebut nama-Nya, atau mereka yang paling sunyi dalam menunaikan amanah kehidupan?
Tuhan tidak hidup dalam logika manusia yang gemar menyusun peringkat. Ia tidak memilih berdasarkan simbol, atribut, atau status sosial. Prioritas Tuhan bukanlah hasil dari citra, melainkan buah dari kualitas batin.
Al-Qur’an secara tegas meruntuhkan ilusi keunggulan lahiriah:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Takwa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan kesadaran eksistensial—kesanggupan menjaga diri dari kezaliman, bahkan ketika tak ada yang melihat. Ia adalah kejujuran yang bertahan saat kekuasaan memberi peluang untuk menyimpang.
Tuhan memprioritaskan mereka yang hatinya bersih dari kesombongan. Dalam dunia yang memuja kemenangan dan dominasi, Tuhan justru memihak yang tertindas, yang dilukai, dan yang disisihkan.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”
(QS. Al-Qashash: 5)
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan prinsip moral sejarah: bahwa kekuasaan tanpa keadilan akan runtuh, dan penderitaan yang dipikul dengan kesabaran akan berbuah kemuliaan.
Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar tidak tertipu oleh penampilan religius:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Hati—itulah pusat penilaian ilahi. Hati yang lembut terhadap sesama, keras terhadap kezaliman, dan jujur terhadap kebenaran.
Tuhan juga memprioritaskan mereka yang berbuat tanpa pamrih, yang memberi tanpa menghitung, yang menolong tanpa menunggu pengakuan.
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (seraya berkata) ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanya karena Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.’”
(QS. Al-Insan: 8–9)
Dalam ayat ini, Tuhan memuliakan ketulusan—sebuah nilai yang kian langka di zaman ketika kebaikan pun dipamerkan.
Maka, siapa yang diprioritaskan Tuhan?
Bukan mereka yang merasa paling benar, melainkan mereka yang paling takut menyakiti.
Bukan mereka yang paling tinggi posisinya, melainkan yang paling rendah hatinya.
Bukan mereka yang paling keras berteriak atas nama Tuhan, melainkan yang paling sunyi menjaga amanah-Nya.
Tuhan memihak yang jujur di tengah kebohongan, yang adil di tengah kekuasaan, dan yang sabar di tengah penindasan.
Dan barangkali, justru mereka yang tak merasa layaklah yang paling dekat dalam pandangan-Nya.
“Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. An-Nahl: 128)
Di sanalah prioritas Tuhan bersemayam—pada nurani yang hidup, bukan pada ego yang bersuara.


























