Mochtar Lubis, seorang sastrawan dan wartawan ternama Indonesia, dalam bukunya yang berjudul “Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban,” mengurai berbagai sifat yang mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Enam ciri utama yang diidentifikasi oleh Lubis ternyata masih sangat relevan hingga kini, terutama dalam menggambarkan perilaku para pejabat, politikus, dan ulama pendukung rezim. Salah satu sifat yang paling mencolok adalah kemunafikan, yang tercermin dalam tindakan dan sikap mereka. Artikel ini akan mengupas lebih dalam bagaimana sifat-sifat ini terlihat dalam konteks kekinian, mencerminkan tantangan dan permasalahan yang dihadapi bangsa ini dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan.
Mochtar Lubis, seorang sastrawan dan wartawan terkemuka Indonesia, melalui bukunya “Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban,” telah menggambarkan berbagai sifat orang Indonesia yang relevan hingga kini. Dalam bukunya, Lubis mengidentifikasi enam ciri utama yang mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Menariknya, sifat-sifat ini tidak hanya berlaku untuk masyarakat umum, tetapi juga sangat relevan dalam menggambarkan perilaku para pejabat, politikus, dan ulama pendukung rezim saat ini. Satu dari sifat yang paling mencolok adalah kemunafikan.
1. Hipokrit (Munafik)
Mochtar Lubis menyoroti kemunafikan sebagai salah satu sifat utama orang Indonesia. Hal ini terlihat jelas dalam tindakan para pejabat dan politikus yang seringkali mengumbar janji manis kepada rakyat, namun kenyataannya hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Mereka berbicara tentang keadilan dan kesejahteraan, tetapi korupsi dan nepotisme masih merajalela. Ulama pendukung rezim pun tidak luput dari sifat ini, dimana mereka seringkali memberikan dukungan dan legitimasi kepada penguasa yang jelas-jelas melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang mereka ajarkan.
2. Enggan Bertanggung Jawab
Banyak pejabat dan politikus yang terlibat dalam berbagai skandal namun enggan untuk bertanggung jawab. Mereka lebih suka mencari kambing hitam atau menyalahkan pihak lain daripada mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Hal ini menunjukkan kurangnya integritas dan komitmen terhadap pelayanan publik yang seharusnya menjadi prioritas utama mereka.
3. Feodalistik
Sifat feodalistik yang dikemukakan oleh Lubis juga masih sangat terlihat dalam perilaku para pejabat dan politikus Indonesia. Mereka cenderung memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, serta mengharapkan penghormatan dan ketaatan tanpa syarat dari bawahan dan rakyat. Sikap ini mencerminkan pola pikir yang masih mengakar kuat, dimana kekuasaan dilihat sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi.
4. Suka Menjilat Atasan
Tidak jarang kita menyaksikan bagaimana para pejabat dan politikus berlomba-lomba untuk menyenangkan atasan atau penguasa demi mempertahankan posisi dan kekuasaan. Sikap ini tidak hanya menurunkan martabat pribadi, tetapi juga merusak sistem pemerintahan yang seharusnya berlandaskan meritokrasi dan profesionalisme.
5. Kurang Berani Mengambil Risiko
Banyak pejabat dan politikus yang lebih memilih zona nyaman daripada mengambil langkah berani untuk melakukan perubahan yang signifikan. Mereka takut menghadapi konsekuensi dari tindakan yang mungkin tidak populer, meskipun tindakan tersebut sangat diperlukan untuk kebaikan bersama. Ketakutan ini menghambat perkembangan dan kemajuan bangsa.
6. Cepat Puas dan Tidak Konsisten
Keinginan untuk cepat merasa puas dan tidak konsisten dalam kebijakan juga menjadi hambatan besar dalam pembangunan Indonesia. Program-program yang seharusnya berkelanjutan seringkali terhenti di tengah jalan karena pergantian kepemimpinan atau karena ketidakmampuan untuk mempertahankan komitmen jangka panjang.
Kesimpulan
Sifat-sifat manusia Indonesia yang diuraikan oleh Mochtar Lubis masih sangat relevan dalam konteks kekinian, terutama dalam mengamati perilaku pejabat, politikus, dan ulama pendukung rezim. Kemunafikan dan sifat-sifat negatif lainnya menjadi cerminan dari berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Untuk menciptakan perubahan yang positif, diperlukan kesadaran kolektif dan upaya bersama untuk memperbaiki diri serta menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian dalam menjalankan amanah.
























