Oleh: Entang Sastraatmadja
Dalam beberapa waktu terakhir, istilah smart farming (pertanian pintar) menjadi topik hangat di berbagai forum pertanian. Konsep ini umumnya dimaknai sebagai penggunaan platform digital yang terkoneksi dengan perangkat teknologi—seperti tablet atau telepon pintar—untuk mengumpulkan informasi lapang, mulai dari status hara tanah, kelembapan udara, hingga kondisi cuaca. Data tersebut diperoleh melalui perangkat sensor yang ditanamkan pada lahan pertanian.
Berbagai keuntungan sering dikaitkan dengan smart farming: meningkatnya pendapatan petani, membaiknya kondisi sosial ekonomi masyarakat desa, bertambahnya biodiversitas, hingga efisiensi penggunaan air. Bungaran Saragih (2020) bahkan menegaskan bahwa smart farming berperan besar dalam memperkuat sistem agribisnis.
Dengan bantuan sistem dan teknologi informasi, aktivitas pertanian kini dapat dilakukan secara otomatis serta dikendalikan dari jarak jauh. Hemat air, hemat energi, dan hemat sumber daya menjadi kata kunci. Di sinilah salah satu ruh Pertanian 4.0, sebuah paradigma baru yang kontras dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya.
Mempertegas konsep smart farming, kita juga perlu memahami istilah pertanian presisi (precision agriculture). Para pakar melihatnya sebagai sistem pertanian modern yang menjadi penentu tercapainya pembangunan berkelanjutan. Pertanian presisi dipandang sebagai solusi dalam menghadapi revolusi industri 4.0, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pertanian cerdas dan pertanian presisi bukan sekadar teknologi—keduanya adalah mind set baru. Tantangan utama pertanian di era milenial yang sarat teknologi informasi menuntut seluruh sumber daya manusia pertanian mampu beradaptasi dengan cepat. Tidak ada pilihan lain.
Dalam konteks ini, sebuah kesalahan besar apabila kita membiarkan petani terseret arus perubahan tanpa pendampingan. Petani harus dilatih menyesuaikan cara berpikirnya dengan perubahan zaman. Kita harus melahirkan petani cerdas, meninggalkan pola-pola subsisten yang selama ini membelenggu.
Petani masa depan adalah petani profesional—bukan petani yang menyerah pada nasib. Mereka harus tampil kreatif, kritis, dan inovatif. Namun untuk mencetak petani semacam itu, ada satu tokoh kunci yang menentukan: Penyuluh Pertanian. Para penyuluh harus lebih dulu memiliki mind set baru agar mampu menyelenggarakan penyuluhan yang relevan dengan tuntutan era smart farming.
Masalahnya, kenyataan di lapangan sering jauh dari ideal. Mayoritas petani Indonesia masih bergulat dalam kondisi ekonomi yang sulit; kebanyakan adalah petani gurem dan buruh tani dengan pendidikan terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan hidup pun mereka masih harus mencari pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian. Dalam kondisi seperti ini, menerapkan pertanian cerdas jelas bukan perkara sederhana.
Semangat smart farming membutuhkan cara pikir baru—dan perubahan cara pikir bukan proses yang bisa sekadar “disuluhkan”. Butuh konsistensi, pemahaman mendalam, serta peran penyuluh yang kuat.
Karena itu, sebelum para penyuluh menerangi para petani dengan konsep smart farming atau pertanian presisi, mereka sendiri terlebih dahulu harus benar-benar memahami paradigma tersebut secara utuh, holistik, dan komprehensif. Tanpa itu, perubahan perilaku petani hampir mustahil dicapai.
Catatan kritisnya:
Apakah para Penyuluh Pertanian sudah siap?
Apakah mereka telah terbebas dari beban administratif proyek-proyek Eselon I yang sering menyita waktu dan energi?
Dan pertanyaan yang semakin relevan: apakah nilai-nilai luhur seorang penyuluh masih hidup dalam kesehariannya?
Dalam penyelenggaraan penyuluhan, apakah para penyuluh telah memiliki sarana prasarana yang layak? Bagaimana dengan perangkat teknologi informasi—handphone, tablet, laptop—yang menjadi syarat dasar smart farming? Bagaimana pula dengan daerah-daerah yang masih mengalami blank spot?
Jika para penyuluh saja belum memiliki alat kerja memadai, bagaimana dengan para petani?
Untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup pun mereka harus membanting tulang—apalagi membeli tablet atau smartphone yang mumpuni.
Tanpa kelengkapan alat yang memadai, pertanian cerdas akan tetap menjadi jargon, jauh dari kehidupan petani kita. Di sinilah kita memerlukan pemikiran yang benar-benar cerdas. Kita boleh terus berbicara tentang smart farming, tetapi kita juga harus jujur melihat potret nyata petani Indonesia hari ini.
Tidak heran bila banyak pengamat menyebut smart farming sebagai sekadar “kemauan politik” yang belum terbukti dalam “tindakan politik”. Meski begitu, kita tidak boleh menyerah. Perjuangan menghadapi hambatan dan tantangan tetap harus dilakukan. Sebagai bangsa pejuang, kita tidak boleh letih memperjuangkan apa yang diyakini sebagai jalan menuju kemajuan.
(Penulis: Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja






















