Fusilatnews – Demonstrasi besar di Jakarta pada akhir Agustus 2025 kembali membuka perdebatan lama: bagaimana media membingkai peristiwa politik dan sosial. Kali ini, yang menarik bukan hanya aksi massa itu sendiri, tetapi juga bagaimana media luar negeri dan media arus utama dalam negeri menyajikannya.
Media luar negeri seperti Channel News Asia (CNA) dan Reuters menurunkan laporan dengan tajuk-tajuk dramatis. CNA misalnya menyoroti langsung tragedi yang menimpa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob. Judul beritanya terang-terangan menyebut polisi sebagai penyebab kematian, dengan kutipan tegas permintaan maaf dari Kapolri dan penahanan tujuh anggota Brimob. CNA menempatkan peristiwa ini sebagai simbol kegagalan aparat dalam mengendalikan aksi massa tanpa menimbulkan korban jiwa.
Reuters melangkah lebih jauh. Alih-alih hanya menyoroti insiden di Jakarta, Reuters menekankan eskalasi kerusuhan di berbagai daerah, termasuk pembakaran gedung DPRD di Makassar yang menewaskan tiga orang. Narasinya menekankan adanya ketidakstabilan politik dan sosial yang meluas, menyandingkan tragedi individu dengan kerusakan struktural. Reuters juga memberi ruang pada aspek politik, dengan menyoroti bagaimana Presiden Prabowo Subianto harus segera turun tangan untuk menenangkan situasi dan menjanjikan penyelidikan. Dari kacamata Reuters, demonstrasi di Indonesia bukan sekadar protes, tetapi krisis legitimasi kekuasaan yang mencuat ke permukaan.
Bandingkan ini dengan media arus utama dalam negeri. Pemberitaan cenderung lebih hati-hati, bahkan sering kali menutupi sisi-sisi paling dramatis. Narasi yang dominan adalah tentang “upaya aparat menjaga ketertiban,” atau “massa yang mulai tertib bubar.” Fakta adanya korban jiwa memang disebut, namun ditempatkan dalam bingkai permintaan maaf institusi kepolisian. Dalam media nasional, tragedi Affan Kurniawan tampak seolah menjadi “insiden yang disesalkan”, bukan titik balik dalam hubungan rakyat dan aparat. Isu mengenai tunjangan perumahan DPR sebesar Rp 50 juta yang memicu kemarahan publik bahkan nyaris luput dari sorotan utama.
Perbedaan ini menunjukkan adanya jurang narasi. Media luar negeri lebih berani menyingkap dimensi kritis: korban sipil, represi aparat, meluasnya kerusuhan, hingga simbol ketidakadilan ekonomi. Sementara media dalam negeri lebih memilih meredam eskalasi, mengedepankan framing keamanan, dan menjaga stabilitas citra pemerintah.
Dari sini kita bisa melihat, betapa isu yang diangkat media luar negeri lebih luas dan lebih berani:
CNA: Fokus pada korban individu (Affan Kurniawan) dan akuntabilitas polisi.
Reuters: Menekankan eskalasi nasional, korban tewas di daerah lain, kerusuhan, dan tantangan legitimasi pemerintahan.
Media nasional: Membatasi pada narasi ketertiban umum, permintaan maaf aparat, dan normalisasi situasi.
Esensi perbedaan ini bukan sekadar gaya pemberitaan, melainkan juga cermin dari ruang kebebasan pers dan keberanian media dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Di mata media asing, tragedi ini adalah bahan berita internasional dengan nilai dramatis tinggi. Di mata media nasional, ia menjadi isu yang harus dikendalikan agar tidak merusak “stabilitas” politik.





















