FusilatNews– Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak 60 persen negara miskin atau berpenghasilan sedikit terancam bangkrut akibat lonjakan utang. hal tersebut dikarenakan pandemi Covid-19, ditambah lagi dengan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan krisis beruntun. Tak hanya itu, Sri Mulyani juga mengatakan bahwa ancaman kenaikan utang terjadi di negara berkembang akibat tekanan ekonomi global yang meningkat.
Krisis beruntun ini menyebabkan tekanan besar pada negara kecil, negara yang keuangannya terbatas sedangkan harga minyak dan pangan semakin melonjak. “Sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah sudah atau hampir mati,” ungkap Sri Mulyani dalam pembukaan Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting di Bali seperti dilansir CNNIndonesia.com, Sabtu (16/7/20022).
Menurut perempuan yang kerap disapa Ani itu, kondisi buruk ini tidak hanya mengancam negara miskin, tetapi juga negara berkembang, meski kondisinya lebih baik. Negara berkembang dikatakan memiliki potensi besar tak bisa membayar utang dalam satu tahun ke depan. Namun, Sri Mulyani tak menjabarkan lebih lanjut mana saja negara yang benar-benar sakit dan tak bisa membayar utang. “Negara-negara berkembang mungkin tidak dapat memenuhi pembayaran utang selama satu tahun ke depan,” ungkap Sri Mulyani.
Lanjutnya, arah pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif akan berdampak pada aliran modal asing keluar dari negara-negara berkembang tersebut, selain itu kondisi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Cobaan terus datang sejak 2020 lalu yang membuat banyak negara, bahkan maju pun bisa masuk ke jurang resesi. “Jadi ancaman perang, krisis komoditas, dan peningkatan inflasi global juga dapat meningkat dan menciptakan limpahan utang yang nyata, tidak hanya untuk negara berpenghasilan rendah, tapi juga negara berpenghasilan menengah, atau bahkan ekonomi maju,” katanya.























