Makassar-Fusilatnews — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, komunitas Kawan Netra tetap konsisten memperjuangkan literasi braille bagi penyandang disabilitas netra. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan digital dan pelatihan baca Al-Qur’an braille yang digelar di Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI) Makassar, sejak Sabtu, 17 Januari 2026 hingga Rabu, 21 Januari 2026.
Kegiatan ini diikuti puluhan tunanetra dari berbagai latar belakang. Pelatihan digital dibagi ke dalam dua kelompok, yakni kelas dasar dan kelas lanjutan. Sementara pelatihan baca Al-Qur’an braille juga terbagi dalam dua kelas, yaitu kelas pengajar dan kelas bagi peserta yang baru mulai belajar membaca Al-Qur’an braille.
Pelatihan tersebut dipandu oleh Febrian, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya yang juga merupakan tunanetra, bersama Gusti Hamdan Firmanta, pendiri Kawan Netra. Keduanya berkolaborasi membagikan pengetahuan tentang literasi digital sekaligus penguatan kemampuan membaca braille kepada peserta selama kegiatan berlangsung di YAPTI.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang pelatihan. Hal ini dikonfirmasi oleh Hamdan Dani Ismail, peserta kelas lanjutan sekaligus perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SLB-A YAPTI Makassar.
“Sambutan teman-teman sangat luar biasa. Mereka aktif bertanya dan berlatih langsung. Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami semua,” ujarnya.
Salah satu peserta, Dahlia, menyampaikan harapannya agar program serupa dapat terus berlanjut.
“Kami berharap pelatihan digital ini tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi bisa berkelanjutan di tahun-tahun mendatang agar lebih banyak tunanetra, khususnya di Sulawesi Selatan, dapat merasakan manfaatnya,” kata Dahlia.
Sementara itu, pendiri Kawan Netra, Gusti Hamdan Firmanta, menjelaskan bahwa pelatihan baca Al-Qur’an braille merupakan bagian dari misi dakwah literasi braille yang mereka jalankan.
“Motivasi kami melakukan dakwah di Sulawesi Selatan adalah tingginya angka buta huruf Al-Qur’an braille di Indonesia yang mencapai sekitar 95 persen. Kami ingin menjadi bagian dari gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an braille,” jelas Hamdan.
Ia menambahkan, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemandirian tunanetra dalam mengakses ilmu agama dan teknologi.
“Kami berharap tunanetra di Sulawesi Selatan bisa lebih berdaya di era digital ini, serta dapat menikmati ayat-ayat Allah dengan membaca melalui titik-titik braille di atas kertas, bukan hanya mendengar atau menghafal,” pungkasnya.



















