Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
JAKARTA – “Maka hanya ada satu kata: lawan!”
Kredo dalam puisi Widji Thukul (1963-1998) berjudul, “Peringatan” (1986) ini tampaknya dihayati betul oleh elite-elite negeri ini, sehingga mereka berkumpul di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2022), dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1965.
Mereka yang hadir di Monumen Pancasila Sakti adalah Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Ny Iriana Jokowi, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin bersama istrinya, Wury Estu Handayani, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI Puan Maharani, dan Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti.
Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Koordinator (Menko) Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Upacara pun digelar, diawali dengan menyanyikan lagu kebengsaan “Indonesia Raya”. Setelah itu, Presiden Jokowi memimpin peserta upacara untuk mengheningkan cipta. Menyusul kemudian Ketua MPR RI Bambang Soesatyo membacakan teks Pancasila; Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti membacakan Pembukaan UUD 1945; dan Ketua DPR RI Puan Maharani membacakan dan menandatangani ikrar Kesaktian Pancasila.
“Maka di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kami membulatkan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan, menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Puan Maharani (CNNIndonesia.com, 1 Oktober 2022).
Mengapa 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila? Sebab, pada hari itulah Pancasila terbukti kesaktiannya setelah dicoba digulingkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin Dipa Nusantara Aidit melalui pemberontakan 30 September 1965 yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “G30S/PKI”. Pemberontakan itu ditandai dengan penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang kini patung mereka diabadikan di Monumen Pancasila Sakti.
Sebenarnya bukan kali itu saja PKI melakukan pemberontakan. Jauh sebelumnya, yakni medio 1948, PKI yang saat itu dipimpin Amir Sjarifuddin dan Muso melakukan pemberontakan di Madiun, Jawa Timur.
Kini, dua upaya kudeta PKI itu telah terkubur di makam sejarah. Namun traumanya masih membekas hingga saat ini. Sebab itulah para elite negeri ini berkumpul di Monumen Pancasila Sakti. Mereka membacakan ikrar untuk mempertahankan Pancasila, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan NKRI. Mereka menunjukkan perlawanannya terhadap PKI!
Edi Tansil
Istimewanya, sebelum peringatan Hari Kesaktian Pancasila mencapai titik kulminasi, di tahun-tahun sebelumnya biasanya jagat maya dan jagat nyata disesaki oleh polemik tentang isu kebangkinan komunisme, tapi tahun ini tidak. Mengapa? Mungkin karena saat ini tidak sedang masa pemilihan kepala daerah. Mungkin karena Pemilihan Presiden 2024 masih dua tahun lagi.
Ke mana para pangasong isu kebangkitan komunisme itu pergi? Mungkin mereka sudah tenggelam. Mungkin mereka sudah kelelahan. Sebab, dagangan yang meraka asongkan sudah tidak laku jual. Mereka mengalami apa yang disebut “Edi Tansil”. Apa itu Edi Tansil? Yakni, “ejakulasi dini tanpa hasil”.
Mengapa asongan isu komunisme tidak laku lagi di Indonesia? Mungkin karena publik sudah melek politik. Mungkin pula publik sudah jengah. Dari tahun ke tahun isunya itu-itu saja. Tak ada yang aktual. Tak ada yang faktual. Isu komunisme itu diembuskan setiap bulan September cuma demi politisasi semata. Tujuannya pun politis. Katakanlah memenangkan kandidat tertentu dalam pemilu.
Sebab faktanya, di negeri “mbah”-nya saja, komunisme sebagai ideologi sudah bangkrut, sekarat, bahkan mati. Rusia sebagai penerus Uni Sovyet kini sistem ekonominya terbuka, meskipun ideologi politiknya masih komunisme. Begitu pun Tiongkok. Yang masih bertahan adalah Korea Utara dan Kuba. Itu pun diprediksi tak lama lagi bakal rontok.
Sebab itu, menjual isu kebangkitan komunisme di Indonesia sudah tidak ada pembelinya. Lihat saja, di warung-warung kopi, di gang-gang sempit dan di mana-mana tidak ada orang yang menyebarkan paham komunisme. Sebab selain bisa dipidanakan, karena komunisme sudah dilarang di Indonesia, juga tak akan ada pengikutnya. Komunisme dan paham ekstrem kiri sudah bangkrut di mana-mana. Meski begitu, kita harus tetap waspada.
Yang kini muncul ke permukaan justru bangkitnya paham ekstrem kanan. Ektremisme, radikalisme, terorisme dan intoleransi berkedok agama menggejala di mana-mana. Ada Bom Bali 1 dan 2, ada Bom Kuningan, ada Bom JW Mariott, dan sebagainya. Terorisme adalah puncak dari intoleransi, kata Ketua Setara Institute Hendardi suatu ketika.
Sebuah penelitian mengungkapkan, akar dari terorisme di Indonesia adalah Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dari Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang berbasis di Jawa Barat. DI/TII melakukan pemberontakan hampir di semua provinsi di Indonesia kecuali Sumatera Utara tahun 1949. Tujuannya adalah mendirikan Negara Islam di Indonesia.
Pemberontakan DI/TII itu hingga kini juga masih menyisakan trauma. Namun, sangat jarang bahkan mungkin tidak ada sama sekali pihak-pihak yang menjualnya sebagai komoditas politik. Semua berpulang pada kesadaran bahwa bangsa ini harus bebas dari berbagai macam trauma, termasuk trauma atas pemberontakan oleh mereka yang berpaham kiri atau kanan.
Semua harus dilawan. Baik paham kiri atau pun paham kanan. Sebab kita sudah punya Pancasila. Pancasila adalah jalan tengah dari ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Dengan begitu, Pancasila akan senantiasa sakti, sampai kapan pun, tidak hanya sampai hari ini (1 Oktober 2022).


























