Korban Tragedi Kanjuruhan Tidak Hanya Luka Jasmani, tetapi Juga Rohani “Jadi efek dari zat yang terkandung di gas air mata sangat luar biasa. Ini juga patut dipertimbangkan untuk crowd control di masa depan,”
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk pemerintah di bawah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD telah melaporkan awal hasil investigasinya menelusuri rangkaian peristiwa yang menyebabkan tragedi memilukan warga bola sedunia itu.
Nugroho Setiawan, salah seorang anggota TGIPF, membeberkan data temuan sementara dari tela’ah pada infrastruktur di Stadion Kanjuruhan. Dilaporkan bahwa jumlah seluruh korban dalam Tragedi Kanjuruhan itu, sebanyak 705 orang. 131 orang meninggal, sedangkan sisanya luka-luka.
Ada lima poin yang dilaporkan TGIPF, sebagai rangkuman sementara, yang terkait sisi infrastruktur di Stadion Kanjuruhan terkait peristiwa maut pada 1 Oktober 2022 lalu, yaitu:
(1). Stadion Kanjuruhan tidak layak untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi (high risk match), seperti laga Arema FC melawan Persebaya.
“Kesimpulannya sementara bahwa stadion ini tidak layak untuk menggelar pertandingan high risk match. Mungkin kalau itu medium atau low risk masih bisa,” kata Nugroho Setiawan. Alasannya Nugroho mengatakan, untuk pertandingan yang diperkirakan berisiko tinggi pelaksana harus membuat perhitungan secara rinci dan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. “Kita harus membuat kalkulasi yang sangat konkret misalnya adalah bagaimana cara mengeluarkan penonton pada saat keadaan darurat,” ujar Nugroho yang merupakan pakar keamanan pertandingan sepak bola berlisensi Federasi Internasional Asosiasi Sepak Bola (FIFA).
2. Nugroho menyoroti ketiadaan pintu darurat di Stadion Kanjuruhan. “Jadi sementara yang saya lihat adalah pintu masuk berfungsi sebagai pintu keluar, tapi itu tidak memadai. Kemudian tidak ada pintu darurat,” kata Nugroho.
Patut diduga faktor ketiadaan pintu darurat itu yang membuat korban jiwa dalam peristiwa desak-desakan pada 1 Oktober 2022 lalu cukup tinggi. Menurut Nugroho, dari rekaman kamera pemantau atau kamera CCTV di Stadion Kanjuruhan saat peristiwa kericuhan yang menewaskan 131 orang itu terjadi, terlihat massa penonton panik dan berebut mencari pintu untuk bisa keluar menghindari asap gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian guna menghentikan kericuhan.
“Saat itu massa penonton berebut menyelamatkan diri mereka berupaya keluar dari pintu 13 stadion. Akan tetapi, karena pintu itu sebenarnya untuk penonton masuk maka terjadi desak-desakan yang membuat sejumlah penonton terhimpit dan terinjak-injak hingga kehabisan napas.
3. Temuan sementara terungkap anak tangga di Stadion Kanjuruhan, kurang ideal terutama jika terjadi kepanikan massa penonton, seperti usai pertandingan Aremania FC dan Persebaya Surabaya dalam Liga 1 pada 1 Oktober 2022 lalu. “Anak tangga ini kalau secara normatif dalam safety regulate, ketinggian 18 senti, lebar tapak 30 senti. Ini tadi antara lebar tapak dan ketinggian sama. Rata-rata mendekati 30 (sentimeter),” kata Nugroho. Menurut Nugroho, jika konstruksi anak tangga ideal diterapkan di stadion maka menekan kemungkinan para penonton terjatuh ketika berlari saat naik atau turun, termasuk ketika terjadi kepanikan.
Lebar anak tangga di stadion itu juga kurang memadai. “Kemudian lebar dari anak tangga ini juga tidak terlalu ideal untuk kondisi crowd, karena karena harus ada railing. Railing untuk pegangan,” ucap Nugroho. “Nah railing-nya juga sangat tidak terawat. Dengan stampede, desakan yang luar biasa, akhirnya railing-nya patah, dan itu juga termasuk yang melukai korban,” ucap Nugroho
4. Nugroho juga menyarankan supaya aparat keamanan mempertimbangkan kembali penggunaan gas air mata di stadion. Hal itu disampaikan Nugroho dari hasil temuan sementara TGIPF setelah bertemu sejumlah korban selamat dari Tragedi Stadion Kanjuruhan. Saat Kejadian, Pintu 12 dan 13 Stadion Tertutup Nugroho mengatakan, TGIPF menemui dan melihat kondisi korban luka-luka atau yang terpapar gas air mata di peristiwa Stadion Kanjuruhan. Menurutnya, juga melihat perubahan trauma akibat efek gas air mata terhadap fisik para korban terutama pada bagian mata. “Dari menghitam kemudian memerah, dan menurut dokter itu recovery-nya paling cepat adalah 1 bulan,” tambah Nugroho.
Korban Tragedi Kanjuruhan Tidak Hanya Luka Jasmani, tetapi Juga Rohani “Jadi efek dari zat yang terkandung di gas air mata sangat luar biasa. Ini juga patut dipertimbangkan untuk crowd control di masa depan,” ujar Nugroho.
5. Stadion Kanjuruhan harus dibenahi supaya sesuai standar keselamatan, guna menghindari insiden maut seperti 1 Oktober 2022 yang menewaskan 131 orang tidak terulang. Pembenahan yang perlu dilakukan adalah, perbaikan akses pintu keluar dan masuk bagi penonton serta membuat pintu darurat.
“Jadi mungkin ke depan perbaikannya adalah merubah struktur pintu itu, kemudian juga mempertimbangkan aspek akses seperti anak tangga,” kata Nugroho. “Jadi itu tadi sekali lagi perlu perbaikan ke depan untuk
pertandingan yang high risk match,” kata Nugroho.
Semnetara pada pemberitaan yang lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 6 Oktober 2022 mengumumkan enam orang ditetapkan sebagai tersangka tragedi Kanjuruhan. Aparat Dimobilisasi Pertengahan Babak Kedua Mereka adalah Akhmad Hadian Lukita (Dirut LIB), Abdul Harris (Ketua Panpel), Suko Sutrisno (Security Officer), Wahyu SS (Kabag Ops Polres Malang), H (Brimob Polda Jatim), BSA (Kasat Samapta Polres Malang).

























