• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Tiga Seragam, Tiga Dunia: Polisi di AS, Jepang, dan Indonesia

Ali Syarief by Ali Syarief
November 8, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Tiga Seragam, Tiga Dunia: Polisi di AS, Jepang, dan Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Di atas kertas, tugas polisi di seluruh dunia tampak sederhana: menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi masyarakat. Namun dalam praktiknya, tiga negara—Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia—menunjukkan tiga wajah berbeda dari satu lembaga yang sama. Perbedaan itu bukan hanya soal cara bertindak, tapi juga soal bagaimana kekuasaan dan moral bekerja di balik seragam.

Amerika Serikat: Polisi dan Bayang-bayang Kekerasan

Pada 25 Mei 2020, dunia menyaksikan detik-detik ketika seorang polisi kulit putih, Derek Chauvin, menekan lututnya di leher George Floyd selama lebih dari sembilan menit. “I can’t breathe,” kata Floyd, kalimat yang kemudian menjadi jeritan kolektif melawan brutalitas polisi di Amerika Serikat.

Kasus itu bukan anomali. Menurut data Mapping Police Violence, rata-rata lebih dari 1.000 warga sipil tewas setiap tahun akibat tindakan polisi. Lebih dari seperempatnya adalah warga kulit hitam—meski mereka hanya 13 persen dari total populasi.

Amerika hidup dalam paradoks: negara demokrasi yang menjunjung tinggi hukum, tapi di saat yang sama masih menoleransi kekerasan sistemik dalam penegakan hukum. Polisi di sana punya pelatihan canggih, senjata mutakhir, dan kamera tubuh di dada mereka, tapi semua teknologi itu tak mampu menundukkan satu hal: bias ras dan budaya kekuasaan.

Polisi Amerika sering tampak seperti pasukan militer di jalanan sipil. Mereka dibentuk oleh sejarah panjang konflik dan ketakutan—dari perang terhadap narkoba hingga terorisme domestik. Akibatnya, warga kerap memandang mereka bukan sebagai pelindung, melainkan ancaman berseragam.

Jepang: Polisi Sebagai Penjaga Moral Kolektif

Sementara itu, di Tokyo, pemandangan di depan pos polisi kecil—atau kōban—terasa seperti dunia lain. Seorang polisi berseragam biru membantu seorang nenek mencari jalan pulang. Di pojok ruangan, payung-payung tersusun rapi, milik warga yang lupa mengambilnya. Tak ada wajah tegang, tak ada senjata yang mencolok.

Polisi di Jepang menjalankan fungsinya bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kedekatan sosial. Mereka mengenal warga di lingkungannya, memantau dengan pendekatan kekeluargaan, dan menegakkan hukum tanpa kehilangan sisi kemanusiaan. Tingkat kepercayaan publik terhadap polisi Jepang mencapai lebih dari 80 persen—angka yang membuat iri banyak negara.

Di balik itu semua, ada fondasi moral yang kokoh: rasa malu. Dalam masyarakat Jepang, kesalahan satu orang bisa mencoreng seluruh institusi. Ketika seorang perwira polisi tertangkap melakukan pelanggaran kecil, ia akan mundur tanpa perlu diperintah. Polisi Jepang hidup dalam apa yang disebut sosiolog Ruth Benedict sebagai shame culture—masyarakat yang dikendalikan oleh rasa malu, bukan rasa takut.

Mungkin itulah sebabnya polisi Jepang jarang korup, dan tak punya citra menakutkan. Mereka hadir bukan untuk mengintimidasi, tapi untuk merawat keteraturan sosial.

Indonesia: Di Antara Kuasa dan Kepercayaan yang Retak

Di Indonesia, seragam cokelat sering hadir dalam berita bukan karena keteladanan, melainkan kontroversi. Kasus pembunuhan berencana oleh Ferdy Sambo pada 2022 menjadi puncak gunung es—membuka wajah gelap kekuasaan di balik institusi yang seharusnya menegakkan hukum.

Dari pungutan liar di jalan hingga kongkalikong kasus besar, publik menyaksikan polisi seperti hidup dalam dua dunia: dunia hukum dan dunia kuasa. Reformasi 1998 memang memisahkan Polri dari militer, tapi belum benar-benar memisahkan polisi dari politik dan kepentingan ekonomi.

Kepercayaan publik pada Polri terus menurun setiap kali kasus baru mencuat. Ketika aparat menggunakan kekerasan terhadap demonstran, ketika laporan warga diabaikan karena “tidak punya uang pelicin”, atau ketika penyidik justru bersekongkol dengan pelaku, publik bertanya-tanya: di sisi siapa sebenarnya polisi berdiri?

“Polisi kita masih berpikir seperti penguasa, bukan pelayan publik,” kata seorang pengamat hukum dari Universitas Indonesia dalam sebuah diskusi publik. Pernyataannya menggambarkan kenyataan pahit: reformasi struktural tak akan berarti tanpa reformasi mental.

Tiga Cermin, Satu Pelajaran

Polisi di Amerika melindungi hukum dengan tangan besi; di Jepang, dengan rasa malu; dan di Indonesia, sering dengan perasaan kebal hukum.

Ketiganya mencerminkan akar budaya dan politik masing-masing bangsa. Amerika mengandalkan sistem kontrol eksternal seperti body camera dan pengadilan independen. Jepang mengandalkan kontrol internal berupa etika sosial. Indonesia? Masih mencari bentuk antara aturan yang tak ditegakkan dan moral yang belum tumbuh.

Esensinya sederhana tapi berat: polisi adalah cermin bangsa. Di negara yang hukumnya kuat, polisi menjadi penjaga keadilan. Di negara yang masyarakatnya bermoral, polisi menjadi panutan. Tapi di negara yang kekuasaannya menelan akal sehat, polisi bisa berubah menjadi alat represi.

Penutup: Jalan Reformasi yang Belum Menyala

Reformasi kepolisian di Indonesia tidak bisa berhenti pada jargon Presisi atau kampanye citra di media sosial. Ia memerlukan revolusi nilai—dari mentalitas kuasa menuju etika pelayanan. Belajar dari Jepang, kita butuh polisi yang merasa malu ketika melanggar; belajar dari Amerika, kita butuh mekanisme pengawasan publik yang benar-benar bekerja.

Polisi seharusnya menjadi penjaga nurani hukum, bukan perpanjangan tangan kekuasaan. Karena tanpa moral, hukum hanyalah teks; dan tanpa keadilan, hukum kehilangan makna.

Ketika seorang polisi menegakkan hukum dengan hati nurani, ia tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga martabat bangsa. Mungkin, di situlah reformasi Polri seharusnya dimulai—dari keberanian untuk menjadi manusia sebelum menjadi aparat.


Apakah Anda ingin saya bantu ubah versi ini menjadi naskah siap terbit untuk Tempo, lengkap dengan subhead, kutipan yang diformat, dan gaya layout naratif majalah (misalnya dengan blok kutipan dan highlight kalimat reflektif)?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

HKTI di Persimpangan: Antara Kemandirian dan Bayang-bayang Politik

Next Post

Kepribadian dan Genetika Gibran Bahayakan Demokrasi dan Pembangunan Hukum

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing
Birokrasi

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Next Post
Jokowi, Gibran, Anwar Usman: Nepotisme, Omon-Omon, dan Ancaman Estafet Kekuasaan

Kepribadian dan Genetika Gibran Bahayakan Demokrasi dan Pembangunan Hukum

MIKUL DUWUR MENDEM JERO

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...