Oleh : Muhamad Yamin Nasution
Pada fadjar 3 Oktober 2022, Nasdem yang sebelumnya telah duduk bersama dengan dua partai lain – Demokrat dan PKS, akhirnya memilih dan memutuskan untuk menyudahi buruknya binari politik (binari sistem 0 dan 1), Nasdem memutuskan dan menentang dan mengajak bangsa ini untuk berkomitmen memilih kandidat yang kompeten – sehingga pelestarian Negara menuju peradaban modern dan maju, dengan masyarakat yang cerdas, mandiri, bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan YME sesuai tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU terlaksana.
Nasdem telah Siap & bahkan rela melepas indahnya sweet room kekuasan yang dimiliki dengan beberapa Mentri di Pemerintahan, tidak lain agar Negara dan Bangsa keluar dari belenggu politik bungkus kwaci yang sempit dan murahan “BeanBag Politic” yang telah di perjuangkan tokoh politik sehingga hidup, tumbuh, dan berkembang yang menghasilkan udara najis, air minum najis, dan makanan najis demokrasi dan melahirkan kerusakan persatuan bangsa karena, membuat masyarakat terjebak dengan kebiasaan buruknya, dan pemimpin tak mampu menyatukan moral tersebut, ke-asyikan buruk itu melupakan masa depan bangsa.
Nasdem melakukan deklarasi yang independen dengan harapan independensi akan lahir, mengingat banyaknya perjuangan dan persembahan Nasdem dalam merebut kekuasan dan menghadiahkan kepada Presiden Jokowi. Alih-alih Deklarasi yang independen didapat; cibiran, hinaan, makian, bahkan dugaan intervensi baik secara langsung dan tidak langsung dari Presiden Jokowi harus di hadapi oleh Nasdem yang telah mendeklrasikan Anies Rasyid Baswedan. Uccapan – ucapan yang tak semestinya bahkan terlarang dalam prinsip-prinsip demokrasi.
Anies Baswedan, saat memimpin DKI Jakarta memang telah terbukti mampu melumpuhkan kekuatan oligarki dengan menutup dan menundukkan sifat nakal dan liar pihak swasta pada REKLAMASI TELUK JAKARTA yang telah mendapat jalan mulus dari kekuasan sebelumnya di DKI, bahkan di salah satu acara Mata Najwa, secara terang-terangan LBP dengan tegas tidak ada yang dapat menutup pelaksanaan reklamasi tersebut. Anies Baswedan layaknya pemimpin yang di damba-dambakan oleh Cendikiawan negara-negara maju seperti JOHN W. GARNER mengatakan;
“Pemimpin memiliki peran penting dalam menciptakan keadaan pikiran masyarakat. Pemimpin dapat berfungsi sebagai simbol kesatuan moral masyarakat. Pemimpin dapat mengekspresikan nilai-nilai yang menyatukan masyarakat. Yang paling penting, pemimpin dapat menyusun dan mengartikuliasikan tujuan yang mengangkat orang keluar dari ke-asyikan kecil mereka, membawa mereka di atas konflik yang merobek masyarakat, dan menyatukan mereka dalam mengejar tujuan yang layak untuk upaya terbaik mereka.”
Polarisasi pasca pilgub di DKI berakhir dengan sendirinya.
Duopoly atau sistem binari politik adalah sistem politik yang hany menampilkan dua kandidat Nol dan satu (0 dan 1), Nøl artinya bahwa salah satu pasangan hanya sebagai pelengkap pemilu, sedangkan satu adalah kandidat yang akan di menang yang juga bagian dari monopoli, pada dasarnya kedua kandidat tersebut adalah orang-orang yang telah di sepakati untuk dapat diatur demi kepentingan besar “invisible hand”.
Duopoli atau sistem binari politik ini telah banyak di mohonkan banyak ahli hukum dan masyarakat Indonesia ke Mahkamah Konstitusi atau dikenal dengan Presidential Threshold 20%, yang selalu mendapatkan hambatan dengan bermacam-macam alasan yang terkadang tidak sejalan dengan tujuan utama MK dibentuk. Duopoli ini benar-benar secara terbuka disampaikan oleh Sekjen PDI-P Hasto dengan mengatakan; capres cukup hanya 2 pasang saja.[1] bukankah ini memilki benang merah dengan putusan MK selama ini? tentunya analisa mengatakan demikian.
Menurut data yang di kumpulkan oleh ahli politik AS dari Universitas Emory Alan Abramowitz bahwa duopoly telah melahirkan kecurangan pemilu pada tahun 1964, dan masyarakat AS berpikir dan setuju bahwa pemerintahan dijalankan oleh segelintir kepentingan besar yang hanya mementingkan diri sendiri, sebesar 29%. Dan tingkat ketidakpuasan masyarakat pada tahun 2012 hal yang sebesar 79%. [2]
Politik bukanlah seperti bungkus kwaci “BeanBag” yang hanya menghasilkan makanan, minuman, dan udara sampah dan kotoran dalam berbangsa dan bernegara. Nasdem, Demokrat, dan PKS telah pertamakali menginginkan, menunjukkan pada masyarakat keinginan perbaikan yang fundamental dalam prinsip-prinsip politik bernegara, sehingga dapat melahirkan demokrasi yang baik, pemimpin yang lebih baik, persaingan yang lebih elegan. Masalah yang lebih besar dari sipat duopoli/binari politik adalah secara nyata PDIP dan pemerintah mengabaikan keinginan rakyat yang tidak memilih Presiden JKW sebesar 43% pada Pemilu 2019, ditambah keluarnya Nasdem dari koalisi yang ada. Greg Orman mengatakan bahwa; penolakan Duopoli/binari politik berhadapan langsung dengan efek globalisasi dan gangguan sosial besar lainnya yang disebabkan oleh kemajuan teknologi yang telah menciptakan tidak hanya ketidakpastian dan frustasi dikalangan pemilih.[3]
Masyarakat perlu menarik kembali tirai duopoly/binari politik yang secara nyata telah memecah belah bangsa kita untuk menutupi kegagalan dan kelalaian kekuasan, atau telah menghilangkan, membuang hari-hari Indah dan terbaik bangsa, dan bangsa ini akan tertinggal jauh dibelakang. Jika kita tidak mulai maka dapat dipastikan kita akan menghadapi masa sulit di kemudian hari. Di ultah ke 11 partai Nasdem, Surya paloh seolah-olah dengan tegas menantang dan mengajak Presiden Jokowi agar kiranya keluarlah dari tirani duopoli/binari politik dengan pernyataan “Pak Presiden, Nasdem adalah sahabat Presiden yang terus ada, dan Nasdem menunggu dukungan Bapak terhadap capres kami Bpk. Anies Baswedan (jatah Anies).” [4]
Sumber :
On-line
news.detik.com
https://news.detik.com › pemilu
Hasto PDIP Mau Pilpres 2024 Cuma 2 Paslon, PPP Singgung …
cnnindonesia.com
https://www.cnnindonesia.com › sur…
Surya Paloh Tunggu Jokowi Bilang Pilpres 2024 Jatah Anies Baswedan
Pustaka :
Greg Orman : Independence Declaration; how we can break the two-party strenghold and restore the American Dream 2016
Ibid


























