Fusilatnews – Hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Siti Hediati Hariyadi, atau Titiek Soeharto, memang telah lama berakhir di ranah rumah tangga. Namun kini, publik disuguhi sebuah drama politik baru: Titiek berdiri tegak di gedung parlemen, sementara Prabowo berkuasa di Istana. Yang mempertemukan keduanya bukan urusan keluarga, melainkan urusan perut rakyat—soal pangan.
Sebagai Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek tampil lantang mempertanyakan mengapa cadangan beras pemerintah menumpuk di gudang Bulog, sebagian bahkan terancam turun mutu. Kritik ini tidak main-main: beras yang membusuk berarti uang rakyat yang ikut membusuk. Dalam bahasa politik, itu adalah gugatan kepada pemerintah—dan pemerintah hari ini adalah Presiden Prabowo, mantan suaminya sendiri.
Di satu sisi, Prabowo sedang mengusung visi besar “kedaulatan pangan”, sebuah agenda ambisius yang menjadikannya presiden pilihan rakyat. Ia berjanji Indonesia akan tegak tanpa bergantung pada impor. Namun di sisi lain, realitas di lapangan—yang ditunjukkan Titiek—memperlihatkan tumpukan beras yang tidak mengalir ke rakyat, yang justru bisa berbalik menjadi bencana pangan.
Pertentangan simbolik ini menarik: Prabowo berbicara dengan retorika besar tentang ketahanan nasional, sementara Titiek datang dengan suara konkret dari lapangan—beras berkutu di gudang, stok lama yang membebani, potensi kerugian triliunan rupiah. Di sinilah publik melihat benturan: antara mimpi besar seorang presiden dengan kegetiran fakta seorang legislator.
Apakah kritik Titiek bisa dianggap sekadar dinamika wajar antara legislatif dan eksekutif? Atau justru menjadi babak baru dalam “perang sunyi” antara dua mantan pasangan yang kini menempati panggung politik berbeda?
Yang jelas, rakyat di bawah tidak terlalu peduli pada romansa masa lalu. Yang mereka butuhkan adalah beras dengan harga terjangkau dan kualitas terjaga. Titiek mengartikulasikan kegelisahan itu, sementara Prabowo harus membuktikan bahwa visinya lebih dari sekadar janji. Jika Prabowo gagal, maka kritik Titiek akan tampak seperti suara hati rakyat yang benar-benar diabaikan oleh pemerintahannya sendiri.
Dalam politik, kadang sejarah pribadi bisa menjelma menjadi drama publik. Dan dalam kasus ini, perut rakyat menjadi arena di mana Prabowo dan Titiek, dua sosok yang pernah disatukan cinta, kini berhadapan dalam pertarungan legitimasi.























