“Adalah suatu kehormatan, ketika Buku Trauma Politik Bangsa” itu, benar-benar tiba dirumah, saat gerimis di sore hari, dikirim langsung oleh Penulisnya sendiri. Lalu saya buka, Mang Adjan menulis dengan tulisan tanagannya, di halaman pertama “Mang Ali Syarief manawi aya waktosna – neda ulasan” (Uncle Ali Syarief – when you have the time – kindly to take notes”. Buku itu Judul lengkapnya “ Trauma Politik Bangsa, disusul dengan Sub Judulnya “ PKI dalam Pertarungan Politik dan Kekuasaan – PKI di Jawa Barat sebelum 1965”.
Jadi ini buku catatan dan ulasan sejarah. Ada sosok orang-orang hebat, yang terlibat dalam penulisan Buku ini, yaitu seorang Sosilog mashur, Bpk Alm. Andung A. Adiwilaga, dan OC Kaligis, pakar Hukum yg sudah kita kenal semua. Tiga sosok tokoh dan kepakarannya itu, membelender perisitiwa sejarah PKI dalam 444 halaman, menjadi kisah yang menarik dan menumbuhkan hasrat untuk terus membacanya.
Mang Adjan Sudjana, setelah saya telusuri, ada yang sama dengan pekerjaan saya; Wartawan, mengajar dan menulis. Ia adalah penulis dan pemimin redaksi majalah Kadin Dinamika, yang kemudian digantikan perannya oleh Alm Adeng H Sudarsa, sosok yang saya kenal juga sebagai, dalam banyak hal, guru saya.
Yang ingin saya sampaikan adalah, pilihan kata dan semiotika penulisan kisah sejarah ini, akurat dan enak di baca. Tapi lebih dari itu, karena saya tidak terlalu faham, apa yang terjadi sebelum 1965, karena saat itu belum aqil balig. Itulah yang membuat saya, melirik kisah ini, untuk terus membacanya. Satu hal lagi. Orang tua saya, KH Umar Saleh (Anggota BPH Jawa Barat dari PSII waktu itu) pada tahun 1965, adalah salah seorang yang ada dalam list yang berdedar, menduduki peringkat nomor 11 tokoh Jawa Barat yang akan dibunuh oleh Gerakan PKI itu.
Saya jadi dapat mebayangkan bagaimana Mang Djana mulai menulis buku ini. Walau mungkin berbeda dengan cara Prof Dr. Nina Lubis, Dosen Sejarah UNPAD, saat saya menjadi saksi, bagaimana beliau mewawancarai pelaku sajarah menumpas PKI, yang masih jagjag waringkas saat itu, Kolonel Prn. H. Sani Lupias.
Pada Bab Pendahuluan, saya dapat menyimpulkan, apa yang pernah saya pelajari tentang komunisme, seperti apa yang beliau tulis : “algoritma keseragaman yang sekarang berkembang dalam kehidupan masyarakat kita justru malah telah membangun budaya anti perbedaan; sehingga tidak pernah terjadi di dialog kritis antar aku dan engkau. Terutama dalam ruang media-media social. Dalam dunia seperti ini, tidak akan pernah perkembangan berfikir. Bully membully dan ujaran kebencian beredar massif dalam ruang-ruang maya yang diciptakan algoritma. Cara befikir aku dan engkau ini secara ekstrim dirumuskan oleh Marx dan Engel sebagai perjangan kelas : Perjuangan hidupmati antara kaum proletar dan kaum borjuis!
Kisah yang paling menarik adalah, pada Bab dua, bagaimana idiologi komunisme masuk kedalam masyarakat islam, terutama di Jawa Barat. Siasah Gerakan komunisme ini, luar biasa, sehingga kemudian, terbukti, pada pemilu pertama 1955, PKI mendapat suara yang telak, yaitu unggul diatas 10% dilima propinsi; Jatim 33,3%, Jateng, 25,8%, Jabar, 10,8%, Jakarta Raya, 12%, dan Sumsel 12,1%.
Dalam bab-bab berikutnya, walau perhatian saya kepada “bagaimana ideologi komunisme itu masuk di komunitas Islam, lalu mencari tahu apakah perhatian Jokowi membagi-bagikan sertifikat itu, adalah bentuk atau mengikuti strategi PKI dengan land reform nya itu? Dan itu, yang menggelitik ingatan saya, bahwa Pemilu 1955, pada putaran ke dua, PKI justru unggul telak dihampir semua pemilihan daerah!? Lebih dari itu, saya menjadi faham, daerah-daerah mana saja, di Jawa Barat, PKI hidup.
Pada Bab-bab terkahir, terungkap nama Prof. MT Zein. Ini mengingatkan saya, ketika bersama Alm Hendarmin Ranadireksa bertandang kerumahnya, di Kawasan Dago Bandug Utara. Saya membawa singkong, yang saya tanam sendiri, di Desa Jabong. Beliau suka sekali. Kang Rahmat Witoelar, yang pernah meminta saya, mendampingi Waratwan Senior Newsweek biro Asia, dalam rangka riset perisitwa “dukun satet”. Heboh karena banyak korban dari mulai Banyuwangi sampai ke Banten, dianiaya sampai dibunuh secara sadis, karena dituduh sebagai dukun santet.
Ada hal yang kemudian saya merenunginya, yaitu kata “Pawai allegories”. Dalam ingatan saya, pawai itu penuh dengan atraksi dan atribut seni, tetapi pesan politiknya menohok para pemimpin-pemimpin di Jakarta, sampai banyak perubahan kebijakan karenanya.
Buku ini terbit di bulan September, puncak klimaks dari pemberontakan G30S PKI, 1965. Bagi saya ini adalah tugu peringatan dan semangat perjuangan, melawan PKI; Bagi PKI tidak ada kalah-menang! PKI hanya mengenal pasang-surut!, komentar dari Tantyo Adji Pramudyo Sudharmono
Terkahir, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan penghargaan saya, atas terbitnya buku sejarah ini, dan mengajak sahabat-sahabat, untuk sama-sama tidak melupakan sejarah.
Wassalam


























