FusilatNews – Di tengah dentuman grafik merah dan angka-angka yang runtuh dari layar Bloomberg, nama Donald J. Trump kembali memenuhi ruang percakapan publik. Bukan karena pidato besar atau kemenangan diplomatik, tetapi karena sesuatu yang lebih subtil, lebih mengguncang, dan lebih dalam dari sekadar headline: pasar saham Amerika Serikat anjlok lebih dari 10% hanya dalam dua hari.
Tapi kali ini, berbeda. Tidak ada pernyataan prihatin. Tidak ada langkah konkret untuk menenangkan investor. Tidak ada tanda-tanda bahwa Trump akan mundur dari kebijakan tarif yang telah memicu badai ini. Justru yang ada adalah… keteguhan. Bahkan, cenderung dingin.
Dan di situlah teka-teki besar dimulai: Apakah ini benar-benar kecelakaan ekonomi? Atau sebuah taruhan politik yang sangat terukur?
Bayangan ‘Trump Put’ yang Memudar
Pada masa jabatan pertamanya, Trump begitu terikat dengan pasar saham. Ia mencuit lebih dari 150 kali tentang kenaikan indeks, menjadikan performa Wall Street sebagai bukti mutlak keberhasilan pemerintahannya. Pasar adalah panggung, dan Trump adalah sutradara yang selalu ingin lampu sorot tertuju padanya.
Kala itu, para investor percaya pada apa yang disebut “Trump Put”—gagasan bahwa Trump tidak akan pernah membiarkan pasar jatuh terlalu dalam. Setiap guncangan pasti akan dibalas dengan janji keringanan pajak, deregulasi, atau kesepakatan dagang baru.
Namun kini, “Trump Put” seakan mati mendadak. Sejak pelantikan keduanya pada Januari, indeks S&P 500 telah turun lebih dari 15%. Nasdaq bahkan sudah kehilangan 20% nilainya. Dan dari Gedung Putih, tidak ada pertolongan.
Yang ada justru tarif baru yang diumumkan tanggal 2 April. Tarif yang lebih agresif dari perkiraan analis mana pun. Tarif yang memicu jual-beli panik di bursa. Tarif yang tampaknya disengaja untuk… sesuatu yang lebih besar.
Ketika Pasar Menjadi Senjata Politik
Di dunia politik modern, kadang krisis bukan hal yang dihindari—tetapi diciptakan. Para pengamat ekonomi mulai membisikkan kemungkinan bahwa Trump tengah memanfaatkan pasar yang runtuh untuk menciptakan narasi baru: narasi kebangkitan ekonomi yang dimulai dari titik nadir.
Trump sendiri me-retweet sebuah unggahan viral yang menyatakan: “Trump is Purposely CRASHING The Market.” Dalam gambar tersebut, ia digambarkan sedang menunjuk grafik merah besar sambil tersenyum. Aneh? Ya. Tapi dalam dunia politik Trump, aneh sering kali berarti sengaja.
Saat ditanya soal ini dalam perjalanan di Air Force One, Trump tidak menampik dengan jelas. Ia hanya berkata bahwa ini adalah “obat” yang diperlukan untuk menyembuhkan defisit perdagangan AS.
Kalimat itu—obat—menjadi kunci.
Obat Pahit untuk Siapa?
Menurut Brian Bethune, ekonom di Boston College, kebijakan tarif Trump ibarat memasang ratusan karung pasir di balon udara ekonomi AS. Cepat atau lambat, balon itu akan jatuh. Dan jatuhnya kini terdengar sangat keras.
Dalam dua hari pasca pengumuman tarif, S&P 500 kehilangan hampir $5 triliun nilai pasar. Dan berbeda dari masa lalu, Federal Reserve tak segera datang menolong.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa tarif baru ini berpotensi menaikkan inflasi dan menurunkan pertumbuhan. Artinya, tidak ada ruang untuk memangkas suku bunga seperti yang diharapkan Trump. “Kavaleri tidak akan datang,” ujar David Seif, kepala ekonom di Nomura.
Namun justru di situlah letak “permainannya”: Trump bisa menyalahkan The Fed. Seperti dahulu ia menyalahkan Obama, kini Powell menjadi lawan debatnya di depan publik. Dan di mata para pemilih konservatif—khususnya kelas pekerja yang muak pada elit ekonomi—narasi itu bisa sangat memikat.
Skenario Besar: Membakar untuk Membangun
Apakah Trump tengah membiarkan pasar terbakar untuk kemudian membangun narasi sebagai penyelamat? Banyak yang meyakini demikian.
“Jika dia bisa menekan pasar cukup dalam, lalu mencapai kesepakatan dagang besar, atau memaksa Fed memangkas bunga, maka dia bisa tampil sebagai pahlawan,” ujar Kevin Philip dari Bel Air Investment Advisors.
Tapi skenario itu bukan tanpa risiko. Pasar bukan mesin yang bisa dibongkar-pasang semaunya. Jika kejatuhan terlalu dalam, kepercayaan investor bisa lenyap. Konsumen bisa menahan belanja. Dan pada titik tertentu, bahkan basis loyalnya bisa mulai bertanya: Apakah semua ini sepadan?
Politik Adalah Pasar Lain
Di balik semua spekulasi ini, satu hal jelas: Trump bukan hanya bermain di pasar saham. Ia bermain di pasar persepsi. Pasar di mana simbol, narasi, dan ketegangan lebih penting dari grafik dan angka. Di pasar itu, krisis adalah modal. Ketakutan adalah alat. Dan kemenangan bukan sekadar indeks naik, tapi opini publik yang tetap loyal.
Apakah Trump akan menyerah? Mungkin tidak.
Karena dalam permainan ini, menyerah bukanlah bagian dari strategi—kecuali itu justru akan membangkitkan simpati.























