“Ya Allah. Percayalah. Kalo punya pilihan, mereka gak akan mau mempertaruhkan nyawa nyeberang lautan trus jadi pengungsi ke negara kalian ini! Biadab kalian! 😡🤬,” tulis akun yang lain.
Jakarta – Fusilatnews – Tindakan mahasisw Aceh yang melakukan pengusiran terhadap pengungsi Rohingya yang terdiri dari kaum perempuan dan anak-anak tak berdaya memicu kecaman dari masyarakat Indonesia terutaama dari kalangan netizen.
Dalam video yang beredar tampak para pengungsi yang ketakukan. Suara tangis dan jeritan dari pengungsi terdengar dan meminta agar para mahasiswa tidak melakukan aksi beringas.
Mahasiswa yang mengenakan almamater berwarna hijau datang dengan berkerumun ke Balai Meuseraya Aceh (BMA). Para mahasiswa itu terlihat emosional.
Pada video yang lain tampak sejumlah pengungsi Rohing yang sedang shalat. Tidak tahu siap yang memprovokasi mereka hingga bertindak semacam itu. Para warganet mengecam tindakan yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Aceh tersebut.
“Mahasiswa di Banda Aceh memaksa membubarkan pengungsi Rohingya yg kebanyakan perempuan & anak-anak. Sampai ketakutan. Barbar! Apa bedanya kalian dg kelompok beringas tak berpendidikan? Almamater kalian itu simbol pendidikan tinggi. Tapi mental kalian biadab,” kicau akun Herri Cahyadi.
“Ya Allah. Percayalah. Kalo punya pilihan, mereka gak akan mau mempertaruhkan nyawa nyeberang lautan trus jadi pengungsi ke negara kalian ini! Biadab kalian! 😡🤬,” tulis akun yang lain.
Pemerintah sedang menghadapi krisis pengungsi baru setelah kedatangan tiga perahu dalam beberapa hari yang membawa hampir 600 orang Rohingya.
Masyarakat Aceh sebelumnya telah menerima pengungsi, yang ditempatkan di kamp sementara sebelum mereka biasanya dipindahkan ke daerah lain di Indonesia, namun ketegangan meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak warga Rohingya yang datang.
Azharul Husna, koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) di Aceh, mengatakan bahwa di wilayah tersebut telah terjadi sekitar 30 kedatangan perahu antara tahun 2009 dan 2023, namun frekuensinya meningkat sejak kudeta militer pada Februari 2021 di Myanmar.
“Sebelumnya, kami hanya melihat satu kedatangan dalam setahun, atau dua kedatangan dalam setahun, namun sekarang kami melihat empat atau lima kapal datang setiap tahunnya,” katanya






















