Wi, kau tentu masih ingat — dulu, di awal kekuasaanmu, rakyat memandangmu dengan rasa percaya yang begitu polos. Mereka kira kesederhanaan adalah tanda kesucian niat. Mereka pikir baju kotak-kotak dan gaya blusukanmu adalah lambang empati, bukan strategi. Mereka salah, Wi. Seperti anak kecil yang terpesona oleh ilusi kembang api: indah, tapi cepat padam dan menyisakan asap.
Kini, setelah dua periode penuh janji yang tak menetas, rakyat menatapmu dengan pandangan yang berbeda: dingin, getir, dan mungkin sedikit jijik. Mereka mulai sadar, bahwa di balik tutur halus dan senyum rapi itu, tersimpan naluri yang sama dengan para pendahulumu — bahkan lebih licik, karena kau melakukannya dengan wajah tanpa dosa.
Kau sering bicara tentang kerja. Kerja, kerja, kerja, katamu — seolah dunia hanya butuh keringat tanpa pikiran. Tapi lihatlah hasilnya, Wi. Negeri ini kini dipenuhi monumen narsistik: jalan tol yang dibangun bukan untuk rakyat, melainkan untuk korporasi; ibu kota baru yang jadi cermin ambisi, bukan simbol peradaban. Dan semua itu, dibungkus dengan kata “kemajuan”.
Kau kira rakyat tak paham? Bahwa mereka akan terus memuja pembangunan fisik, sementara yang runtuh adalah akal sehat, hukum, dan moralitas? Kau lupa, Wi, bahwa setiap tindakan politik adalah investasi karma. Dan karma, sayangnya, kini tak menunggu lama untuk menagih.
Lihatlah: anak-anakmu kini menanggung beban yang seharusnya tak mereka pikul. Nama baik yang dulu kau bangun dengan keringat pencitraan, berubah jadi beban sejarah. Setiap langkah mereka kini dibayangi pertanyaan: “Apakah mereka naik karena kemampuan, atau karena darah?” Kau telah menciptakan dinasti, Wi — bukan untuk menyejahterakan, melainkan untuk menutup jejak kekuasaanmu sendiri.
Dan seperti hukum alam yang tak pernah salah, setiap kezaliman, sekecil apapun, akan menagih balasannya. Ia datang bukan lewat tangan lawan politik, tapi lewat tangan waktu. Ia tak perlu marah; cukup tenang menunggu saatnya. Dan kini, waktu itu datang: kepercayaan publik menguap, loyalitas politik mencair, dan narasi yang dulu megah kini terdengar seperti parodi murahan.
Karma itu dibayar tunai, Wi. Ia tidak menunggu generasi berikutnya. Ia datang saat kau masih duduk di kursi yang dulu kau impikan, kini jadi kursi panas yang membakar punggungmu sendiri.
Kau mungkin masih bisa memaksa orang diam. Tapi sejarah, Wi, tak bisa dibungkam. Ia menulis dengan tinta pahit: bahwa seorang pemimpin yang datang dengan janji perubahan, akhirnya menjadi lambang dari apa yang dulu ia lawan.
Dan mungkin, Wi, inilah pelajaran terakhir yang bisa kau berikan kepada bangsa ini — bukan tentang kerja, bukan tentang infrastruktur, tapi tentang kesombongan yang selalu berakhir dengan kehancuran.
























