Jakarta – Ada tiga misteri hidup yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Yakni: ajal, rezeki dan jodoh.
Lantas, bagaimana dengan jodoh Willy Abdullah Fujiwara (80) yang sempat mengalami apa yang oleh Sigmund Freud disebut sebagai “split of personality” itu?
Cara Allah mempertemukan Willy dengan jodohnya juga unik, sebagaimana Allah mempertemukan Willy dengan ayah kandungnya, Asajiro Fujiwara di Jepang tahun 1971.
Alkisah, saat Willy pulang ke kampung halamannya di Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, untuk menengok ibunya, Ny Hj Dasima Mokodongan, banyak keluarga yang berupaya menjodohkan Willy dengan gadis-gadis pilihan mereka. Termasuk Letkol Pol Sanusi Mokodongan yang kelak menjadi ayah mertuanya. Saat itu Sanusi adalah oditur sekaligus Komandan Provost Sulawesi Utara dan Tengah. 
Sedikitnya ada enam gadis yang disodorkan kepada Willy untuk dipilih salah satunya. Termasuk keponakan Letkol Sanusi, yang saat itu calon dokter.
Namun, dari enam gadis yang disodorkan itu, setelah dilakukan pendekatan personal, ternyata belum ada yang menyangkut di hatinya.
Letkol Sanusi kemudian menyarankan Willy agar memilih keponakannya yang calon dokter itu. Sanusi memberi garansi bahwa keponakannya itu merupakan gadis yang baik dan penurut, serta tidak ada pemuda-pemuda yang berani mengganggu dia, dan dia juga sedang praktik ko-asisten untuk menyelesaikan gelar dokternya.
Willy pun minta waktu untuk pulang dan berunding dengan orang tuanya. Nah, saat Willy menuju rumah Letkol Sanusi untuk pamitan pulang kampung, di jalan dia berpapasan dengan seorang gadis yang ternyata putri sulung dari Letkol Sanusi yang bernama Nancy.
Willy pun bertanya kepada Nancy apakah bapak dan ibunya ada di rumah, dan dijawab Nancy sedang keluar. Akhirnya Willy titip pesan kepada Nancy untuk disampaikan ke orang tuanya bahwa dia pamit pulang kampung untuk merundingkan soal keponakan Sanusi itu dengan keluarganya.
Willy pun tertegun melihat senyum manis gadis itu, dan entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdebar-debar. Sejak itu, wajah gadis twrsebut tak pernah lepas dari ingatannya.
Sampai di Kotamobagu, pikiran Willy berubah. Semula dia mau menyampaikan ke orang tuanya ihwal keponakan Letkol Sanusi, ternyata yang disampaikan justru Nancy yang telah memikat hatinya. Willy sekaligus minta restu untuk melamar Nancy.
Orangtua dan keluarga Willy pun kaget dan menyerah, karena dalam pandangan mereka mustahil. Pertama, karena Nancy anak seorang pejabat. Kedua, Nancy merupakan anak perempuan pertama dan usianya pun baru 16 tahun dan masih sekolah SMP.
Pendek kata, orangtua Willy tak berani melamar Nancy. Orangtua kemudian menyerahkan urusan Nancy kepada Willy, terserah saja kalau memang Willy berani. Willy kemudian bilang cukup minta doa dan restu saja, dan akhirnya pihak keluarga merestui.
Willy kemudian kembali ke Manado dan menginap di rumah saudaranya di dekat Pantai Karangria. Begitu sampai di sana, sopir Letkol Sanusi menjemput Willy.
Setelah bertemu, Willy diajak jalan-jalan Letkol Sanusi dan mampir di sebuah kafe. Nah, di kafe itulah Sanusi minta jawaban Willy perihal perjodohan dengan keponakannya yang calon dokter itu.
Willy pun mengaku bingung. Sebab di kampung pun keluarganya menyodorkan calon-calon lainnya, dan kalau dihitung-hitung ada enam gadis yang disodorkan, termasuk keponakan Sanusi itu.
Willy juga berkata, di Jakarta pun ada gadis yang menunggu dia, yakni seorang pramugari Garuda. Sebab itu, Willy menyampaikan kepada Sanusi mau cepat-cepat ke Jakarta saja, apalagi ada telegram dari kantornya supaya segera kembali ke Jakarta.
Willy lalu bilang ke Sanusi, dia mau calon istri yang dekat-dekat saja yang kemudian dijawab Sanusi, ya sudah keponakan dia saja.
Willy kemudian berkata jujur, yang dia maksud yang dekat-dekat saja itu Nancy, anak Sanusi sendiri.
Betapa kagetnya Sanusi. Ia tak menyangka ada pemuda seberani Willy. Dengan nada setengah membentak, Sanusi bertanya: apa kamu bilang? Apa ucapanmu itu benar?
Willy dengan tegas menjawab. Cukup jawab ya atau tidak. Saya mau didik Nancy, kalau boleh.
Sanusi pun teringat cerita istrinya bahwa Nancy pernah bilang, kalau yang lain tidak mau, dia pun mau dengan Willy. Hal inilah yang kata Sanusi kepada Willy akan ditanyakan kepada istrinya, benar atau tidak.
Sanusi kemudian mempersilakan Willy pulang ke Kotamobagu.
Kalau keesokan harinya sebelum jam 8 pagi Sanusi datang, berarti pinangan Willy itu ditolak.
Tapi sebaliknya, jika jam 8 pagi itu Sanusi tidak datang, berarti pinangannya diterima, dan Willy supaya langsung pulang ke Kotamobagu untuk merundingkannya dengan orangtua.
Setelah lewat jam 8 pagi Sanusi tidak datang, maka Willy langsung mengemas barang-barangnya dan pergi ke terminal bus Manado untuk kembali ke Kotamobagu.
Sesampai di Kotamobagu, ibunda Willy bilang bahwa 30 menit yang lalu ada mobil Hartop Provost lewat, mungkin itu mobil Pak Sanusi.
Selang satu jam kemudian, datanglah ke rumah Willy seorang kepala desa setempat untuk menjemput Willy yang diminta bertemu dengan Sanusi di kebun cengkehnya, tak jauh dari rumah Willy.
Ketika bertemu Sanusi, Willy diminta menunggu terlebih dulu karena Sanusi mau bicara dengan sang kepala desa. Sesudahnya, baru Willy diminta bergabung. Dalam pembicaraan mereka, Sanusi menyampaiakan bahwa pinangan Willy itu sudan disampaikan kepada istrinya yang ternyata setuju. Sanusi pun bilang sudah mengecek ke istrinya, apakah benar Nancy pernah bilang bahwa jika gadis-gadis lain tak mau, maka dirinya mau dengan Willy. Saat dikonfirmasi kepada Nancy, gadis ini diam yang berarti mau.
Setelah itu, Sanusi pergi ke saudara tertuanya di Poigar untuk menyampaikan kabar bahwa Nancy telah dilamar Willy dan mereka pun setuju.
Sanusi berlanjut menemui nenek Suk di Desa Pasi untuk menyampiakan hal yang sama. Begitu mendengar kabar itu, Nenek Suk terkejut dan mencak-mencak serta balik bertanya, apakah Sanusi tidak bisa menyekolahkan anaknya, dan lagi pula Nancy anak pertama dan sekolahnya baru SMP pula.
Kemudian si nenek bertanya. Memangnya siapa laki-laki yang melamar Nancy? Begitu dijawab Sanusi bahwa yang melamar Nancy adalah Willy, anak Ny Hj Dasima dengan orang Jepang, saat itu juga sang nenek langsung setuju.
Setelah itu, Willy dipanggil khusus untuk berbicara dengan Sanusi dan kepala desa. Sanusi menyampaikan bahwa lamaran Willy sudah disetujui. Artinya, tinggal menentukan tanggal dan menghitung biaya pernikahan.
Sanusi bertanya: apakah Willy sudah siap? Willy dengan tegas menjawab: siap!
Mereka kemudian memutuskan untuk menyewa gedung
Lupa Lelah Club (LLC) di Kota Manado, Sulawesi Utara, sebagai lokasi resepsi pernikahan Willy-Nancy.
Mereka tinggal terima jadi karena semua urusan pernikahan dan resepsinya sudah ditangani panitia dari ibu-ibu Bhayangkari, dan katering pun sudah ditangani pihak LLC. Mempelai dan keluarganya serta para tamu tinggal datang saja.
Hari bahagia itu pun tiba. Willy-Nanci menikah pada 1 April 1979 dan resepsinya pun berjalan lancar dan sukses. Ibarat telur menetas. Pesta pernikahan Willy-Nancy bahkan merupakan yang pertama diselenggarakan di gedung di Kota Manado, karena sebelumnya pesta pernikahan selalu digelar di rumah-rumah mempelai.
Pesta pernikahan Willy-Nancy digelar meriah. Maklum, Nancy berasal dari keluarga terpandang. Sejumlah pejabat penting provinsi hadir dalam pesta pernikahan itu. Termasuk Kapolda Sulut dan pejabat-pejabat teras Provinsi Sulut.
Usai resepsi pernikahan, Willy-Nancy pergi ke Kotamobagu untuk acara penerimaan adat sekalian pamit ke orangtua. Seminggu kemudian, Nancy dibawa Willy ke Jakarta. (Bersambung)























