Oleh: Damai Hari Lubis
Jika langit punya selera humor, barangkali saat ini ia sedang tertawa terbahak sambil melempar petir ke arah bumi. Betapa tidak, sejarah yang katanya berputar itu kini seperti sedang mabuk lintas waktu: warga Israel, yang dulu kabur dari Mesir bersama Musa, kini justru melarikan diri ke… Mesir! Iya, Mesir, tanah Firaun, tempat mereka dulu meratap-minta-dibebaskan, sekarang malah jadi tempat berlindung. Apakah ini namanya sejarah berbalik atau sejarah sedang nge-prank?
Kita tahu, Yahudi dulu ngotot minta jalan keluar dari Mesir. Laut Merah dibelah, kaki basah dijemur di padang gurun, dan Musa dibikin pusing tujuh keliling oleh kaum yang doyan mengeluh itu. Tapi sekarang, giliran Palestina menggeliat—yang keluar justru Israel, dan yang dituju? Negeri yang dulu disebut-sebut simbol penindasan.
Apa ini? Karma? Atau rotasi zaman yang pakai Google Maps dengan mode satire?
Jangan-jangan ini jawaban langit atas arogansi sejarah. Dulu mereka menyeberang keluar dari perbudakan, sekarang malah berbondong masuk ke ‘bekas kandang Firaun’ demi menyelamatkan leher dari ketegangan geopolitik yang mereka ciptakan sendiri. Hukum tabur tuai ternyata tak perlu pengadilan, cukup tunggu rotasi waktu. Sejarah memang tidak pernah lupa—ia hanya sabar, duduk di bangku paling depan sambil mencatat siapa yang dulu jadi penindas, siapa yang nanti bakal menunduk.
Bayangkan, anak cucu Yahudi yang dulu diajari membenci Firaun, sekarang mungkin akan sekolah di Kairo dan berteman dengan keturunan orang-orang Mesir yang dulu disebut ‘penindas’. Dunia memang lucu, dan Tuhan? Tampaknya sedang sangat sarkastik.
Maka, jika Musa masih hidup hari ini, barangkali ia akan berdiri di perbatasan Mesir sambil berkata:
“Wahai kaumku… kan kubilang apa?!”
Oleh: Damai Hari Lubis
























