Fusilatnews – Mereka pergi. Berbondong-bondong. Mengantre di bandara, dengan wajah pucat yang tak bisa lagi membedakan antara panik dan pasrah. Roket-roket dari langit menyisir tanah yang mereka klaim sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan. Tapi barangkali, mereka bukan pergi. Mereka sedang kembali.
Kembali ke tempat di mana nama belakang mereka bisa diucapkan tanpa gemetar. Kembali ke kota-kota tua di Eropa yang pernah mereka tinggalkan karena luka yang terlalu lama. Ke Vilnius. Ke Odessa. Ke Frankfurt. Ke New York. Ke mana saja—asal jauh dari sirene dan api.
Ironi itu terasa getir. Dulu mereka datang—dengan semangat, dengan ideologi, dengan janji. Zionisme tidak lahir di Palestina, tetapi di Wina, di Basel, dan di seminar-seminar filsafat yang menggigil karena anti-semitisme. Mereka datang bukan dengan tangan kosong, tapi membawa klaim sejarah. Bahwa tanah ini milik mereka. Bahwa Yerusalem harus ditebus, bukan dirundingkan.
Dan Palestina, dengan dusun-dusunnya yang sederhana, dengan pohon zaitunnya yang tua, menjadi catatan kaki dalam sejarah besar itu.
Kini, sejarah menulis ulang dirinya. Para imigran yang dulu datang, hari ini disebut pengungsi. Mereka yang mengambil rumah, kini tak punya rumah. Mereka yang membentangkan peta dan mengganti nama desa, kini tersesat di bandara-bandara asing, berharap sebuah visa, atau setidaknya simpati.
Tapi dunia berubah. Ia tidak selalu ingat, tapi sesekali punya ingatan.
Ketika warga Gaza dikurung dan dibakar, langit diplomasi dunia gelap. Ketika kamp pengungsi Palestina bertahan selama tujuh dekade, tak banyak negara membuka pintu. Kini, giliran pesawat dari Tel Aviv yang mendarat dan ditolak. Dunia tak selalu adil, tapi kadang keadilan punya cara yang sunyi untuk hadir.
Apakah ini karma? Mungkin bukan. Sejarah terlalu kompleks untuk dibaca sebagai hukum sebab-akibat yang sederhana. Tapi sejarah punya gema. Dan gema itu kadang terdengar seperti tanya yang tak selesai: Siapa yang benar-benar punya rumah di tanah ini?
Di masa depan, anak-anak akan membaca kisah ini tanpa kepastian siapa yang pahlawan, siapa yang penjarah. Mungkin mereka hanya akan mengenang bahwa pernah ada bangsa yang pergi karena datang.
Dan ketika itu terjadi, kebenaran tak selalu akan berpihak pada yang kuat. Kadang ia hanya muncul dalam bisik kecil: bahwa pulang tak selalu berarti kembali, dan pergi tak selalu berarti kehilangan.
Seperti yang pernah ditulis oleh Simone Weil, filsuf Prancis yang mengerti makna terusir tanpa kehilangan martabat:
“To be rooted is perhaps the most important and least recognized human soul need.”
Dan barangkali itulah tragedi paling dalam dari seluruh perang ini: mereka yang datang ke tanah yang bukan miliknya, mengira telah berakar—padahal hanya berteduh sementara, di tanah yang menolak melupakan.
Ingin ditambahkan visual ilustrasi atau subjudul untuk tiap bagian bila dimuat sebagai feature media?


























