Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Sedikitnya ada 3 jalur utama menuju episentrum kekuasaan. Yakni, jalur prestasi, jalur partai politik dan jalur relawan.
Jalur pertama adalah cara menggapai kekuasaan dengan berprestasi (biasanya dilengkapi dengan integritas). Merekalah para profesional yang Sekarang ini duduk di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto. Contohnya Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Sri Mulyani profesional, terutama dalam mengajukan utang ke negara-negara asing, sehingga terus dipakai oleh Joko Widodo dan Prabowo, karena kedua Presiden ini memang hobi utang.
Jalur kedua adalah cara menggapai kekuasaan melalui parpol. Merekalah para politikus dan ketua umum parpol yang kini duduk di Kabinet Merah Putih.
Contohnya Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan yang kini menjadi Menteri Koordinator Pangan.
Pun, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar yang kini menjadi Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.
Lewat jalur parpol, bodoh pun tak apa-apa. Tak berintegritas pun tak apa-apa. Yang penting parpolnya mendukung pemerintah.
Jika ada dua sosok dengan kapasitas dan integritas sama, yang satu dari parpol dan yang lain non-parpol, Presiden tentu akan memilih yang dari parpol. Sebab kaki-kakinya dibutuhkan di parlemen.
Bahlil mungkin punya kapasitas. Tapi jelas tak punya integritas. Buktinya gelar doktornya dari Universitas Indonesia (UI) bermasalah.
Muhaimin mungkin berkapasitas. Tapi integritasnya patut dipertanyakan. Muhaimin pernah tersangkut kasus “kardus durian”.
Jalur ketiga adalah cara menggapai kekuasaan dengan menjadi relawan pendukung calon presiden. Jika capres yang didukungnya terpilih, maka mereka akan mendapatkan jabatan, baik menteri di kabinet atau pun komisaris di BUMN.
Bodoh pun tak masalah. Tak berintegritas juga tak masalah. Yang penting mereka bisa menjilat yang didukungnya semeleleh-melelehnya.
Contohnya Budi Arie Setiadi yang di era Jokowi menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika, dan di Prabowo menjadi Menteri Koperasi. Budi Ari adalah Ketua Umum ProJo (Pro-Jokowi).
Pun, Immanuel Ebenezer alias Noel yang saat ini menjadi Wakil Menteri Ketenagakerjaan di Kabinet Merah Putih Prabowo. Noel adalah Ketua Umum Jokowi Mania di Pemilihan Presiden 2019, dan kemudian bermetamorfosis menjadi Ketua Umum Prabowo Mania 08 di Pilpres 2024.
Budi tidak berkapasitas. Juga tak berintegritas. Buktinya, namanya terseret-seret dalam kasus perlindungan situs judi online.
Noel juga tidak berkapasitas dan berintegritas. Buktinya, ia ditangkap KPK dalam kasus pemerasan terhadap perusahaan-perusahaan terkait pengurusan sertifikasi K3 (kesehatan dan keselamatan kerja).
Budi dan Noel rajin menjilat. Keduanya selalu pasang badan jika ada pihak yang menyerang Jokowi maupun Prabowo secara politik.
Karena mereka tak punya modal kaki-kaki di parpol maupun kapasitas dan integritas.
Relawan lain yang tidak berkapasitas dan berintegritas tapi rajin menjilat Jokowi dan Prabowo adalah Silfester Matutina, Ketua Solidaritas Merah Putih (Solmet).
Buktinya, Silfester dihukum 1 tahun penjara dalam kasus fitnah dan pencemaran nama baik mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Meskipun sudah divonis sejak 2019 lalu, namun hingga kini Komisaris BUMN itu masih bebas berkeliaran.
Semoga Budi Arie, Noel dan Silfester hanya oknum-oknum dari organ-organ relawan yang ada. Sebab kita yaki banyak relawan yang masih punya integritas. Mungkin justru karena punya integritas itulah mereka tak lihai menjilat, sehingga sulit masuk ke dalam episentrum kekuasaan. Itulah!


























