• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PAJAK DAN KEPERCAYAAN

fusilatnews by fusilatnews
August 23, 2025
in Feature
0
KPU Membebani Rakyat
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro
Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Di Pati, Bone, dan Cirebon, rakyat turun ke jalan hanya karena satu hal: pajak. Mereka bukan menolak negara, melainkan menolak merasa ditipu. Kenaikan PBB memang jadi pemantik, tapi bara sebenarnya ada di tempat lain: defisit kepercayaan. Lebih dari dua dekade setelah ReformKSEKUTIF asi, tax ratio Indonesia tetap mandek di angka 10–11 persen PDB. Pertanyaannya: apakah rakyat yang keras kepala, atau negara yang kehilangan legitimasi?

Gelombang protes ini menyingkap kenyataan yang lebih dalam: bahwa pajak di Indonesia telah berubah dari simbol kontrak sosial menjadi sumber kecurigaan. Setiap kali pemerintah berusaha memperlebar penerimaan—entah dengan menaikkan tarif, memperkenalkan pajak baru, atau sekadar mengoptimalkan pungutan yang ada—resonansinya bukan dukungan, melainkan perlawanan. Dari jalan-jalan desa hingga ruang-ruang diskusi kota, nada yang terdengar serupa: rakyat merasa tidak diwakili, tidak dilayani, dan akhirnya tidak percaya.

Maka pertanyaan yang muncul tak bisa dielakkan: mengapa rakyat tampak enggan menambah kontribusi pajaknya? Mengapa setiap rencana menaikkan tarif atau menetapkan pajak baru selalu menimbulkan resistensi? Apakah rakyat sungguh tidak peduli bahwa negara sedang kesulitan? Jawabannya lebih dalam: bukan karena rakyat tak peduli, melainkan karena rakyat tidak percaya.

Defisit Kepercayaan: Inti Masalah Pajak

Dalam teori keuangan publik, pajak bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan kontrak sosial antara negara dan warganya. Negara berhak menarik sebagian pendapatan rakyat, namun harus menjamin bahwa kontribusi itu kembali dalam bentuk pelayanan dan perlindungan.

Masalahnya, di Indonesia kontrak sosial ini sering dikhianati. Kasus korupsi berjamaah, pejabat memamerkan gaya hidup mewah, hingga anggaran negara yang bocor dan salah kelola, semua itu membunuh kepercayaan. Masyarakat bertanya-tanya: “Untuk apa membayar pajak lebih banyak, bila akhirnya dikorupsi atau dipakai membiayai proyek yang tidak berguna?”

Defisit kepercayaan (trust deficit) inilah yang membuat setiap upaya fiskal menghadapi tembok resistensi.
Contohnya: ketika pemerintah hendak menaikkan PPN dari 10% ke 12%, publik menolak karena menganggap beban jatuh ke rakyat kecil, sementara oligarki bisa menghindar lewat celah hukum. Wacana pajak karbon dan PPN sembako pun ditolak keras, bukan karena masyarakat anti lingkungan atau anti negara, tetapi karena mereka tidak yakin hasil pajak akan digunakan untuk kepentingan bersama.

Kontras dengan Skandinavia

Bandingkan dengan negara-negara Skandinavia—Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia—yang tax ratio-nya mencapai 40–45% PDB, hampir empat kali lipat Indonesia. Di sana, rakyat rela menyerahkan hampir setengah pendapatannya kepada negara, dan tidak ada gejolak besar.

Mengapa? Karena mereka percaya. Kita melihat 4 faktor yang membentuk kepercayaan itu. Pertama, kepercayaan yang tinggi terhadap institusi. Rakyat yakin pajak kembali dalam bentuk pendidikan gratis, layanan kesehatan universal, transportasi publik murah, dan jaminan sosial yang nyata. Kedua, distribusi adil. Pajak progresif berjalan efektif; yang kaya membayar proporsi lebih besar, sehingga yang miskin merasa dilindungi, bukan diperas. Ketiga, institusi bersih. Tingkat korupsi rendah, transparansi anggaran terjaga, dan pejabat publik hidup sederhana. Dan, last but not least, kontrak sosial ditegakkan. Masyarakat melihat bukti nyata bahwa negara bekerja untuk kepentingan bersama. Para pejabatnya tidak meminta keistimewaan buat diri dan keluarga, apalagi membangun dinasti.

Dengan demikian, pajak bukan dilihat sebagai beban, melainkan sebagai investasi kolektif untuk kesejahteraan.

Pelajaran dari Jepang dan Amerika

Sekarang coba kita membandingkan dengan Jepang dan Amerika Serikat—dua negara dengan beban utang sangat tinggi. Jepang memiliki utang lebih dari 260% PDB, AS sekitar 123% PDB. Namun keduanya masih dianggap aman oleh pasar global.

Mengapa? Salah satunya karena kapasitas fiskal mereka jauh lebih besar daripada Indonesia. Tax ratio Jepang mencapai 30% PDB, AS sekitar 27%. Itu berarti setiap kenaikan beban bunga utang masih bisa ditutup dengan penerimaan negara yang luas.

Indonesia? Dengan tax ratio hanya 10–11% PDB, setiap lonjakan suku bunga global atau depresiasi rupiah langsung menggerus APBN. Saat ini bunga utang kita sudah sekitar Rp 500 triliun per tahun, atau 16,6% dari penerimaan negara—mendekati batas rawan. Jika tax ratio tidak segera naik, ruang fiskal akan makin sempit.

Namun, mengapa rakyat menolak pajak? Rakyat pada dasarnya patuh, mereka bersedia membayar pajak bila beban hidup ringan. Padahal sebagian besar masyarakat masih bergelut dengan kebutuhan dasar. Tambahan pajak langsung terasa mengurangi daya beli. Kedua, rakyat tidak melihat manfaatnya. Mereka tidak merasakan pajak kembali dalam bentuk pelayanan publik yang nyata. Mereka tetap menghadapi biaya sekolah yang mahal, rumah sakit terbatas, jalan rusak. Pajak terasa hilang tanpa bekas. Lebih dari itu rakyat merasa pajak tidak didistribusikan secara adil. Rakyat kecil merasa lebih mudah dipajaki (lewat PPN, cukai), sementara konglomerat, pejabat, atau korporasi multinasional punya banyak cara untuk menghindar.

Dengan kondisi seperti ini, resistensi bukan soal tidak peduli negara, melainkan soal tidak percaya negara.

&Bangun Kepercayaan, Bukan Hanya Naikkan Tarif

Menaikkan tarif PPN, menambah pajak karbon, atau memperluas objek pajak memang bisa memberi penerimaan tambahan dalam jangka pendek. Namun tanpa membangun kepercayaan, itu ibarat menimba air dengan ember bocor.

Apa yang harus dilakukan? Jawaban normatifnya adalah memperluas basis pajak bukan hanya menaikkan tarif. Agar wajib pajak menengah-atas dan korporasi lebih patuh, data kependudukan perlu diintegrasikan dengan transaksi keuangan dan aset. Pajak regresif yang menekan rakyat kecil dikurangi. Selanjutnya, tata kelola dan transparansi diperbaiki. Realisasi pajak dan belanja negara dilaporkan secara jelas dan mudah diakses publik. Rakyat harus melihat hubungan langsung antara pajak yang dibayar dan manfaat yang diterima. Ketiga, jauhkan pemberantasan korupsi dari sekadar omon-omon. Sudah saatnya pemerintah menerapkan hukuman mati kepada koruptor. Kadang-kadang kita harus berani melakukan shock therapy kepada diri sendiri. Menghukum mati satu orang dapat membangunkan semangat jutaan orang untuk membayar pajak. Dan terakhir, sediakan pelayanan publik yang terasa oleh rakyat. Pendidikan gratis berkualitas, kesehatan yang merata, dan infrastruktur dasar yang memadai. Begitu rakyat merasakan manfaat konkret, resistensi akan berkurang.

Kesimpulan

Tax ratio Indonesia rendah bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah kepercayaan. Selama rakyat tidak yakin bahwa uang pajak dikelola dengan adil dan efisien, setiap kebijakan fiskal baru akan selalu ditolak.
Sebaliknya, begitu trust tumbuh, bahkan tarif tinggi pun bisa diterima—seperti di Skandinavia. Pajak yang hari ini dilihat sebagai beban, bisa berubah menjadi investasi sosial yang memperkuat kohesi nasional.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya pajak, tapi kekurangan legitimasi untuk memungutnya. Oleh karena itu, jalan keluar bukan semata menaikkan tarif, melainkan membangun kembali kontrak sosial yang hilang.===

Cimahi, 23 Agustus 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

3 Jalur Gapai Kekuasaan: Relawan Modal Menjilat!

Next Post

“Desa Maling” di Pamekasan Miniatur Indonesia

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Feature

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup
Crime

Paradoks MOTAH 65: Ketika Pemerintah Takut Asap Kebakaran, tetapi Membangun Mesin Pembakar Sampah

July 16, 2026
Feature

Sapu yang Bersih Integritas adalah Amanah (Pelajaran Al-Qur’an dan Hadits tentang Penegakan Hukum)

July 16, 2026
Next Post
Ada “Dewan Kolonel” di PDIP

"Desa Maling" di Pamekasan Miniatur Indonesia

Minta Amnesti Prabowo, Noel Malah Dipecat, Nah Loh!

Minta Amnesti Prabowo, Noel Malah Dipecat, Nah Loh!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI yang Rusak Criminal Justice System

July 16, 2026
Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup

Paradoks MOTAH 65: Ketika Pemerintah Takut Asap Kebakaran, tetapi Membangun Mesin Pembakar Sampah

July 16, 2026
Kejagung Hina Publik, KPK Harus Ambil Alih Kasus Mantan Jampidsus

Kejagung Hina Publik, KPK Harus Ambil Alih Kasus Mantan Jampidsus

July 16, 2026

Sapu yang Bersih Integritas adalah Amanah (Pelajaran Al-Qur’an dan Hadits tentang Penegakan Hukum)

July 16, 2026
Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

July 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI yang Rusak Criminal Justice System

July 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist